Melucuti Mitos Bencana, menuju Pengurangan Resiko Bencana
Dalam salah satu acara Pelatihan Emergency Preparadness System yang difasilitasi oleh Jesuit Refugee Service bekerja sama dengan Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Jogjakarta, terekam dengan sangat baik ungkapan berikut ini:
“Yang membunuh itu bukan gempa tetapi tembok,â€terang Eko Teguh Paripurno (ET), fasilitator pelatihan EPS dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Jogjakarta. â€Gempa dan gejala alam sebenarnya patut disyukuri karena menandakan bumi kita hidup. Kalau tidak ada gempa mustahil ada danau Toba, sungai atau mata air jernih.â€tambahnya. â€Tuhan menciptakan manusia dengan akal maka seharusnya manusia tidak menyalahkan alam atau Tuhan atas bencana yang terjadi namun menggunakan akal miliknya untuk hidup selaras dengan alam,â€
Ungkapan diatas mendorong saya untuk berbagi refleksi yang belum selesai berikut ini.
Mitologi Bencana dan Kuat Kuasa Mitos
Mitologi bencana bisa dimengerti sebagai proses memahami,mengerti bencana dalam alam pikiran mitos. Mitologi bencana sendiri sangat dekat dengan kehidupan keseharian kita. Selalu ada cerita yang menyertai setiap peristiwa, apalagi yang namanya bencana yang sampai menelan korban. Di setiap daerah, suku dan adat istiadat, tersimpan banyak mitos yang seringsekali terhubung dengan peristiwa bencana. Maka tidak mengherankan, proses terjadinya Danau Toba lebih populer dalam bungkus mitologi daripada kerangka vulkanologi atau sejenisnya. Ketika aktivitas Gunung Merapi dinyatakan oleh pemerintah berubah statusnya dari aktif normal, waspada, siaga, hingga menjadi awas, perbincangan tentang gunung itu menjadi semakin seru. Ada dua mitologi yang dominan, mitologi dari penduduk lokal yang tinggal di sekitar Merapi. Mereka memercayai bahwa Merapi memiliki nyawa sebagai penunggu sehingga untuk menghindari kemarahan penunggunya perlu mengadakan ritual dan sesaji. Yang bisa berhubungan dan mengetahui kehendak penunggu hanya orang-orang tertentu seperti Mbah Mardjo, Mbah Maridjan, Mbah Hardjo Sipon, dan lain-lain, Sedang rakyat hanya berposisi memercayai dan mengikuti saja kehendak elite-elite spiritual tersebut. Maka tidak mengherankan kalau elite-elite spiritual lokal tersebut juga memperoleh previlese ekonomi, politik, dan kebudayaan dalam konteks komunitas lokal. Kedua, mitologi Merapi yang direproduksi Keraton Mataram demi tegaknya kekuasaan kerajaan itu. Mitologi ini menegaskan bahwa penunggu Merapi adalah Kyai Sapu Jagad dan penguasa Laut Selatan adalah Kanjeng Ratu Kidul. Agar kekuasaan Mataram tetap abadi maka raja harus berkolaborasi dengan para penguasa tersebut dengan cara menjadikan Kyai Sapu Jagad sebagai mitra politik dan menjadikan Kanjeng Ratu Kidul sebagai permaisuri. Ritual, sesaji, dan upacara larung harus rutin dilakukan di puncak Merapi dan di Laut Selatan agar kedua kekuatan tersebut tidak menjadi destruktif dan menimbulkan bencana. Yang bisa berkomunikasi dengan kedua kekuatan gaib tersebut hanya raja, sedang rakyat hanya menjadi spectators, followers, pelaksana ritual dan dikonstruksikan untuk memercayainya.
