Home > Aceh, News > Hasan Tiro, Pulangnya Sang Wali Nanggroe

Hasan Tiro, Pulangnya Sang Wali Nanggroe

October 11th, 2008

Hari ini pukul 10.30 WIB, dua pesawat Firefly-anak perusahaan Malaysia Airlines-yang membawa Hasan Tiro, Malek Mahmud, Zaini Abdullah, Irwandi Yusuf, Muzakkir Manaf dan pimpinan teras Gerakan Aceh Merdeka (GAM) lainnya akan mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. Ini adalah kali pertama sang wali nanggroe menjejakan kaki di tanah kelahirannya setelah 29 tahun hidup di tanah pengasingan. Seluruh Aceh bersorak. Di seantero Aceh, ribuan orang bergerak menuju Banda Aceh untuk melihat kepulangan wali. Ratusan anggota KPA (Komite Peralihan Aceh) dari berbagai sagoe beriringan menjaga arus massa di sepanjang pantai timur. Bendera Partai Aceh (PA) yang mirip dengan lambang kebesaran GAM dikibarkan arak-arakan massa di atas mobil, motor, bus dan truck dari Kuala Simpang sampai Banda Aceh. Dari berbagai lapisan sosial, anak-anak sampai orang tua, perempuan dan laki-laki berkumpul di titik-titik strategis seputaran ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.


Kenapa sang wali akhirnya pulang? Ibrahim bin Syamsuddin, Juru Bicara KPA dalam sebuah wawancara dengan media lokal mengatakan bahwa kepulangan Hasan Tiro adalah sebuah kewajaran. ”Beliau tetap orang Aceh meskipun sudah lama tinggal di Swedia,”terangnya. ”Wali pulang karena ingin bersilaturahmi dengan keluarga dan masyarakat Aceh,”imbuhnya. Bagi saya kepulangan Hasan Tiro lebih dari sekadar sebuah silaturahmi. GAM dan masyarakat Aceh pada umumnya adalah pihak yang paling berkepentingan dengan perdamaian. MoU Helsinki menjadi klimaks strategi diplomatik kelompok ini (GAM). Perdamaian-perdamaian sebelumnya seperti CoHA dan Jeda Kemanusiaan hanya bertahan seumuran jagung karena masalah keamanan dan esensi perjuangan GAM untuk merdeka tidak dimasukan dalam butir-butir kesepakatan.  Nota Kesepahaman Helsinki melabrak semua ketabuan itu. Masalah keamanan menjadi salah satu kunci penyelesaian konflik. Sementara keinginan GAM untuk merdeka diredaksionalkan dalam kata self government.  Maka tidak heran politisi Jakarta serta tentara menyebut MoU Helsinki sebagai kekalahan Indonesia dan kemenangan GAM. Maka ketika perdamaian menjadi rentan, konsolidasi menjadi sikap yang sangat wajar. Pulangnya Hasan Tiro adalah bagian dari proses konsolidasi Gerakan Aceh Merdeka, baik bagi mereka yang sekarang ada di KPA, menjadi pengurus Partai Aceh, maupun yang duduk di kursi pemerintahan. Pulangnya sang wali merekatkan kembali tali silaturahmi anggota GAM yang sempat tegang semasa pilkada dan saat transformasi GAM menjadi sebuah partai politik.
Hasan Tiro membawa harapan bagi para kombatan yang merasa dianak tirikan, diacuhkan oleh para komandan dan panglima yang sekarang duduk dalam struktur pemerintahan. Bagaimanapun ia adalah ayah bagi para gerilyawan. Suaranya akan didengar. Mungkin dia akan berpesan, ”Nak, sabarlah. Jangan terpancing emosi dan hasutan orang. Jangan melakukan tindakan yang melanggar hukum. Kita sudah menang, maka ini saatnya kita bersama membangun Aceh,”
Pesan politis kedua yang bagi saya sangat jelas adalah bahwa wali nanggroe bukan sekadar jabatan adat dan lambang pemersatu rakyat. Ia memiliki posisi strategis dalam semua lingkup kehidupan rakyat Aceh. Ia punya sejarah panjang sebagai sebuah lembaga pemerintahan.  Di tengah polemik berkepanjangan dan tarik menarik tentang posisi wali nanggroe, pulangnya Hasan Tiro-sebagai wali nanggroe-akan menunjukan legitimasi kekuasaannya. Ketika ribuan orang berbondong-bondong datang ke masjid Baiturrahman untuk mendegar orasinya, maka saat itu pula sebuah pesan  mampir ke telinga politisi di Senayan bahwa inilah bukti yang paling sahih bahwa kekuasaan itu benar berasal dari rakyat.
Karismatis dan misterius. Sosok Hasan Tiro yang kita kenal selama 32 tahun. Dalam berbagai upaya damai, hampir tidak pernah ada kehadirannya di meja perundingan. Tidak mudah membaca pikirannya, karena sedikit sekali literatur yang ditulisnya. Hidupnya seolah jauh dari konflik yang ’diciptakannya’. Kehidupan pribadinya tertutup tidak ada pers yang bisa mengeksploitasi untuk dijadikan santapan gosip murahan. Misteriusnya Hasan Tiro seolah mengijinkan banyak orang untuk mengkultuskan sosoknya. Maka kepulangannya menarik banyak orang. Generasi seusia saya mungkin hanya mengenal Hasan Tiro dari cerita. Ketika kesempatan untuk mengenalnya secara pribadi terbuka maka rasa keingintahuan itu semakyn membuncah, baik bagi mereka yang menganggap dia pahlawan atau pengkhianat. Sekali lagi Hasan Tiro membuktikan bahwa dirinya adalah benang merah, simpul dan ikatan emosional yang dibangun selama 32 tahun. Kepulangannya adalah klimaks semuanya.

admin Aceh, News

  1. No comments yet.
  1. April 2nd, 2010 at 07:36 | #1