Menolak Bala di Hari Rabu Habeh: Sebuah Sinergi Dukun dan Teungku Untuk Melindungi Desa
Hari Rabu terakhir (Rabu Habeh) pada bulan Safar, bulan kedua Hijriah, adalah hari yang khusus bagi penduduk desa di Aceh Selatan khususnya dan Nanggroe Aceh umumnya. Pada hari itu, penduduk desa berkumpul di pinggir sungai atau pantai bagipenduduk desa pesisir, mereka menghayutkan sesaji, sebagian orang mengaji dan melafalkan tahlil, selama setengah hari. Surat yang dibaca, biasanya Al Baqarah, QS Al Kahfie dan Surat Yasin. Saat itu seluruh warga desa, mengadakan upacara tolak bala (musibah). Bala dalam alam pikiran mereka, adalah penderitaan yang disebabkan oleh roh-roh halus, seperti penyakit dan kemalangan-kemalangan lainnya. Ketika seorang kakek di Koto Indarung ditanya, apakah menolak bala termasuk mencegah bencana, seperti banjir dari Sungai Kluet misalnya, dia menjelaskan masalah bencana adalah masalah kuasa alam, tidak berhubungan dengan roh-roh, sedangkan upacara tolak bala dimaksudkan untuk mengusir roh-roh yang bias mengganggu di desa.
Di desa Koto Indarung dan Siurai-urai, sejak jam 8 pagi, seluruh warga ramai-ramai pergi ke pinggir sungai Kluet, mendirikan tenda, dan rumah-rumah pun sepi terkunci. Untunglah banyak keluarga di Koto Indarung dan Siurai-urai memiliki tenda, pemberian saat mereka mengungsi masa konflik dulu. Mereka mendirikan tenda di pinggir aliran sungai di Dusun Tengah, yang kini telah semakin bergeser ke arah barat dan menjauh dari garis batas desa, sehingga penduduk harus melewati jalan licin bebatuan bekas aliran, dan juga endapan-endapan sungai yang telah telah ditumbuhi semak.
Tiga tahun lalu, mereka mengadakan upacara di Dusun Padang di bagian selatan desa, namun sekarang hamparan pinggir sungai di Dusun Padang itu telah tergerus arus. Aliran Sungai Kluet memang selalu berubah, kadang bisa menguntungkan manakala terbentuk endapan baru, tapi kadang merugikan ketika aliran itu menghantam sawah dan pekarangan ataupun batas desa. Siang itu matahari cukup terik, hujan lebat tampaknya enggan mampir ke desa itu, juga di Aceh Selatan umumnya, sehingga air sungai Kluet tampak jernih, dan volume air agar surut, namun aliran tetap deras pada batang sungai yang lebarnya kira-kira 30 meter. Anak-anak dengan suka cita mandi di pinggir sungai sambil bermain dengan menghayutkan diri. Ada juga sebagian ibu maupun bapak muda yang mempunyai anak kecil memandikan anak mereka. Anak-anak benar-benar menikmati keriangan, sambil disaksikan orang tua mereka yang berteduh di tenda. Masing-masing keluarga membawa makanan, baik snack seperti kue timpan, pisang goreng, ketupat singkong, lemang maupun ketupat ketan (pulut). Snack biasa dimakan, namun nasi dan lauk masih disimpan, meski hari telah siang. Aba-aba makan nasi kenduri datang dari dukun desa, ketika acara mengaji sudah selesai, barulah bekalmakan siang boleh dibuka dan dinikmati bersama. Sambil menunggu, cerita-cerita pun meluncur.
“Saat konflik dulu, sebelum kita mengungsi ke Tapaktuan, pernah saat upacara begini, ada kontak senjata di Jambo Teka, orang lari semua, bekal kenduri ditinggal. Saat itu saya sedang makan, tetap makan. Memang suara tembakan terus terdengar,†kata Cut Min, Keucik Siurai-urai. Jambo Teka adalah nama salah satu dermaga di pinggir sungai Kluet di Desa Koto, Kluet Tengah, kira-kira 1,5 km ke arah hulu dari Koto Indarung. Cut Min menceritakan pengalaman saat konflik dengan cair, ringan dan penuh tawa, yang juga ditimpali oleh seorang nenek dari Koto Indarung. Pengalaman getir dan sedih, ketika diceritakan kembali pada momen yang sama ketika situasi telah berubah, bisa menjadi cerita pelipur lara ataupun penghiburan tersendiri, serta permenungan.
