Home > News > Pernyataan JRS - Dalam rangka Hari Pengungsi Dunia

Pernyataan JRS - Dalam rangka Hari Pengungsi Dunia

June 23rd, 2008

Embargo: 20 Juni 2008

Pernyataan JRS - Dalam rangka Hari Pengungsi Dunia
Tsunami tersembunyi Melanda Pengungsi yang Berada dalam Kondisi Rentan

Kenaikan harga pangan dan kerawanan pangan membahayakan kelompok rentan

Tanggal 20 Juni, hari pengungsi sedunia, JRS mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk meningkatkan bantuan kemanusian kepada masyarakat yang berada di situasi rentan dan bertindak untuk meningkatkan produksi pangan di negara-negara berkembang. JRS mengingatkan kewajiban pemerintah untuk melindungi pengungsi dan mendorong mereka supaya mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

Harga pangan telah meningkat dengan rata-rata 83% sejak 2005, dan terutama mempengaruhi bahan makanan pokok seperti terigu, beras, jagung dan susu. Sebagai akibat dari “tsunami tersembunyi “ ini, 100 juta orang, termasuk pengungsi dan mereka yang terpaksa berpindah, beresiko jatuh miskin.

Banyak pengungsi dipaksa tinggal di kamp dimana kebebasan bergerak mereka sangat terbatas. Mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk menanam pangan mereka sendiri atau mendapatkan uang dengan bekerja dan hampir sepenuhnya tergantung dari bantuan pangan supaya dapat bertahan hidup. Kenaikan harga pangan menyebabkan ransum yang diterima menurun sampai tingkat mengkawatirkan, selain berakibat pada kelaparan, perlindungan terhadap
mereka juga terpengaruh.

“Kenaikan harga pangan menimbulkan pengurangan anggaran untuk pangan, hunian dan hal-hal penting lainnya. Pengungsi, yang terpaksa mencari pekerjaan diluar kamp, beresiko ditahan dan dideportasi. Dengan demikian, hal ini menyebabkan mereka terpaksa kelapangan. Bila para guru terpaksa mencari pekerjaan diluar kamp, terjadi efek negative untuk pendidikan anak-anak. Kami
mendesak pemerintah Thailand untuk memikirkan solusi alternative yang mampu berdaya tahan bagi para pengungsi sehingga mereka bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka agar dapat mengatasi situasi dramatis ini.” Ujar Aden Raj, direktur JRS Thailand.

Kerawanan dan meroketnya harga pangan juga mempengaruhi mereka yang tidak tinggal di kamp. Mereka yang tinggal di daerah urban, yang jarang / bahkan tidak mendapat bantuan kemanusiaan, juga menghadapi keadaan sulit ini. Hal ini sangat jelas terlihat di kota-kota, seperti ibu kota Uganda, Kampala, dimana krisis pangan mempengaruhi secara luas masyarakat yang berada dalam keadaan rentan, khususnya para pencari suaka dan pengungsi.
“JRS adalah satu-satunya organisasi di Kampala yang memberikan bantuan pangan dan barangbarang kebutuhan darurat kepada pengungsi dan pencari suaka. Naiknya harga pangan akhir-akhir ini menghambat aktivitas kami. Keluarga dengan jumlah anggota besar dan mempunyai pendapatan rendah terkena dampak paling keras.” Ujar Kuteesa Stephen, Direktur Urban JRS Kampala di Uganda.

Terjaminnya ketahanan pangan bagi mereka yang terpaksa mengungsi di zona konflik adalah suatu tantangan yang besar. Kekerasan, infrastruktur yang tidak memadahi, kurangnya pekerja kemanusiaan, faktor politik dan kondisi lingkungan merupakan hambatan yang selama ini menghalangi pemberian perlindungan bagi pengungsi. Kurangnya bantuan pangan memperparah keadaan ini, mereka yang berada dalam kondisi paling rentan terkena dampak lebih parah, khususnya anak-anak.

“Di daerah Chadian Timur, Dar Sila, distribusi pangan, khususnya untuk 120.000 pengungsi internal terhambat. Hal ini berdampak negatif terhadap kehadiran anak-anak di sekolah karena mereka dipaksa membantu keluarga untuk mencari makan. Sejak ditetapkannya program pemberian makanan di sekolah, kehadiran meningkat secara signifikan. Dalam konteks meningkatnya harga pangan yang serius, pemerintah donor perlu untuk memastikan bahwa pemberian dana untuk program makan di sekolah bagi anak-anak pengungsi yang tergantung pada bantuan perlu diprioritaskan”, ungkap Direktur JRS Chad, Ferran Puig.

Bantuan pangan juga sangat dibutuhkan untuk mencegah krisis pengungsian yang baru. Banyak orang yang hidup dalam kondisi sangat miskin dipaksa untuk meninggalkan negara asalnya karena ketidakstabilan politik akibat kerawanan pangan. Pemerintah-pemerintah donor perlu mengambil langkah untuk mencegah krisis pangan yang terjadi akhir-akhir ini yang bisa menyebabkan pengungsian baru. Disamping itu, para petani di Negara-negara yang terkena dapak
tersebut perlu diberi bantuan keuangan dan teknis yang cukup untuk membantu mereka meningkatkan produksi pangan mereka.

Catatan untuk editor :
JRS bekerja di lebih dari 50 negara di 6 benua di seluruh dunia, dengan lebih dari 1.000 staff: awam, Jesuit dan relijius lainnya untuk pendidikan, kesehatan, kebutuhan sosial dan lainnya bagi 500.000 pengungsi dan orang-orang yang terpaksa berpindah (IDPs), dan lebih dari setengahnya adalah wanita. Pelayanan diberikan kepada pengungsi tanpa memandang ras, etnis atau agama dan kepercayaan.

Untuk informasi lebih lanjut:
James Stapleton,
Koordinator komunikasi Internasional,
Tel: +39 06 68 977390; +39 346 234 3841;
E-mail: international.communications@jrs.net; www.jrs.net

admin News

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.