Home > Aceh, News > Banjir All The Way

Banjir All The Way

October 22nd, 2008

Hari ini Senin tgl 20 Oktober, perjalanan saya kali ini di mulai dengan menaiki travel dengan kendaraan mobil L300 jurusan Meulaboh - Panga. Hujan yang mengguyur bumi Aceh terus menerus sejak hari minggu menyebabkan banjir di beberapa lokasi sepanjang perjalanan menuju ke Panga. Banjir sudah terasa saat mobil memasuki daerah Gampong Cot, Kecamatan Boubon, Kabupaten Aceh Barat. Aliran banjir seperti sungai yang deras, ditambah lagi dengan kondisi jalan yang belum di aspal dan lubang di sana sini, membuat pengemudi kendaraan harus berjalan merayap dan extra hati-hati. Keberadaan joki- joki banjir (menurut istilah saya) yang terdiri dari anak anak, remaja tanggung dan orang tua, cukup membantu pengemudi kendaraan baik itu mobil atau motor untuk menghindari lobang lobang di jalan dan genangan air yang dalam yang menggantinya dengan uang Rp 1.000 untuk jasa mereka. Bagi mereka saat saat banjir juga bisa untuk mendulang sedikit rejeki.

Saat memasuki Desa Peuribu, Kecamatan Arongan, Kabupaten Aceh Barat terdapat banjir yang cukup besar karena air dari sungai Kreung Woyla yang meluap dan menggenangi desa desa di kanan kiri badan sungai, terdapat beberapa becak dayung dan becak motor yang mengangkuti motor motor yang ingin menyeberangi banjir dengan membayar ongkos Rp. 5000 untuk menghindari basah pakaian dan kemacetan motor di tengah banjir. Mobil mobil pun harus berjalan merayap dengan hati-hati.

Memasuki wilayah perbatasan kota antara Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Jaya yaitu Gampong Cot Gajah Mati. Daerah ini masih merupakan hutan di kanan kiri jalan sepanjang kurang lebih 5 km yang sedang ditebang pohon-pohonnya dan akan dibuka untuk lahan perkebunan, posisi jalan yang rendah, dan penebangan pohon pohon yang seharusnya bisa menjadi hutan resapan air membuat banjir tak terelakkan. Lahan perkebunan yang sedianya bertujuan menambah pendapatan masyarakat, dibayar dengan konsekuensi yang mahal dengan hilangnya hutan resapan air dan menimbulkan bencana baru yaitu banjir. Genangan air kehitaman dari sisa-sisa pembakaran kayu serta batang batang pohon mengapung yang sudah hangus menghitam mewarnai lokasi ini. Sejauh mana turun tangan Pemerintah dalam menghindari penggundulan hutan rasanya sudah sangat terlambat sekarang.

Mobil yang saya tumpangi berusaha melaju terus melawan arus banjir, tetapi di tengah jalan berhenti sejenak karena di depan ada truk yang macet di tengah banjir dan harus ditarik oleh truk lain. Sopir mengambil tindakan untuk mundur dan cari aman dengan mengikuti pengendara mobil lain yaitu dengan mengikat mobil dengan tali untuk ditarik dengan truk. Setiap truk mengangkut sekitar 7 motor plus pengendaranya di atas bak truk fuso yang tinggi, kemudian joki-joki banjir yang terdiri dari 7 laki-laki dewasa tergabung dalam satu team, mereka cukup terampil mengikat tali di belakang truk dengan mobil lain, begitu juga mobil di belakang truk di ikat dengan mobil lainya begitu terus sampai akhirnya tali mengikat mobil yang saya tumpangi. Jadilah iring-iringan yang saling menarik dan cukup panjang dengan beberapa joki naik di belakang setiap mobil untuk menghindari rem mendadak dan tabrakan antar mobil yang di ikat, melintasi banjir yang panjang dan cukup dalam sampai air masuk ke dalam mobil yang saya tumpangi ini. Setelah setiap motor harus mengganti jasa tersebut dengan membayar Rp 10.000 sedang untuk mobil Rp 25.000, kami pun melewati area banjir tersebut.

