Syair Tentang Pengungsi di Gubah oleh Dedi Irawan
Berikut ini sebuah syair tentang pengungsi yang digubah rekan kita Dedi Irawan, FO di Site Tapaktuan. Syair ini merupakan ungkapan Dedi tentang sebuah perasaan dan penghayatan akan pelayanan dan pertemanan yang sudah dilakukan selama ini dalam acara refleksi JRS Area II di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumut, yang berakhir 6 Januari lalu.
” Hai Bung DRD dan teman-teman,
Ini sebuah syair pantun yang mungkin belum saya utarakan selama ini. Pantun yang saya bacakan pada saat sharing dan refleksi di Parapat.Sedikit agak kocak karena saya memang bukan seorang penyair, ha..ha..”
Proses pertemanan yang selama ini dilakukan…
Aku dan Pengungsi Aku mengenalmu….
Aku membantumu…
Engkau seakan tak berdaya
Ketika bencana datang kepadamu
Engkau lari seakan tak mampu
Engkau diam juga tak mungkin
Didalam kegalauan, kepasrahan akan nasibmu
Kucoba untuk hadir bersamamu
Membantumu, meringankan beban pikiranmu
Kuingin menemani, melayani dan membelamu
Kutau hatimu kalut, pikiranmu kacau
Tapi kutau juga didalam hatimu punya kekuatan
Harta benda memang engkau tak punya
Terhanyut besarnya ombak, terbakar besarnya api
Engkau bergelimang dengan air mata
Disaat kau saksikan rumahmu, sekolahmu, mesjidmu terbakar
Tiada yang bisa kau buat
Hanya pasrah dengan kenyataan, dan berpikir apa yang akan engkau buat
Jiwaku adalah jiwamu
Dukamu adalah dukaku
Aku tidak tau pasti apa yang bisa kubantu
Aku melihat semuanya kau perlukan
Engkau butuh rumah, engkau butuh makan, engkau butuh pendidikan, engkau butuh kesehatan
Maafkan aku kalau tidak bisa menjawab semua itu
Didalam keterbatasan, kemampuan yang kumiliki
Izinkan aku membantumu
Ada segenggam beras, ada sebuah buku, ada sebiji obat, ada sehelai selimut, ada sebuah petromax yang menyinari malammu, ada sebiji bibit, ada satu bronjong, ada satu mesin, ada satu perahu
Semuanya kuberikan untuk mu
Dengan hati yang iklas, dada yang lapang
Harapanku, itu semuanya bisa kau nikmati
Maafkan aku, kadang engkau marah kepadaku
Aku tidak bisa memuaskanmu
Ku trima bila engkau marah, tapi itulah yang bisa kuberikan
Dibalik egoisme mu, aku tetap sabar dan terus menemanimu
Sampai akhirnya engkau paham, tidak lagi marah kepadaku
Aku ingin engkau bangkit kembali
Tertawa kembali, senang kembali
Melupakan masa suram yang tlah kau lewati
Mari buka sejarah baru kehidupanmu
Sudah tidak guna lagi air mata
Sekarang aku harus pergi darimu
Aku akan tentukan nasibku
aku melihat engkau sudah mulai tersenyum
Sudah mulai melihat dunia indah yang dulu pernah menghantuimu
Aku hanya berpesan…..
Apa yang sudah kuberikan, mohon dijaga semua itu
Karena itu selamanya punya mu
Aku hanya ingin doa darimu
Semoga aku bisa hadir kembali bersamamu
Tapi jangan sebagai pemberi,
Tapi sebagai insan, untuk saling bersilaturahmi
(Desember 2007, By Dedi Irawan)