Home > Aceh, News > Hasan Tiro Simpul Emosional Para Gerilyawan

Hasan Tiro Simpul Emosional Para Gerilyawan

October 6th, 2008

Gunung Halimun, Pidie, 4 Desember 1976. Hasan Asleh, Jamil Amin, Zainal Abidin, Ilyas Leubee, Daud Paneuk dan Hasan Tiro berikrar mendirikan Negara Aceh Sumatra Merdeka. Organisasi yang berjuang menegakkan Negara Aceh yang merdeka dan berdaulat disebut Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan sayap militer yang dikenal dengan nama TNA (Tentara Neugara Atjeh). Dalam struktur GAM, Hasan Tiro diangkat sebagai wali negara yang membawahi 15 menteri, empat pejabat setingkat menteri dan enam gubernur. Perjuangan GAM yang diletakan oleh Hasan Tiro adalah perjuangan nasionalis-sekuler, jauh berbeda dengan gerakan pendahulunya Tgk Daud Beureueh, 20 September 1953-25 Mei 1959 yang berkerangka Islam. Perjuangan Hasan Tiro-cucu pahlawan nasional Tgk Cik di Tiro-awalnya dengan mudah ditumpas Pemerintahan Soeharto hanya setahun sejak gerakan ini diproklamirkan.


Setelah gerakannya porak poranda, Hasan Tiro mengubah strategi perjuangannya. Dia membangun simpul perjuangan bersenjata dan diplomatik. Hasan Tiro memimpin jalur diplomasi dari Swedia, sementara gerakan bersenjata dikendalikan dari markas militer GAM di perbatasan Pidie-Aceh Utara. Awalnya GAM membagi Aceh dalam tujuh komando, yaitu komando wilayah Pase Pantebahagia, Peureulak, Tamiang, Bate Ilie, Pidie, Aceh Darussalam dan Meureum. Masing-masing komando dipimpin oleh seorang panglima wilayah.  Sayap militer GAM semakin kuat pasca pulangnya 250 gerilyawan yang dilatih di Libya. Sampai saat DOM (Daerah Operasi Militer) dihapus di seluruh Aceh tercatat 5.000 alumni Libyia ada dalam struktur TNA.

Hasan Muhammad di Tiro lahir 4 September 1930 di Kampung Tiro, Pidie. Dia adalah keturunan ketiga Tengku Syeh Muhammad Saman di Tiro, penerus tahta Sultan Muhammad Daud Syah-sultan Kerajaan Aceh terakhir pada 1874-sebagai wali negara sekaligus panglima perang. Kecerdasan membawanya meraih gelar doktor hukum internasional dari University of Colombia, Amerika Serikat. Pengagum Muhammad Yamin ini bahkan sempat bekerja di dinas penerangan delegasi Indonesia di PBB 1950-1954. Menurutnya kesenjangan yang marak terjadi di era 50’an antara Jakarta dan daerah seharusnya diselesaikan dengan konsep negara federal. Ide ini dituangkannya dalam buku Demokrasi untuk Indonesia. Sampai detik itu, menurut Hasan Tiro konsep negara federal adalah satu-satunya solusi bagi Indonesia.  Sikap Hasan Tiro berubah setelah pemberontakan DI/TII pecah. Bahkan pada 9 September 1954 Hasan Tiro sempat mengingatkan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo untuk menghentikan serangan bersenjata terhadap aktivis DI/TII di Aceh. Belakangan dia terlibat dalam Republik Persatuan Indonesia-federasi sepuluh daerah Sulawesi, Sumatra dan Maluku-bentuk perlawanan kepada Soekarno yang sentralistis. Barulah pada 1965 ide tentang Negara Aceh Sumatra Merdeka digagas Hasan Tiro. Ide Negara Aceh Sumatra Merdeka diambil dari masa kejayaan Kesultanan Iskandar Muda yang pernah berkuasa sampai Lampung, Bengkulu dan sebagian wilayah Malaysia.

Tak pelak dalam organisasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bahkan di masyarakat Aceh keseluruhan, Hasan Tiro adalah figur sentral yang mengikat perlawanan rakyat Aceh dalam satu gerak. Simpul karismatis yang mampu menggugah ribuan orang untuk mengangkat senjata melawan rezim Jakarta. Darah biru yang mengalir di tubuhnya mengentalkan posisinya sebagai pemimpin rakyat Aceh. Sejarah keluarganya adalah sejarah perjuangan rakyat Aceh sejak Belanda memerangi Aceh untuk menguasai jalur perdagangan Selat Malaka. Gelarnya sebagai Wali Nanggroe seolah melegitimasi kekuasaannya sebagai figur sentral dalam kehidupan masyarakat Aceh. Menurut GAM, wali nanggroe tidak sekadar sebuah lembaga adat, simbol pemersatu Aceh namun memiliki kewenangan politik yang melebihi kepala pemerintahan yaitu gubernur.  Sebagai peletak dasar perjuangan GAM sekaligus sosok sentral di belakang dinamika gerakan ini, Hasan Tiro adalah magnet sekaligus pusat di pusaran kekuasaan. Fenomena yang terjadi di tubuh gerakan yang telah berusia 32 tahun ini tidak pernah lepas dari pria 78 tahun ini. Munculnya Majelis Pemerintahan (MP) GAM pimpinan Tgk Husaini Hasan dipicu kondisi kesehatan sang wali yang menurun tahun 1985. Idenya adalah membentuk badan eksekutif untuk mengambil peran administrasi GAM. Namun desakan Husaini diterjemahkan Zaini Abdullah sebagai upaya merebut kursi kepemimpinan GAM. Husaini langsung dipecat. Kisah dibalik terpilihnya Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar tidak lepas dari polemik yang dihembuskan Tiro. Sebagai pimpinan tertinggi GAM, Tiro tidak mengambil langkah tegas ketika Zaini Abdullah, Usman Lampoh Awe dan Zakaria Zaman menentang terpilihnya Nashiruddin bin Ahmed dan Muhammad Nazar sebagai kandidat gubernur/wakil gubernur Aceh. Mereka lebih setuju jika Hasbi Abdullah (adik Zaini Abdullah) dipasangkan dengan Humam Hamid. Sementara kelompok muda dimotori Sofyan Dawod, Bachtiar Abdullah dan Munawar Liza Zain menjagokan Irwandi dan Muhammad Nazar. Bagi para gerilyawan, Hasan Tiro adalah legenda, terlepas pro dan kontra yang dia ciptakan, Hasan Tiro adalah ayah bagi 3.000-an kombatan TNA. ”Nggak ada beliau, kita ini nggak ada,”tutur sebut saja-Safrizal-mantan TNA asal Matang Glumpang Dua, Bireun.
Di tengah berita kepulangannya, Hasan Tiro masih menuai cerita. Kabar tentang dirinya menjadi berita utama harian lokal selama berhari-hari. Di balik sosoknya yang kian renta, tidak bisa dipungkiri di adalah simpul emosional rakyat Aceh, gerilyawan dan orang yang memburunya selama bertahun-tahun.

admin Aceh, News

  1. muhammad iqbal bin jafar
    November 12th, 2009 at 23:45 | #1

    Lanjutkan perjuanganmu wahai teungku, kami Generasi muda Aceh siap.

  1. April 2nd, 2010 at 07:36 | #1