HASAN TIRO TIBA DI ACEH
Ribuan massa dari berbagai penjuru Aceh sejak pagi (11/10) telah memadati halaman Mesjid Raya Baitulrahman, kehadiran masyarakat aceh ini tidak lain adalah untuk menyambut dangan istimewa dan sekaligus bertemu dengan petinggi yang juga Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM),Teungku Hasan Muhammad Di Tiro. Gelombang massa yang berdatangan sejak Kamis (9/10) dari berbagai kabupaten/kota di provinsi ini dengan mengunakan berbagai kendaraan.

Ribuan massa Aceh yang menantikan kedatangan Wali Nanggroe di halaman Mesjid Raya Baithulrahman (11/10/2008)

Sebagian besar massa yang menyaksikan dan mendengarkan pidato dari luar halaman Mesjid Raya (11/10/2008)
Setelah hampir 30 tahun tinggal dalam pengasingan di Swedia. Hasan Tiro atau yang dikenal dengan Wali, beserta 142 anggota rombongan tiba di Bandar Internasional Sultan Iskandar Muda sekitar pukul 11.30 WIB, kedatangan pendiri GAM ini disambut dengan ucapara adat ditepung tawar oleh kakak wanitanya, Minyak Ubit mewakili anggota keluarganya.
Dari Bandara Internasional SIM Wali beserta rombangan langsung menunju mesjid Baitulrahman. Sepanjang jalan dari bandara, ratusan warga berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan ke arah iring-iringan mobil rombongan Hasan Tiro, dengan pengamanan yang dilakukan oleh 600 orang mantan kombatan GAM.

Di mimbar terbuka di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Hasan Tiro tidak berceramah panjang lebar. Dia hanya berdiri sejenak mengucapkan salam “Assalamualaikum†dengan mengucurkan air mata di hadapan massa yang menyemut di halaman masjid raya. Mantan pimpinan tertinggi GAM itu duduk di atas panggung bersama Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Zakaria Saman, Muzakir Manaf dan beberapa orang lainnya. Dalam teks pidato tertulis Hasan Tiro, yang dibacakan Malik Mahmud mengatakan, perdamaian Aceh harus dipertahankan oleh semua pihak. Menurutnya rakyat Aceh harus menjaga kesatuan dan persatuan dari upaya perpecahan dan adu domba antar sesama.

Saat prmbacaan teks pidato Hasan Tiro yang dibacakan oleh Malik Mahmud (11/10/2008)
Perdamaian Aceh diperoleh berkat kerjasama antara pemerintah RI dan GAM yang didukung oleh dunia internasional. Dia juga mengingatkan semua poin perjanjian perdamaian yang di tandatangani para pihak di Helsinki, Finlandia, dapat terealisasi dengan baik sesuai keinginan rakyat. “ Biaya perang memang mahal, tapi menjaga kedamaian lebih mahal. Maka peliharalah kedamaian itu untuk kesejahteraan kita semua†tutur Hasan Tiro. Perjuangan rakyat Aceh sekarang ini, katanya, adalah perjuangan ke arah sistem yang membawa aspirasi seluruh rakyat Aceh melalui perangkat politik dalam usaha memelihara perdamaian, keamanan dan kebebasan dengan cara yang adil, jujur, dan bermartabat. ”Perjuangan dengan melalui jalur politik dan demokrasi inilah yang didukung oleh dunia internasional dan semua lapisan rakyat Indonesia,” ujar tokoh berusia 83 tahun yang telah berkebangsaan Swedia ini.
Setelah Acara tersebut, sekitar pukul 15.00 Wib, massa dari berbagai daerah di Aceh, kembali pulang meninggalkan Banda Aceh. Sedangkan Hasan Tiro, dan rombongannya menuju ke pendopo gubernuran.
Dibagian lain, terlihat banyak anak sekolah tingkat SD, SMP dan SMA yang lokasi gedung belajarnya seputaran Banda Aceh atau dekat dengan jalur kedatangan Hasan Tiro yang dipulangkan lebih awal, mungkin untuk mengantisipasi akan terjadi kemacetan dan menghindari hal – hal yang tidak diinginkan.
Selain itu toko toko yang berjejeran di seputar Masjid Baiturrahman umumnya tutup. Mereka tidak melakukan aktivitas berjualan hingga sore hari. Tapi para penjual jajanan seperti nasi gerobak, Mie bungkus, makanan ringan dan minuman terlihat bayak di pinggiran pagar masjid. â€Alhamdulilah, jualan saya hari ini cukup banyak di beli kata Bapak sulaiman salah seorang penjual mie bungkus keliling dihalaman mesjid Baithulrahman.
