TIGA HARI TERASA SEBULAN
Semenjak persiapan mau berangkat dari kantor JRS Medan menuju lokasi kegiatan maupun jenis kegiatannya apa peserta tidak ada yang tahu dan ini sengaja di rahasiakan oleh panitia, peserta ibarat kapal yang patah kemudinya di tengah samudera dan membiarkan kapal berlayar kemanapun angin akan membawanya, bagitu juga dengan para sopir yang waktu itu menyetir membawa teamnya seolah memegang kemudi di atas kemudi, dengan kata lain selama kegiatan ini berlangsung peserta di tuntun kerjasamanya sebagai anggota team dengan berfokus pada “satu pengendali†demi tercapainya tujuan bersama dalam team.

Sebelum kegiatan pertama jelajah Arung Jeram di mulai, panitia membagi peserta dalam 7 team (satu team 6 orang) dan dalam waktu yang begitu cepat peserta di beri kesempatan untuk saling mengenal anggota teamnya serta membangun kerja sama yang baik sebagai team, selama kegiatan Arung Jeram berlangsung peserta lebih di ajak bagaimana cara membangun persahabatan dengan alam sekitar, perjalanan jelajah Arung Jeram telah menyadarkan aku bahwa sia-sia kalau kita ingin menguasai kekuatan alam, ini terbukti saat aku terjatuh dan agak panik ingin cepat naik kembali ke perahu tapi tidak berhasil, lalu anggota team yang ada membantu aku masuk kembali kedalam perahu dan team kami berhasil menyelesaikan jelajah Arung Jeram dengan hasil cukup memuaskan.
Setelah makan siang kami melanjutkan etape berikutnya menuju Berastagi, walau kegiatan Arung Jeram sangat menguras mental dan fisik peserta namun karena kerja team maka kami masih semangat melanjutkan perjalanan sambil mengerjakan beberapa tugas yang di berikan panitia, setibanya di Berastagi team juga mendapat tugas yang harus di kerjakan selama perjalanan dari Berastagi menuju Tiga Ras, di tengah perjalanan kami di minta mampir di sebuah kafe yang terletak di wilayah Simarjarunjung, tantangan alam dalam perjalanan Berastagi menuju Simarjarunjung cukup berat membuat para sopir harus lebih waspada membawa teamnya karena harus melewati malam yang di selimuti hujan dank abut, sambil menunggu team yang lain kami minum dan makan apa adanya yang di sediakan oleh panitia, kami menunggu agak lama karena salah satu team mobilnya mogok dan terpaksa di tarik oleh mobil team yang lain.
Selesai makan kami bergerak lagi menuju Tiga Ras, mobil team yang mogok di tinggalkan di Simarjarunjung, sementara penumpangnya pindah ke mobil panitia yang kebetulan bisa di pakai, tiba di pelabuhan penyeberangan Tiga Ras semua sibuk memindahkan barang ke kapal yang sudah siap menunggu kedatangan kami, mobil di parkir di areal pelabuhan karena memang mobil tidak bisa masuk dan rute yang di tuju tidak membutuhkan mobil, ketika semua sudah masuk ke kapal kami berangkat menuju Pulau Tao yang terletak tidak jauh dari Pulau Samosir (sekitar Simanindo), sampai di Pulau Tao peserta di minta tetap dalam team menempati tenda-tenda yang telah di sediakan oleh panitia, karena ngantuk dan capek aku langsung tidur, ketika terbangun sudah berganti hari.
Memasuki hari ke dua, setiap team mendapat bambu 7 batang (4 panjang - 3 pendek), tali dan 4 ban dalam mobil, instruksinya adalah tiap team di minta membuat rakit dengan bahan yang ada bentuknya terserah peserta, kamipun mulai sibuk merakit sesuai bentuk yang di sepakati team, selesai merakit peserta di minta mengenakan baju pelampung dan mengambil alat untuk mendayung, selanjutnya peserta mulai berbaris di garis start, siaaap….. uuuungggg bunyi sirene memecah suasana tegang peserta yang sebagian besar belum yakin dengan hasil rakitannya apa berhasil atau tidak, dengan semangat dan kekompakan team akhirnya semua mampu mencapai tujuan yang di instruksikan panitia, setiba di sana langsung menuju warung untuk makan siang, setelah makan siang ada tugas dari panitia untuk membagi-bagi kaca mata buat warga Simanindo yang berada di sekitar warung tempat kami makan dengan pesan mereka yang mendapat kaca mata harus melakukan kebaikan kepada sesama di sekitarnya, lalu kami berkumpul kembali di tempat kami menyimpan rakit, sambil menunggu angin reda kami menyelesaikan dua permainan yang telah di atur oleh panitia, selanjutnya kami mulai mendayung kembali ke Pulau Tao, malam masih ada acara namun aku tidak bisa ikut karena sakit.