Mitos tidak pernah berdiri sendiri menjadi sebuah cerita lepas dan menjadi narasi yang terasing. Mitos selalu memiliki konteks dengan proses alur berpikir yang tidak selalu mudah diterima akal sehat. Tapi serentak dengan itu juga, mitos juga sangat manjur mempengaruhi rasionalitas dan kesadaran orang. Oleh sebab itu tafsir mitologis pada hakikatnya berupaya mengungkap-meminjam istilahnya Immanuel Kant (1956)- noumena yang berada di balik phenomena. Cara pandang mitologi sangat berbeda dari cara pandang rasinal empirik/positivis. Mitos sendiri merupakan serangkaian keyakinan yang dianggap sakral, berbasis pada prasangka, seringkali berada di luar batas rasionalitas manusia yang belum tentu benar, dan sulit dibuktikan kebenarannya. Sebuah keyakinan yang belum tentu benar dijadikan mitos pada dasarnya bertujuan untuk melanggengkan status quo dari sebuah metanarasi, mempersatukan, menstabilkan kondisi, memberi harapan-harapan, bahkan menghegemoni, dan membodohi. Maka kedua mitologi yang berkembang atas Gunung Merapi mungkin saja sengaja terus dipelihara demi tegaknya kekuasaan kebudayaan, ekonomi, dan politik kelompok tertentu.
Proses pelucutan mitos dalam Paradigma Pengurangan Resiko Bencana
Paradigma Pengurangan Resiko Bencana tercermin dari definisi bencana alam itu sendiri. Dalam UU No. 24 tahun 2007, bencana alam dipahami sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah langsor. Selanjutnya resiko bencana dimengerti sebagai potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. Dalam paradigma ini, baik bencana maupun pengurangan resiko bencana menjadi sangat positivis/empirik. Dengan kata lain, melalui pengenalan karakteristik ancaman/bahaya (hazard) dan resikonya, mengubah kerentanan (vulnerability) menjadi peningkatan kapasitas, dan kesiapsiagaan dini melalui Early Warning System, diharapkan pengurangan/bahkan sedapat mungkin meniadakan potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana. Dalam konteks ini, mitologi bencana menjadi tidak relevan dalam pembicaraan Pengurangan Resiko Bencana. Pelucutan proses/kerangka pemikiran mitologi sedang berlangsung untuk masuk dalam tahap pemikiran positif/empirik. Demikian halnya dengan Gunung Merapi, mitologisasi mulai dilepaskan melalui pengetahuan modern yang direproduksi oleh orang-orang universitas dan digunakan pemerintah sebagai landasan kebijakan. Pengetahuan ini berbasis pada sebuha rasionalisme yaitu science dalam hal ini ilmu tentang kegunungapian (vulkanologi) yang dapat mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi perilaku Merapi. Dengan instrumen modernnya seperti seismograf, teropong inframerah, pemantau lahar elektronik, dan lain-lain, ilmuwan, birokrat, bupati, dan gubernur memiliki otoritas untuk membuat pernyataan, kebijakan pengungsian, dan proyek-proyek penanggulangan bencana. Dalam tahapan ini, apakah bisa dikatakan Pengurangan Resiko Bencana tidak membutuhkan mitologi bencana?
Penguranan Resiko Bencana juga menjadi mitos?
Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Early Warning System Tsunami itu akan mengurangi korban saat terjadi Tsunami? Garansi apa yang telah diberi mitologi atau sebuah rasionalitas terhadap keselamatan manusia di saat bencana? Kalau membuka kembali lembaran sejarah letusan Merapi tampak bahwa korban manusia tidak dapat dielakkan meski kita telah memiliki mitos dan ilmu vulkanologi sejak lama. Gunung ini pernah meletus lebih dari 68 kali sejak tahun 1548. Letusan terbesar terjadi pada Agustus tahun 1672 dengan jumlah korban tewas mencapai 3.000 orang. Sedang letusan tahun 1994 memakan korban sebanyak 69 orang tewas. Artinya, mitos-mitos tradisional, kerajaan, dan vulkanologi tidak dapat menjadi garansi keselamatan manusia. Bukan tidak mungkin vulkanologi dalam Pengurangan Resiko Bencana juga sudah menjadi mitos yang baru, karena atas dasar vulkanologi dapat diciptakan megaproyek Merapi yang nilainya hingga miliaran rupiah. Siapakah yang paling diuntungkan atas dominasi pengetahuan vulkanologi itu? Rakyat, elite pemerintahan, ilmuwan, atau pelaku bisnis?
