Home > Aceh > Kisah Sebuah Perjalanan

Kisah Sebuah Perjalanan

December 13th, 2007

20071210_rl_foto-serah-terima-budi-5-wordpress“Masih ingat dulu jaman-jaman semangat Joss1 waktu bangun rumah-rumah bantuan JRS.” Tutur Tgk Kamaruddin, salah satu pengajar di Pesantren Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI). Pesantren terbesar dan berpengaruh di wilayah pesisir Barat Nanggroe Aceh Darussalam.

Senin pagi (10/12) dibawah tenda terlapis arak-arak mendung berkumpulah 50-an orang di depan kantor pesantren BUDI, Lamno. Acaranya hanya satu. Serah terima bantuan rumah dan sarana umum lainnya dari JRS (Jesuit Refugee Service) kepada pihak pesantren BUDI2. Ramai orang terpekur dalam tenda bersaput puluhan kursi-kursi plastik tertata rapi.

Para petinggi Muspika Kecamatan Jaya didampingi Abah pesantren BUDI dan tokoh-tokoh dayah dari Meulaboh dan Meutara menempati deretan saf paling depan. Tgk Fauzi yang pada kesempatan itu berperan sebagai pembawa acara dengan lugas menyebutkan urutan acara serah terima hari itu. “Lon lake meu’ah hanjeut bahasa Indonesia.” 3 Segera pembacaan Al Quran membuka rangkaian upacara sederhana itu dengan untaian ayat-ayat Allah dari Surah Al-Baqarah. Setelah kumandang tilawah lenyap dari pendengaran, maka giliran kata-kata sambutan gilir menggilir mengalir dari balik mimbar. Di kesempatan pertama, Tgk Kamaruddin atau yang biasa di sapa Tengku Kamal mewakili pihak BUDI menyampaikan kesan-kesannya selama bekerjasama dengan JRS. Salah satu tokoh partai lokal di Aceh ini tersentuh dengan gotong royong yang dibangun antara JRS dan pihak pesantren dalam menghidupkan kembali pesantren yang sempat hancur lebur dihantam tsunami. ‘Semangat Joss‘ begitu tuturnya sambil merujuk pada satu produk minuman energi yang menemani hari-hari kerja keras membangun rumah di pesantren.

20071210_rl_foto-serah-terima-budi-wordpress“Pesantren BUDI sudah mulai pulih, sebagaimana yang terjadi pada saat sebelum tsunami. Dalam lomba baca kitab kuning 4 se Nanggroe Aceh Darussalam, pesantren BUDI masih nomer satu.” ungkapnya bangga. Memang salah satu santriwatinya berhasil menjadi juara 1 pada lomba baca kitab klasik yang menjadi bahan kajian pokok di pesantren-pesantren. Setelah Tgk Kamal, giliran Muspika Kecamatan Jaya yang kali ini diwakilkan Camat Kecamatan Jaya, Jaddal Husaini memberikan kata sambutan. Camat Husaini meminta kepada pihak pesantren untuk menjaga apa yang sudah diberikan oleh JRS, karena meskipun apa yang diberikan JRS baru rumah/asrama semi permanen tetapi sudah selayaknya warga pesantren BUDI berterimakasih karena masih banyak orang lain yang sampai saat ini bahkan belum memiliki tempat tinggal yang layak. Secara khusus Jaddal Husaini juga mengucapkan terimakasih kepada JRS atas keterlibatannya dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami di wilayah Kecamatan Jaya. Beliau meminta agar kerjasama yang sudah terbangun antara JRS, Muspika dan warga Kecamatan Jaya lainnya bisa terus dipertahankan dan tidak berakhir dengan diserah terimakannya bantuan JRS kepada pesantren BUDI. “Saya masih ingat bagaimana malam-malam kita harus menjemput lima truk tronton pengangkut material rumah yang tertahan di Pasi.” kenang Herlambang, Site Coordinator JRS Lamno. Henk, begitu biasa ia dipanggil berusaha meruntutkan sejarah dan membariskan titik-titik peristiwa pertemanannya dengan BUDI. Sesekali matanya berkaca-kaca mengenang momen-momen yang berserakan, mengiringi jejak langkah sebuah persahabatan. “Saya terus terang terkesan ketika para tengku dan santri bersemangat meratakan bukit yang sekarang menjadi tempat asrama putri berada. Bahkan juga ketika masyarakat sekitar dari Kemukiman Lambeso turut bergotong-royong bersama kami.”ungkapnya. “Ini menandakan bahwa pesantren BUDI adalah milik semua warga Lamno.” tambahnya lagi. “Para santri putri pun terlibat dengan menyiapkan makan siang bagi mereka yang gotong royong menyiapkan rumah. Semangat para santri putra yang sudah kendor langsung joss lagi begitu melihat santri putri datang membawa makan siang.” yang langsung disambut gelak tawa hadirin. Dengan gayanya yang khas, bapak sepasang putri kembar ini meminta agar pesantren BUDI tidak berhenti disini saja, tetapi mau terus mengembangkan diri. “Apa yang diberikan JRS hanya pancingan saja, supaya warga pesantren BUDI mau bangkit dari keterpurukan tsunami.”