Perjalanan pun berlanjut dan memasuki daerah Teunom Kabupaten Aceh Jaya pun mengalami hal yang sama, banjir yang meluap dari Kreung Teunom menggenangi wilyah ini.

Pukul 14.45 saya pun sampai di Keude Panga, perjalanan Meulaboh-Panga yang biasanya bisa di tempuh selama 2 jam dengan mobil pribadi, kali ini di tempuh dengan waktu hampir 6 jam, sambil minum kopi rehat sejenak di warung Pak Min sambil ngobrol mencari informasi tentang banjir dan mencari ojek untuk melanjutkan perjalan ke Gunong Meulinteung. Di Desa Gunong Meulinteung tidak terkena banjir hanya di daerah yang agak rendah dan dekat sungai tergenang sedikit air. Setelah pertemuan dengan Pak Keucik Gunong Meuliteung saya melanjutkan ke Desa Panton Kabu karena sudah ada janji temu dengan pengurus Desa jam 5 sore ini.
Janji Temu Warga sore ini dikarenakan distribusi material pengecatan yang dilakukan hari Sabtu tanggal 18 Oktober kemarin ada sedikit hambatan karena jembatan di Keude Panga batang kelapanya sudah lapuk dan mengakibatkan truk pengangkut pasir terperosok 2 hari sebelumnya dan harus ditarik dengan Backhoe. Alhasil rencana distribusi sabtu siang tertunda karena kami harus menunggu jembatan dibongkar dan pasang hampir setengah hari, saya menghubungi pengurus Desa dan masyarakat Panton Kabu yang sudah menunggu kedatangan material pengecatan, setelah mendapat kabar mereka pun meninggalkan pertemuan karena tidak tahu jembatan akan selesai sampai jam berapa, dan kami baru tiba di Panton Kabu jam 15.00 sore, menurunkan bahan matrial pengecatan untuk dicek pengurus desa dan distribusi akan dilanjutkan Senin tanggal 20 Oktober jam 17.00 sore dengan harapan dapat bertemu dan berkumpul dengan semua masyarakat yang bekerja pada pagi hari.

Jadilah sore itu saya distribusi menjelang maghrib dan buruntungnya saya karena masyarakat tidak keluar rumah selain karena banjir hampir sepaha dan sudah menjelang malam, masyarakat yang tidak menyangka saya akan datang karena banjir, saya pun bercanda dengan mereka, “JRS kan ga mungkin ngecewain masyarakat, kan sudah janji datang.” ( narsis banget yak, he5), kamipun saling bersenda gurau dan tertawa- tawa di sela-sela distribusi dan suasana banjir.

Selepas Maghrib saya kembali ke Gunong Meulinteung untuk menginap disana, saya menginap di rumah Pak Keucik Kasim dan keluarganya yang ramah menerima saya. Budaya Patriarkis yang memang sangat kental begitu terasa, dimana anak laki-laki mendapatkan kamar untuk tidur mereka, sedang untuk anak perempuan cukup dengan menggelar kasur di depan TV. Tidur beramai-ramai dengan anak-anak perempuan Pak Keucik juga suasana seru lainnya, membuat saya tersenyum dengan obrolan khas para gadis yang saya tangkap sedikit-sedikit karena mereka berbahasa Aceh.
Keesokan harinya saya dapat informasi bahwa sungai di jembatan Keude Panga meluap dan tidak bisa dilewati. Sambil melanjutkan sisa-sisa distribusi saya berharap air akan surut dan saya bisa melakukan perjalanan pulang ke kantor Meulaboh. Lewat tengah hari air pun surut, saya pun bergegas untuk berkemas pulang karena menghindari kemalaman dan terjebak banjir di jalan. Biasanya makin sore air makin tinggi, dikarenakan laut pasang karena Musim Barat dan hujan yang turun terus menerus membuat air tergenang dan tak bisa mengalir kemana-mana. Perjalanan pulang pun diwarnai suasana banjir yang sama saat saya berangkat. Banjir all the way

admin Aceh, News

  1. windi
    November 15th, 2008 at 09:51 | #1

    :grin: trus berjuang demi nilai-nila kemanusiaan. Okey

  1. No trackbacks yet.