Home > Opini Personal > Kaca Mata Baca Buat Mama Ros

Kaca Mata Baca Buat Mama Ros

March 4th, 2009

Di Pertengahan Bulan Januari 2008 yang lalu, kami dari JRS mengadakan acara Capacity Building yang tujuannya untuk membangun kerjasama dan kekompakan antar sesama tim di JRS. Kegiatan kami tersebut diselenggarakan di Pulau Samosir di sebuah pulau di tengah sebuah Danau Toba di Sumatera Utara.

Dari berbagai kegiatan yang saya jalani, ada satu kegitan yang sangat membuat saya bahagia sekaligus terharu yaitu pada sesi dimana seluruh peserta pelatihan yang berjumlah 42 orang dititipkan kaca mata baca (rabun dekat) oleh panitia, Kami diberi tugas, yang tugasnya adalah seluruh peserta diminta menemui masyarakat yang ada di pulau tersebut dan memberikan cuma-cuma kaca mata tersebut kepada masyarakat yang ditemuinya. Dan sekaligus menitipkan pesan agar suatu saat seandainya orang tersebut berbahagia maka bisa membagikan sedikit kebahagiaannya kepada orang lain.


Tugas ini sebenarnya mudah tapi juga tidak gampang karena ukurun kaca mata baca yang diberikan berbeda-beda mulai dari 1 (+)  sampai  3 (+) sehingga orang yang ditemuipun saat ditawarkan kaca mata baca tersebut belum tentu cocok dengannya.

Akhirnya panitia dari Bina Alam membagikan satu persatu kaca mata tersebut kepada kami, saya mendapatkan kaca mata dengan ukuran 1,5 (+), beberapa teman sudah sangat aktif mencari warga penduduk ada yang datang kerumah-rumah, ada yang menyetop pengendara motor di jalan, dan ada yang ke pinggir danau.

Saya sendiri berjalan mengikuti arah kaki melangkah, saya menuju ke lokasi museum Batak, sesaat saya kebingungan mencari orang yang ada di sana karena kondisinya masih sepi. Lalu saya berjalan kira-kira seratus meter dari pintu masuk dan saya melihat ada seorang ibu yang sibuk membersihkan lahan pekarangan/taman.

Dalam hati saya saya berkata “Itu dia orang yang saya cari” kemudian saya mendekatinya dengan penuh semangatnya, seperti seorang sales kaca mata, saya berlagak menawarkan dagangan kepadanya. Tepat kira-kira 10 meter darinya dia masih sibuk membersihkan lahan dengan posisi membelakangi saya.  Saya kemudian  mengucapkan, “Selamat pagi Bu” Ucapku, kemudiaan dia menoleh dan berdiri sedikit kebingungan kepada saya.

Saya langsung mendekatinya dan meperkenalkan diri, dan berkata “ Ibu saya Andy dari JRS, saya sedang pelatihan disini, dan saya diminta oleh tim kami untuk membagikan kebahagiaan kepada ibu, nama ibu siapa, begitu saya bilang. Panggil saja ibu Mama Ros katanya. Lalu dia bertanya pada saya.” Apa itu nak..? saya berkata “ saya membawa kaca mata baca buat Ibu”, sambil saya menunjukkan dan memberikan kaca mata saya padanya. Lalu ibu itu sambil sedikit kebingungan tangannya menerima kacamata dari tanganku, dan dilihat-lihatnya serta berkata , Nak Ibu sudah punya, ibu tidak punya uang untuk membelinya, namun yang ibu punya memang sudah tidak bagus lagi katanya.
Ibu coba saja dulu mungkin cocok dengan ibu, Kata ku. Dia mungkin masih ragu-ragu, dan berpikir harus membayarnya, namun perlahan-lahan ibu itu memakainya.

Wah, terang sekali, ini lebh terang dari yang ibu punya Nak, katanya. Kalau begitu silahkan ibu miliki kaca mata ini buat Ibu  dan gratis, timpalku. Disitu saya melihat ekspresi wajahnya yang langsung terlihat bahagia dan terharu, tak sadar saya sendiripun menjadi terhanyut oleh suasana tersebut. Jujur mata sayapun ikut berkaca-kaca mendengar jawaban dan ekspresi wajah Mama Ros.

Mama Ros langsung memeluk dan menjabat tangan saya, selayaknya melakukan saya seperti anaknya sendiri. Suasana jadi makin haru, dan sambil saya berusaha agar tetap tegar didepannya, saya mengatakan pesan dari panitia, ” Mama, apabila dilain waktu mama mendapatkan kebahagiaan, agar mama juga berbagi kebahagiaan dengan orang lain” kataku.

Mama Ros juga bercerita bahwa, di pulau itu banyak orang tua yang sulit membaca karena matanya sudah cukup rabun dan tidak mampu untuk membeli kaca mata, termasuk saudara nya sendiri. Selanjutnya Mama Ros juga mengatakan bahwa dia bersama suaminya adalah penjaga kebersihan di Musium Batak tersebut. Dia senang sekali mendapatkan kaca mata tersebut, dan tak henti-henti wajahnya tersenyum bahagia menatapku. Tak lama kemudian saya pamit untuk kembali ke posko kami.

Dari sesi kegiatan ini, saya menarik pelajaran berharga sekali dan merasa apa yang sudah saya lakukan walaupun hanya kecil namun sangat berarti buat orang lain itu sebauh hikmah dan pengalaman yang luar biasa bagi saya.

Semoga pengalaman nyata saya ini akan terus menjiwai saya dalam menjalankan kehidupan dan bisa bermanfaat bagi orang banyak, khususnya orang-orang yang kurang berkecukupan dan butuh pertolongan. Semoga cerita ini juga bermanfaat bagi yang membacanya.

Terima kasih Tuhan, dan berkatilah kami semua dalam kebahagiaan selalu. Amin….

by Andy Armansyah

admin Opini Personal

  1. May 2nd, 2010 at 17:10 | #1

    mudah2 mudahan juga bisa menjadi pengalaman yang berharga buat kita semua