Home > JRS > Peluncuran Film “Cerita Bencana”

Peluncuran Film “Cerita Bencana”

December 13th, 2007

Jakarta 4 Desember 2007, JRS bersama No strings, IDEP dan Trocaire mengadakan peluncuran film yang menggunakan serangkaian film yang di-design untuk pendidikan anak-anak tentang bencana alam dan pencegahan konflik. Ada empat film imajinasi dengan menggunakan boneka tangan yang dapat melibatkan anak-anak dan orang dewasa seperti dalam pelajaran visual tentang bagaimana sebaiknya menyelamatkan diri mereka ketika datang bencana alam (Tsunami, banjir dan tanah longsor, gunung meletus dan gempa bumi). Film yang kelima berbeda dari keempat film tersebut, film yang kelima ini mengajak untuk melihat permusuhan yang timbul dalam masyarakat karena datangnya orang baru dalam komunitas mereka yang menimbulkan gejolak. Dengan demikian, film ini dapat berfungsi sebagai alat untuk menyelamatkan hidup dan mencegah terjadinya pengungsian di generasi yang akan datang. Film-film tersebut telah dialih-bahasakan ke dalam 4 bahasa : inggris, indonesia, aceh, tetun (Timor Leste) dan tidak menutup kemungkinan untuk dialih-bahasakan ke bahasa daerah yang lain serta bahasa-bahasa yang ada di Asia Tenggara.

Film-film tersebut menggunakan boneka tangan, bukan sembarang boneka tetapi boneka yang mirip dengan boneka tangan yang digunakan pada Muppet show atau Sesame street; hal ini karena Kathy Mullen dan Michael Frith-keduanya adalah kreatornya sekarang bergabung di No Strings! Boneka tangan mempunyai kekuatan magis ketika anda melihatnya di film dan kenyataan. Mereka sangat interaktif, lucu, baik anak-anak maupun orang dewasa mudah mengingat apa yang mereka katakan.

Peluncuran ini mengundang anak-anak dari SD lokal yang diundang untuk menonton film tersebut bersama media massa. 2 film dipertontonkan. Film yang pertama tentang banjir dan tanah longsor yang cocok dengan kondisi Jakarta sekarang ini yang dikenal dengan banjir yang sering datang terutama bila hujan sangat lebat di malam hari dan adanya banjir kiriman. Film kedua adalah tentang pendidikan perdamaian dan akibat permusuhan dan rumor dalam masyarakat..

Film-film tersebut cukup pendek, kurang lebih 7 ½ menit dan anak-anak menonton tanpa suara. Film yang panjang dapat memecah perhatian anak dan pesan yang ingin disampaikan akan hilang. Kebenaran akan informasi yang disampaikan dalam film tersebut cukup penting bagi keberhasilannya sebagai media pendidikan. Maka pemutaran film diikuti dengan tanya jawab dengan bantuan boneka tangan yang ramah terhadap anak-anak serta menolong membantu mereka menjawab pertanyaan. Anak-anak tidak punya kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan setelah menonton film dan bisa memahami pesan yang terdapat dalam masing-masing film. Ada 3 bagian dalam penyampaian pesan 1) Bagaimana bencana datang 2) Apa yang harus dilakukan dalam keadaan emergensi dan 3) Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah bencana di kemudian hari. Ada pula beberapa pesan sekunder dalam film-film tersebut.

Anak-anak belajar misalnya untuk tidak membuang sampah di jalan karena bisa menghambat aliran saluran air sehingga menyebabkan banjir, penebangan pohon dapat menyebabkan tanah longsor, selain itu mereka juga belajar bahwa permusuhan terhadap pendatang baru dapat menyebabkan gejolak dalam masyarakat.

Bagian kedua dari penyampaian pesan juga secara jelas mengambil contoh bahwa masyarakat sebaiknya mengidentifikasi titik-titik untuk berkumpul di tempat yang lebih tinggi ketika ada tanda bahaya. Larilah ke titik-titik tersebut ketika ada banjir dan tanah longsor dan membunyikan tanda bahaya untuk mengingatkan warga yang lain sehingga mereka bisa lari ke tempat yang lebih tinggi dan pada titik-titik tempat bertemu.

Anak-anak dalam kegiatan di luar ruangan juga mempelajari kegiatan apa yang dapat mereka lakukan untuk mencegah banjir dan tanah longsor di kemudian hari seperti membersihkan sampah dan menanam pohon. Untuk menghindari gejolak di masyarakat karena datangnya orang baru dalam masyarakat, anak-anak diajak untuk menyambut dan mengajak orang yang baru tersebut untuk makan malam daripada mengucilkan mereka dan bergosip tentang perbedaan mereka.

Media massa pun mendapat bagian untuk menanyakan pertanyaan yang terfokus dan menampakkan minat mereka. Kegiatan ini kemudian diikuti dengan makan siang dan menjawab lebih banyak pertanyaan lagi!

Saat ini merupakan permulaan bagi film-film tersebut dengan awal yang positif dan kami berharap akhirnya film-film ini dapat ditonton oleh semua anak-anak Indonesia khususnya mereka yang rentan terhadap bencana alam maupun bencana buatan manusia.

Bulan Desember ini, tim pendidikan perdamaian JRS (Amsa, Entis dan Sukri) sedang berada di Aceh guna menyeleksi beberapa sekolah untuk menguji keberhasilan film-film tersebut, dengan menggunakan keahlian mereka dalam menggunakan boneka tangan dan mengembangkan tanya jawab. Hal ini bertujuan untuk memasukkan pendekatan ini dalam aktivitas JRS dalam pencegahan kepengungsian di tahun 2008 dan tahun-tahun berikutnya.

melani JRS

  1. vembri
    December 13th, 2007 at 11:50 | #1

    congratulations

  2. Rina
    December 13th, 2007 at 11:51 | #2

    filmnya lucu dan menarik lho..

  3. Philip
    December 13th, 2007 at 13:25 | #3

    Selamat!
    Trus kapan kita bikin film ke 6. 7. dan 8 ? :D

  4. hendro apollo
    December 17th, 2007 at 19:47 | #4

    mantaapp… !!! udah kita jalankan di tiga tempat di Kab ACeh Barat dan Kab. Nagan Raya. murid-murid antusias banget dan ramai. Selamat..!!

  5. elis
    December 28th, 2007 at 16:35 | #5

    lewat cara yang menarik, anak-anak diajak mengenal tentang bencana, pencegahan dan penanggulangannya.

  6. yopasahaya
    March 18th, 2008 at 13:21 | #6

    SALUT..!!!Filem nya bagus,
    Sederhana buangettt tapi ngena…

  1. No trackbacks yet.