Kondisi keamanan di Aceh, khususnya Banda Aceh sampai dengan selesainya acara pidato wali Nanggroe di halaman Mesjid Raya Baithulrahman, suasana sangat kondusif dan terkendali.Walaupun ada insiden kecil seperti Sebelum acara dimulai sempat terjadi insiden penurunan bendera merah putih. Namun, aparat keamanan kemudian menaikkan lagi bendera merah putih tersebut.
Berikut teks pidato Hasan Tiro yang dibacakan Malik Mahmud Al Haytar.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ke hadapan hadirin dan hadirat yang saya cintai.
Marilah kita bersama panjatkan puji dan syukur kehadhirat Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan rahmat dan kurnia-Nya kepada kita sekalian dalam bentuk kebebasan dan kedamaian yang menyeluruh di persada tanah Aceh sejak dari tanggal 15 Agustus 2005 selepas mengalami konflik bersenjata selama 30 tahun yang bermula pada tahun 1976.
Pada hari ini saya sangat berbahagia begitu juga para hadirin-hadirat sekalian. Allah telah melimpahkan nikmat kepada kita, sehingga pada hari yang paling bersejarah ini, insya Allah saya dalam keadaan sehat walafiat, dapat kembali menginjakkan kaki di bumi Aceh dan saya dapat bertemu muka langsung dengan saudara-saudara, di mana selama ini, telah memberi kesetiaan kepada saya di dalam perjuangan menuntut hak, keadilan dan martabat bagi Acheh.
Kebebasan dan perdamaian yang menyeluruh di Aceh sekarang ini adalah merupakan nikmat yang telah diberikan Allah kepada Aceh. Belum pernah terjadi dalam sejarah Aceh selama berada dalam penjajahan dan pendudukan bangsa asing, rakyat mendapatkan kebebasan dan perdamaian yang menyeluruh seperti saat sekarang ini.
Kesemuanya ini adalah merupakan hasil jerih payah perjuangan gigih yang telah diberikan oleh rakyat Aceh dengan jatuh korban puluhan ribu jiwa banyaknya, sementara gempa dan tsunami telah memakan korban sekitar ratusan ribu jiwa banyaknya. Saudara-saudara kita yang telah syahid telah meninggalkan ribuan anak yatim piyatu, saudara-saudara kita yang hilang harta dan cedera tubuh badannya juga tidak terhitung jumlahnya. Ini adalah menjadi tanggung-jawab kita semua untuk memberi bantuan kepada mareka yang akan kita penuhi melalui proses demokrasi dan berencana sebagaimana yang telah kita sepakati di dalam MoU Helsinki.
Kami ingatkan; konflik 30 tahun yang disusuli oleh gempa dan tsunami, mengakibatkan Aceh kehilangan segala-galanya, kita tidak sanggup kehilangan masa depan kita. Justru raihlah masa depan kita melalui proses yang telah ditentukan di dalam MoU Helsinki ini dengan cukup teliti dan berdisiplin tinggi.
Di dalam perang kita telah sangat banyak pengorbanan, akan tetapi, dalam kedamaian kita harus bersedia berberkoran lebih banyak lagi. Memang, biaya perang sangat mahal akan tetapi biaya memelihara perdamain jauh lebih mahal. Peliharalah kedamaian ini untuk kesejahtraan kita semua.
Perundingan perdamaian yang panjang seru dan alot antara pihak GAM dan pihak Pemerintah Republik Indonesia di Helsinki, Finlandia. Telah menghasilkan kesepakatan yang dinamakan Memorandum of Understanding ataupun yang lebih dikenal dengan MoU Helsinki. Yang ditandatangani oleh pihak GAM dan RI pada tanggal 15 Agustus 2005 adalah merupakan dasar pijakan hukum bagi terciptanya kebebasan dan perdamaian yang menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak.
Adapun sebagian dari hal-hal penting yang terdapat di dalam kesepakatan bersama MoU Helsinki adalah:
Pertama: Mantan pejuang Aceh tidak ada lagi dipanggil dengan sebutan “sparatisâ€, karena telah mengikat diri dengan kesepakatan yang telah di tanda-tangani oleh pihak seperti termaktup di dalam MoU Helsinki. Kini rakyat Aceh sudah mulai merasakan hidup aman dan tenang serta tidak lagi merasa takut terhadap berbagai tindakan kekerasan seperti yang terjadi di masa konflik yang baru berakhir sekitar tiga tahun yang lalu.
Kedua: Acheh telah lama dilupakan dunia, akan tetapi dengan gempa dan tsunami serta adanya MoU Helsinki, Aceh telah menjadi perhatian dunia internasional untuk dapat dibantu secara langsung terhadap kepentingan rakyat Aceh dari segala kehancuran dan ketinggalan di semua bidang.
