Kesiapsiagaan dan Kode Etik Bekerja untuk Kemanusiaan
Memasuki hari ketiga, training sistem kesiapsiagaan bencana yang diadakan oleh JRS Medan-Aceh Selatan di Parapat semakin dalam dan menarik. Sesi pada pagi hari dipergunakan oleh fasilitator untuk memperdalam pengetahuan seluruh peserta dengan definisi dan landasan umum tentang sistem kesiapsiagaan bencana. Materi ini disampaikan oleh Eko yang disambung dengan tanya jawab. ” Apakah perlu pengulangan untuk EWS (Early Warning System) hingga beberapa kali?” tanya Mustika. Eko menjelaskan bahwa untuk menentukan apakah perlu dilakukan pengulangan atau tidak dalam EWS melihat kebutuhan masyarakat.
” Kebutuhan setiap komunitas berbeda. Bukan jumlah atau kalinya yang dilihat, tetapi apakah kita mencapai keinginan dan kebutuhannya masyarakat. Sangat bagus jika EWS menjadi budaya” tegas Eko kembali.
Menjelang makan siang, peserta diajak kembali mereview hasil diskusi kelompok tentang karakter ancaman dan sistem peringatan dini yang dibangun. Purwaningsih menjelaskan tugas kelompoknya tentang
ancaman dari air pasang di sekitar danau Toba. “Penyedia informasi kami adalah sekelompok warga yang sudah disepakati bersama. Penyedia informasi dipilih orang yang bermukim di tepi danau. Alat akan dipasang sesuai dengan ketinggian air. Sekaligus juga memperhitungkan bioindikator. Bentuk informasi menggunakan mikrofon gereja dan masjid yakni sirene. Untuk bunyi tanda peringatan, kita membuat bunyi dengan hitungan tertentu, ketongan dengan bunyi yang lain ” jelas Purwaningsih. Setelah penjelasan kemudian peserta saling bertanya dan dilanjutkan dengan kelompok selanjutnya yang membahas tentang polusi, kebakaran, banjir dan tsunami danau.
Secara umum dalam materi training sistem kesiapsiagaan bencana hari ketiga, staff JRS diajak belajar bersama tentang sistem kesiapsiagaan bencana (EPS ) dan perbedaannya dengan sistem peringatan dini (EWS). Identifikasi ancaman sangat penting untuk menentukan bangunan sistem peringatan dini dan sistem kesiapsiagaan bencana, tsunami danau, air pasang, kebakaran, atau banjir. Dan, terakhir materi tentang prinsip kemanusiaan dilanjutkan dengan membedah kode etik JRS dalam diskusi kelompok.