Home > Aceh > Bendera Setengah Tiang dan Tiga Tahun Peringatan Tsunami

Bendera Setengah Tiang dan Tiga Tahun Peringatan Tsunami

December 27th, 2007

Peringatan 3Thn Tsunami(1)Rabu, 26 Desember 2007, seluruh penduduk kota Meulaboh, mengibarkan bendera setengah tiang, sebagai tanda peringatan duka bencana tsunami 3 tahun lalu. Makam massal korban tsunami, di Kampung Suak Indrapuri yang berada di pantai Ujung Kalak, maupun Makam Gunung Beureugang, Kecamatan Kaway XVI, 9 km dari kota, dikunjungi para keluarga korban tsunami. Mereka tundukkan kepala, siramkan air, dan berjongkok bacakan surat Yasin.

Seperti dilakukan Keluarga Besar Keturunan M Yunus dan M Zahra, warga Kampung Pasir, Meulaboh. Ada 7 orang anggota keluarga yang meninggal. “Entah anggota keluarga kami yang meninggal di kubur di sini atau Gunung Beureugang, atau entah di mana, yang penting kami kirim doa,” kata Hasby (38) yang ziarah ke Makam Suak Indrapuri bersama saudara iparnya yang datang dari Aceh, serta abang kandungnya, Mahli, warga Kampung Belakang. Sementara dari kalangan keturunan Tionghwa, membakar dupa dan bendera kertas warna merah ditancapkan di gundukan makam, mereka pun berdoa dengan cara Konghuchu ataupun Budha.

Upacara doa bersama di makam massal, dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat, Teungku H. Nasyir Wally, MA disertai para pejabat Muspida Aceh Barat. Rombongan MPU dan Muspida bersama warga Meulaboh mengadakan doa di makam Suak Indrapuri maupun Gunung Beureugang pada pagi hari. Setelah itu, diteruskan dengan doa dan kenduri bersama di Masjid Besar Kota Meulaboh, di Jln Imam Bonjol. Doa dan Kenduri di masjid itu juga dipimpin Teungku Nasyir Wally. Tepat jam 12.00, acara doa pun selesai, ribuan umat Islam keluar dari masjid.

Tahun ketiga peringatan bencana tsunami, tampaknya tidak diwarnai suasana haru seperti pada peringatan tahun pertama maupun kedua. Seiring berjalannya waktu, para keluarga korban tampaknya telah ikhlas akan bencana yang telah merenggut anggota keluarga mereka. Tak terlihat lagi peziarah yang menangis sambil membaca Surat Yasin, seperti tahun sebelumnya.

Sebagaimana diungkapkan Hasby dan saudaranya, peristiwa duka bencana tsunami telah menjadi takdir yang tidak bisa ditolak. Di wilayah Kabupaten Aceh Barat, tak kurang dari 14.000 warga menjadi korban tsunami, tersebar mulai dari Kecamatan Arongan Lambalek di perbatasan Aceh Jaya, lalu Samatiga, Johan Pahlawan (Meulaboh), Meurebo. Wilayah kecamatan tersebut merupakan daerah pinggir pantai yang berada di Jalur pantai Meulaboh-Banda Aceh. Sama seperti dirasakan seorang Ayah dan juga kakek, bernama Hasan Syam (55) alias Pak Nabun, seorang warga di Desa Alue Seupeng,Nagan Raya, yang kehilangan anak lelakinya, Serda Herman Felani, menantu serta seorang cucunya, yang tinggal di Banda Aceh. Pak Nabun yang rumahnya jauh di gunung, pun memperingati kematian anggota keluarganya itu dengan kenduri dan pembacaan tahlil di rumahnya. “Barangkali sudah menjadi suratan takdir anak saya, tidak meninggal di medan perang, namun berpulang bersama keluarganya saat tsunami, ini mungkin kehendak yang kuasa,” ujar Pak Nabun mengobati rasa dukanya.

Peringatan 3Thn Tsunami(2)Di beberapa desa juga mengadakan acara serupa, dengan kenduri dan tahlil di masjid ataupun ziarah ke kubur, seperti diceritakan Tapun, warga Kelurahan Suak Indrapuri, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh. “Doa kami kelihatan sangat khusyuk, karena semua warga adalah korban tsunami dan hampir semua kehilangan sanak saudara, entah satu atau bahkan ada yang menjadi yatim piatu,” kata Bang Tapun, yang kehilangan ayah, istri, serta anaknya yang masih dua tahun.

Sementara itu, warga Kuala Tuha, Kecamatan Kuala, pada malam Rabu kemarin,mengadakan doa dan tahlil, sedang siangnya baru bersama-sama pergi ke kuburan. Ada gundukan makam yang panjangnya mencapai lima meter, yang konon sejumlah warga yang menjadi korban tusnami di desa itu dikuburkan secara bersama-sama. Sebelum ke makam, mereka kenduri bersama, tampak beberapa ibu membawa rantang berisi nasi dan lauk pauk untuk dipertukarkan dan dimakan bersama-sama. Hal sama juga dilakukan warga Kuala Tadu yang saat tsunami, hampir seluruh rumah rata tanah. Kini rumah-rumah baru telah mereka tempati, bantuan dari NGO Internasional, Solidarites, serta BRR. Wilayah desa di Kabupaten Nagan Raya yang berada di pantai, hampir semua menjadi korban, mulai dari Desa Suak Puntong yang berbatasan dengan Aceh Barat di Kecamatan Kuala, sampai dengan Kuala Tripa yang berada di Kecamatan Darul Makmur. Namun di Kuala Tripa, tak ada peringatan dan orang-orang kampung itu tetap melakukan aktifitas sebagaimana biasanya. Di desa ini ada 76 warga yang meninggal akibat tsunami. Bahkan Keucik Desa itu, Dahlan Jalil, saat itu malah pergi ke Meulaboh, sedang Imum Gampong, Teungku Mawardy, tetap bekerja sebagai tukang bangunan, menggarap pintu gerbang masjid desa itu.

Menurut seorang warga, Ainul Mardiyah, tak ada perintah dari keucik maupun imum gampong untuk doa maupun tahlil di masjid seperti tahun lalu. “Saya baru ingat kalau hari ini ada peringatan tsunami setelah lihat tivi,” kata Ainul Mardiyah, 60 th, seorang janda yang mendapat bantuan rumah JRS yang kini membuka warung di desa itu. Rumah Ny Mardiah berjarak 100 meter dari masjid desa Kuala Tripa. By. Daryadi, Meulaboh.

admin Aceh

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.