Kegiatan hari ke tiga berlangsung di Pulau Tao, ada beberapa permainan yang di buat oleh panitia sampai makan siang, setelah makan siang kami di minta ambil posisi yang nyaman untuk tidur sambil mendengarkan aba-aba dari pak Cahyo, beliau mencoba memandu peserta untuk bisa tertidur pulas, ketika suasana mulai hening ada yang ngorok, hahaaaaa ternyata aku yang ngorok sampai Ramot pidah tempat heheee dan setelah itu tiap team di minta membuat tempat sampah sebagai kenang-kenangan di Pulau Tao, setelah makan malam peserta di minta menyiapkan barang bawaannya untuk di titipkan ke panitia dan kami hanya boleh bawa matras dan sleeping bad, kami berangkat ke Simanindo, setiba di sana kami di bagi satu bungkusan yang isinya tali, lilin, korek api dan satu botol aqua, kami di antar ke semak belukar dan sengaja di pisahkan satu-satu dan tidak ada yang tau di mana rekannya yang lain, aku langsung tidur dengan pulasnya, aku terbangun saat demamku kambuh dan menggigil, setelah reda demamnya tidur lagi aaaaahhhh!!!!
Pagi aku terbangun mendengar bunyi toa dari panitia, satu per satu mulai bermunculan dari balik semak dan bergerak ke arak bunyi toa tempat panitia menunggu kami, setelah semua berkumpul kami menuju warung tuk sarapan dan bagi yang sudah sarapan langsung menuju kapal yang akan menjemput kami, sampai di Pulau Tao kami menyiapkan barang-barang untuk pulang, kebetulan masih ada waktu tersisa jadi panitia meminta semua berkumpul di kafe yang ada di Pulau Tao dan pak Cahyo sebagai ketua panitia mengucapkan terimakasih atas terselenggaranya acara Team Building dan pesertanya sangat luar biasa katanya, ketika berbicara arti sebuah persahabatan beliau teringat salah satu rekan seteamnya yang cerita lengkap aku kurang menangkap karena suasana berubah jadi sedih bahkan banyak yang ikut larut kesedihan tanpa di sadari air matapun bergelinang, beliau meminta agar setiap peserta menepuk teman di sebelahnya sambil berkata “ teman kamu yang terbaik “ dan permiantaan terakhir setiap perserta menulis apapun lalu di isi dalam botol yang di beri beban agar bisa di tenggelamkan ke danau pertanda apa yang ingin di lakukan dan di impikan terlukis di dasar danau Toba dan alam sekitarnya menjadi saksi.
Sampai di pelabuhan penyeberangan Tiga Ras kami langsung menuju mobil yang telah di siapkan, dua mobil langsung menuju Tapak Tuan sedangkan lima mobil lainnya menuju Medan, nasib kurang beruntung berpihak pada mobil kelompok kami di mana baru akan keluar dari pelabuhan gembos bannya dan kami coba ganti dengan ban serap tapi lagi-lagi ban serap kosong anginnya, akhirnya mobil bisa jalan atas kebaikan pak Cahyo meminjamkan ban serap mobilnya, sampai di simpang Tiga Ras kami harus tukar ban lagi karena pak Cahyo dkk berbeda arah dengan kami, dan ban di ganti dengan ban serap kijang sewaan yang di kendarain mas Vembry, selanjutnya ban yang bocor bari bisa di tubles di Siantar saat kami makan siang dan langsung di pasang kembali karena ban serap mobil sewaan akan di kembalikan, akhirnya sampai juga di Medan .
Semoga apa yang telah kita dapat selama proses Team Building akan menjadi pegangan bagi setiap peserta dalam membenahi diri untuk meraih impiannya serta mampu membangun persahabatan tanpa syarat seperti yang ungkapkan oleh mas Yopi baik dengan sesama maupun alam sekitarnya, satu langkah lagi, satu langkah lagi dan seterusnya kita pasti mampu menyelesaikan apa yang sedang kita kerjakan sesuai dengan kemampuan setiap individu, Amin………….
(By Hans)
halo all..
siapapun yang kenal sama ditto (JRS LAMNO) add facebook di : gisellevy@gmail.com
thanks.. miss u all JRS Aceh Team…