Di tempat yang teduh dan bisa didirikan tenda yang luas, sekelompok laki-laki dewasa, dipimpin oleh Teungku Imum Cik membaca al Quran, sejak jam 10.00. Surat yang dibaca Al Baqarah (sapi betina), Al Kahfie (gua) dan Yasin. Dua surat pertama tidak dibaca seluruh surat, sekitar tiga sampai empat halaman (tiga tanda batas huruf ‘ain, atau tiga ruku’). Setelah selesai baca Surat Yasin, baru dilan
jutkan dengan baca tahlil, namun sebelum tahlil ada sesaji khusus yang harus dihanyutkan ke sungai dengan rakit batang pisang yang dihias dengan daun kelapa muda (janur). Sesaji itu berupa ayam warna putih, nasi putih dan kuning, gulai ayam, jeroan ayam hati dan rempela, kue apem, timpan, ketupat ketan, pisang goreng. Sesaji itu, diberi mantra dulu oleh sang dukun, pak Yusuf (sekitar 65’thn), lalu dengan dipandu oleh tiga pemuda, sesajen itu pun dihanyutkan ke sungai. Urusan sesaji adalah wilayah kekuasaan dukun, sedang urusan mengaji di tenda adalah wilayah para teungku dan beberapa orang yang bisa membaca al Quran dan melafalkan tahlil.
Setelah tahlil selesai dilanjutkan dengan makan nasi kenduri. Dan para keluarga yang telahmembawa bekal dari rumah, diperbolehkan menikmatinya. Tugas dukun bukan berhenti di sini, dia masih punya tugas untuk melakukan tepung tawar secara massal. Saat menjelang siang memang piranti tepung tawar sudah disiapkan. Dukun Yusuf berkeliling mengambil beras dari masing-masing keluarga, satu kantong plastik ukuran 0,25 kg, dia juga memimpin untuk jalannya upacara ini dengan menyuruh anak-anak muda untuk memindahkan sampan ke tempat yang lebih luas. Sampan kecil ini merupakan tempat sesajian untuk tepung tawar, yang dipenuhi daun-daunan (seperti daun durian, daun pinang, daun panggang babi dan segala daun-daun yang diambil dari pepohonan yang tumbuh di pekarangan maupun sawah mereka). Beras yang telah dikumpulkan oleh dukun Yusuf pun dimasukkan ke dalam sampan, sebagian orang mengambil air dari sungai dengan ember, sebagian lagi menata daun-daun dedaunan yang menumpul di sampan. Lalu nasi pulut kuning dan kue apem yang tadi sudah didoain di acara tahlil, dicampur air..diaduk…lalu dimasukkan juga ke sampan. Dukun Yusuf pun membaca mantra di ujung perahu, tanda upacara tepung tawar akan dimulai. Orang-orang mulai ramai mengelilingi perahu, tua muda, laki perempuan, anak-anak dan dewasa sama saja mengerubungi perahu yang sedang dimantrai oleh dukun desa Koto Indarung.
Tatkala mantra sudah selesai, dan dukun pun membasuhkan air tepung tawar ke mukanya, lalu ikatan daun itu pun dicelupkan ke air di sampan lalu dicipratkanlah ke kerumunan. Cipratan air itu pun menandai tepung tawar dan tolak bala. Orang pun ramai berebut daun dan air, ada yang membasuh muka, mengisi ke botol. Ada semacam keharusan untuk mengambil daun itu, untuk dibawa pulang dan digantungkan di atas pintu rumah, kata seorang warga. Bahkan ada yang menyimpan air tepung tawar itu, sampai berbulan-bulan, menurut mereka air tersebut bisa untuk obat manakala di keluarga ada yang sakit. Ketika orang ramai sudah tidak berebut, beberapa bapak dan ibu muda membawa anak yang masih di bawah dua tahun untuk dibasuh dengan air di sampan. Seperti dilakukan July yang membasuh anaknya sambil tertawa tawa ketika diambil gambarnya. Setelah semua orang mendapatkan daun dan juga menyempatkan diri membasuh muka dengan air tepung tawar, acara tolak bala pun selesai.
Satu persatu orang-orang membongkar tenda, dan dua anak muda membersihkan perahu dan sisa sesaji..dan mengembalikan ke pemiliknya dengan didayung ke arah hilir. Dan semua warga pun pulang ke rumah masing-masing melewati tanah endapan dan bekas-bekas aliran yang licin. Semua tampak akrab. Dukun desa telah usai menjalankan tugasnya, para teungku telah panjatkan doa, keduanya bersinergi, demi menolak bala di desa. Semoga !!!.
(by Daryadi)