Dua sisi mata uang dari sebuah Mitos
Dalam paradigma positivis, agama dan kepercayaan primitif dianggap mitos. Konsep bangsa sebagai imagined community-nya Ben Anderson adalah mitos, nasionalisme pun dinyatakan Lyotard (1989) sebagai mitos, keduanya berupaya menata sebuah peradaban dan masyarakat yang dicita-citakan -yang merupakan mitos pula. Bahkan para pemikir kritis mengatakan bahwa positivisme juga menjadi sebuah mitos dalam bangunan ilmu pengetahuan yang menganggap bahwa dirinya yang paling benar. Tampaknya sudah menjadi sifat dari mitos untuk selalu meyakinkan diri sebagai sebuah kebenaran yang tak terbantah. Walaupun begitu mitos tetap berada di antara ada dan tiada.
Demikian juga dengan Indonesia, berbagai bencana dan tragedi kecelakaan yang melanda bangsa Indonesia akhir-akhir ini pun tak sekadar dilihat dari perspektif ilmiah saja, tetapi juga secara mitologis. Ironisnya, ketika semua pihak menafsirkan via mitos atas segala yang terjadi, termasuk bencana di negeri kita, maka masyarakat awam akan kian terlelap dalam alam mitos yang di luar jangkauan rasionalitas manusia. Hal ini berbahaya ketika merambah pada hal yang seharusnya diselesaikan secara empiris, seperti kasus kecelakaan, bencana, dan lainnya karena human error. Tafsir mitologis ini biasanya membuat masyarakat menjadi pesimis akan masa depan, takut bepergian walau dalam kondisi cuaca bagus hingga menimbulkan kepanikan nasional, baik dalam benak masing-masing individu maupun masyarakat umum. Inilah sisi negatif penafsiran mitologis.
Walaupun begitu, tafsir mitologis tetap sah saja digunakan untuk “menafsirkan” atas bencana, karena memang terdapat sesuatu yang tak dapat dijelaskan secara rasional semisal kecocokan antara simbol-simbol yang ditunjukkan dalam bencana dengan mitos tertentu. Bahkan mitos justru diperlukan ketika memang orang-orang sudah kehilangan daya hidup, misal mitos yang diperankan oleh agama seperti dikatakan kaum positifis, karena agama memberi harapan akan adanya alam setelah mati sebagai hal yang tak dapat dibuktikan secara empiris. Akhirnya, efek negatif dan positif dari mitos adalah dua sisi mata uang yang sama. Adakalanya ia diperlukan sebagai upaya untuk memberikan harapan positif pada orang-orang yang putus asa. Terkadang ia diperlukan sebagai upaya pihak-pihak tertentu untuk menghegemoni dan membohongi masyarakat agar terlelap dalam ketidaktahuan, sebagaimana yang disinyalir paradigma kritis atas metanarasi. Namun ia harus ditolak ketika mengintervensi ranah empiris yang membutuhkan penyelesaian secara empiris pula.
(by silvester, JRS Tapsel)
setuju berat pater.
“kesimpulan terakhir” itu, kalo di islam yang ku anut ada pameo “pakai yang baik dan tinggalkan yang buruk”. termasuk kalau aku lagi cari sandal di masjid….. he he
kata bijak lainnya yang berhubungan dengan hal ini “hal-hal yang meningkakan risiko, hindarilah. hal-hal yang mengurangi risiko, lakukanlah. kalau tidak bisa melakukan semua, jangan ditinggalkan semua”
setuju
tapi sebaiknya jangan “menjauhi” kalangan elite spiritual maupun pihak pihak yang diuntungkan dari bencana.
sebisa mungkin rangkul/gunakan pengaruh mereka sebagai bagian dari pengurangan resiko bencana yang akan dilaksanakan pada suatu komunitas yang rentan.