Puncak acara di Senin pagi itu adalah upacara peusijeuk atau tepung tawar5. Peusijeuk dipusatkan di salah satu rumah santri putra. Sesepuh-sesepuh pesantren BUDI dan dayah Meutara memimpin upacara ini yang sebelumnya diawali pemotongan pita oleh Camat Jaya. Peusijeuk juga diberikan kepada staff JRS sebagai tanda takzim dari seorang sahabat yang menginginkan agar jalan lurus dan perjalanan yang menyenangkan dianugerahkan kepada mereka yang telah hadir dan mengambil bagian dalam noktah-noktah peziarahannya. Sayangnya, sebagai sebuah pesantren tradisional, santri perempuan sedikit dilibatkan dalam kegiatan ini. Mereka ‘hanya’ bertugas menyiapkan plik’u6 dan hidangan khas Aceh lainnya yang akan menemani santap siang para undangan. Tidak ada satu santri atau dewan pengajar perempuan yang hadir dalam rangkaian upacara serah terima pagi itu. Tetapi bagaimanapun taklim dan ucapan selamat patut diberikan kepada teman-teman JRS Lamno yang sudah membangun sebuah perjalanan persahabatan. We Shouldn’t say goodbye, but see you. See you in another journey, with it’s stories.

Catatan
Dayah Lain yang memiliki peran dalam perkembangan dayah-dayah pada masa-masa pasca kemerdekaan adalah dayah BUDI yang terdapat di daerah Lamno Aceh Barat dibawah pimpinan Tengku Ibrahim Ishak. Ia lebih dikenal dengan Abu BUDI Lamno yang merupakan murid dari Syekh Muhammad Waly Al-Khalidy juga. Tengku Haji Ibrahim Ishak dilahirkan di Lamno (sekarang Aceh Jaya) pada tahun 1936 M, ketika umurnya telah memasuki masa untuk menuntut ilmu, ia dimasukkan oleh orang tuanya ke Sekolah Rakyat (SR) dan tamat pada tahun 1949, selanjutnya ia belajar ke Labuhan Haji tepatnya di Dayah Darussalam Pimpinan Syekh Muda Waly Al-Khalidy hingga tahun 1955, kemudian melanjutkannya lagi di salah satu dayah Samalanga hingga tahun 1963. Setelah belajar di Samalanga, ia pergi ke Sumatera Barat untuk melanjutkan studinya hingga tahun 1966. Satu tahun kemudian, yaitu pada tahun 1967 ia pulang ke kampung halaman dan mendirikan sebuah lembaga Pendidikan yang diberi nama Dayah Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah7.
Ditulis oleh Paulus Enggal

melani Aceh

  1. December 13th, 2007 at 11:55 | #1

    Selamat atas diluncurkannya block ini semoga bisa diakses banyak orang.

  2. pak yoko
    December 21st, 2007 at 13:06 | #2

    aku bangga lho sama teman2 muda di jrs… semoga sehat dan selalu diberkati tuhan…bravo

  3. April 21st, 2008 at 20:51 | #3

    gimana kabarnya JRS Lamno….. masih inget ga ya ma sayah.. hihihiii…. jadi kangen lamno lagi!!!! viva JRS deh… salam buat mas herlambang, dudi sang juragan seng.. dari ditto si tukang bagi2in buku sekolah + anter jemput anak sekolah ke muruy… xixiixixixx

  1. No trackbacks yet.