Ketiga: Aceh akan mendapatkan kebebasan dalam bentuk hak-hak sipil, politik dan mengenai hak-hak ekonomi, sosioal dan budaya sebagaimana tercantum di dalam Konvenan Internasional Perserikatan Bangsa-bangsa, di mana proses tersebut, dijalankan melalui proses demokrasi, adil dan bermartabat. Sebagai imbalan, Pemerintah Pusat mempunyai hak-hak tersendiri yang telah diatur di dalam MoU Helsinki tersebut.
Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak Pimpinan Urusan Luar Negeri dan Keamanan Uni Eropa, Javier Solana di atas dukungan penuhnya terhadap kami dan juga kepada mantan Ketua Tim Misi Monitoring Aceh, Pieter Cornelis Feith beserta Staf dari negara-negara anggota Uni Eropa, ASEAN, Norwegia dan Swiss yang telah berhasil memantau dan menjalankan isi MoU Helsinki sehingga di Aceh terpelihara dan terjaga perdamaian yang menyeluruh ini.
Juga saya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada mantan Presiden Martti Ahtisaari dari Finlandia, mantan Sekretaris Jendral PBB Kofi Annan, pemerintah Amerika Serikat, Jepang, Swiss, Swedia, Norwegia dan lain lain yang telah berusaha keras membantu mencari jalan terbaik, guna menyelesaikan konflik Aceh secara damai.
Dalam kesempatan ini, teristimewa, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak Pemerintah Republik Indonesia yang tetap komitmen dengan isi-isi MoU Helsinki dan untuk ini, saya menghargai kebijaksanaan dan tekad baik yang “decisive†yang telah diambil oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Bapak Yusuf Kalla yang sejak dari awal lagi tahun 2000, telah merintis jalan penyelesaian konflik yang berkepanjangan di Aceh, harus melalui perundingan bukan dengan cara kekerasan senjata.
Kepada rakyat Aceh, saya menyerukan untuk tetap memelihara dan menjaga perdamaian yang menyeluruh dan jangan berusaha untuk menghancurkan perdamaian ini. Kalau masih ada pihak-pihak yang menentang dan tidak menyetujui MoU Helsinki ini, maka disini, saya menyerukan untuk kembali dan bersatu dengan rakyat Aceh yang sekarang sedang memelihara dan menikmati kedamaian dan kebebasan yang menyeluruh di bumi Acheh.
Perjuangan rakyat Aceh sekarang ini, adalah perjuangan kearah sistem yang membawa aspirasi seluruh rakyat Aceh melalui perangkat politik dalam usaha memelihara perdamaian, keamanan dan kebebasan dengan cara yang adil, jujur, dan bermartabat bagi semuanya. Perlu diingat, bahwa perjuangan dengan melalui jalur politik dan demokrasi inilah yang didukung dan disokong sepenuhnya oleh dunia internasional serta saya yakin, juga didukung sepenuhnya oleh semua lapisan rakyat Indonesia yang cinta perdamaain, kestabilan dan kesejahteraan negara ini untuk masa yang akan datang.
Pada kesempatan ini, saya berpesan kepada seluruh rakyat Aceh untuk tetap menjaga kesatuan Aceh dan jangan sekali-kali trepancing pada usaha-usaha jahat dari beberapa kelompok supersif, dalam usaha mereka untuk mensabotase perdamaian, mengadu domba kita sesama kita dan memecah belah Aceh, yang kalau tidak kita tidak sedari, untuk membendunginya, akhirnya akan menimbulkan konflik berdarah untuk kesekian kalinya yang akan mengangcur-leburkan dan merugikan kesemua pihak
Tak lupa saya ucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bersusah payah memfasilitasi kepulangan saya dan rombongan ke tanah air sebegitu baik.
Terima kasih yang tak terhingga kepada saudara-saudara yang saya kasihi sekalian, yang telah bersusah payah datang ke Banda Aceh dari – seluruh Aceh – untuk menyambut kepulangan saya ketanah pusaka ini secara meriah sekali, yang tentunya, tak dapat saya lupakan sepanjang hayat saya. Hanya Allah yang akan membalas segala kebaikan saudaraku sekalian. Amin, amin, amin ya Rabbal ’alamin.
Akhirnya mengingat kita masih berada di bulan syawal, bulan fitrah, saya ucapkan Selamat hari Raya Idul Fitri tahun 1429 H. Mohon ma’af lahir dan batin.
Sekian dan terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tengku Hasan Muhammad di Tiro
(Acehkita.com)
oke………