Banjir di Manggamat
Laporan perjalanan , pukul 19.00 wib, 10 November 2008
Sore itu di Tapaktuan, mendung dan kabut cukup tebal, dimana sebuah tanda akan turun hujan lebat. Padahal kami Tim JRS yang terdiri dari Andy, Doni, Zul dan bang Dedy sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Desa Simpang Tiga kecamatan Kluet Tengah Kabupaten Aceh Selatan dalam rangka melakukan pelatihan kesiapsiagaan bencana (EPS) bagi masyarakat di Desa Simpang tiga.
Setelah persiapan perlengkapan dirasakan cukup lalu kami berangkat dengan menggunakan kendaraan mobil kijang yang dikendarai oleh bang Dedy menuju ke Simpang tiga, belum lima menit lamanya berjalan hujan turun dengan lebatnya, kira-kira ada sekitar 45 menit hujan mengguyur.
Saat di perjalanan tepatnya di sepanjang daerah perbukitan Gunung Punding, pinggiran sungai menggamat, ada sekitar 7 kali terjadi longsor yang kita temui walaupun tidak sampai menutup seluruh badan jalan, tapi mobil kami masih bisa lewat namun cukup rawan melewatinya karena apabila terjadi longsor dari sisi kiri dan disisi kanan jurang yang sangat curam dan tanpa pembatas pengaman jalan, sehingga pengendara mobil harus berhati-hati melalui jalan tersebut. Sesampai di desa Mersak–Menggamat, dimana ada satu jembatan yang sedang direnovasi, terlihat air sungai yang deras dan kayu-kayu yang ditata untuk lewat kendaraan sudah hanyut terbawa derasnya air. Dan ketinggian air sungai naik sekitar 1,5 meter. Dan tentu saja mobil yang kita kendarai tidak bisa melewati jembatan tersebut, yang artinya kita tidak bisa tiba hari ini ke desa Simpang Tiga. Begitu pula dari arah Simpang Tiga tidak bisa ke luar ke arah Kota Fajar. Tim JRS juga sempat bertemu pak keuchik yang juga turun langsung melihat kondisi jembatan yang putus tersebut.
Berdasarkan informasi salah seorang warga dusun Mersak, bahwa di dusun Mersak saat itu ada 17 rumah warga yang sudah terendam air dengan ketinggian sekitar 1 meter. Lalu kami meninjau lokasi tersebut dan mengambil beberapa gambar. Diinformasikan juga, bahwa banjir ini jarang terjadi, banjir yang terjadi ini akibat banjir kiriman, yang mengalir dari sungai alur baluh anak sungai menggamat dan meluap masuk ke pemukiman warga khususnya di wilayah yang cukup rendah posisinya.
Dari pandangan mata juga terlihat kebun-kebun, pekarangan rumah penduduk juga terendam air. Dan beberapa penduduk sedang menguras air yang masuk kedalam rumah mereka, juga banyak bergantungan pakaian dan perabotan ditempat yang lebih tinggi di dalam rumah agar tidak terkena genangan air. Bahkan banjir juga dirasakan hingga di pasar Koto Menggamat hingga ke jalan-jalan dan masuk kerumah penduduk, hal ini disebabkan dari meluapnya air sungai menggamat. Selain itu kami juga belum menerima laporan ada korban dari banjir tersebut.
Dari diskusi dengan penduduk banjir ini memang sering terjadi akhir-akhir ini, dikarenakan intensitas curah hujan makin meningkat, masyarakat juga kawatir kalau-kalau banjir ini akan membesar, tentu akan menggangu perekonomian, kesehatan dan korban jiwa. Semoga saja banjir kali ini tidak dibenarkan masyarakat seperti apa yang dikatakan salah seorang ustad muda dari Desa Simpang Dua bahwa banjir dan longsor ini terjadi karena adanya kegiatan olahraga bola volley putri dampingan JRS yang dilakukan di desa tersebut. (by andy)
mudah2an karno gidi hasi no gat critono, lot tanggapan citok