Understanding The Uncertain Reality
Di sudut gedung SDN 3 Kota Fajar keriuhan baru saja mulai. Sementara di kelas lain anak-anak sudah seperempat jalan menyimak pelajaran, di sudut ini sepertinya chaos, tidak ada guru yang masuk memberi pelajaran. Namun kali ini bukan suara anak-anak yang merayapi dinding-dinding kelas, sebaliknya frekuensi bass, bariton, sopran dan sedikit alto yang mendominasi. Ternyata kali ini bukan anak-anak yang dipaksa duduk manis di ruang kelas. Mereka adalah kepala sekolah, guru dan anggota komite. Kehadiran mereka di sekolah ini bukan untuk mengulang romantisme masa lalu. Pun untuk berkutat dengan kurikulum besar yang hampir setiap tahun selalu berganti wujud. Dahi mereka tidak sedang mengernyit, menguras ide menerjemahkan sains, matematika, IPA atau PPKN dalam bahasa keseharian anak. Di tengah rambatan gerimis yang membawa dingin, mereka berkutat dengan pengalaman akan sesuatu yang selama ini mungkin diartikan sebagai sebuah fenomena alam atau takdir Tuhan yang tidak dapat diubah.