Home > Aceh > Understanding The Uncertain Reality

Understanding The Uncertain Reality

March 16th, 2009

Di sudut gedung SDN 3 Kota Fajar keriuhan baru saja mulai. Sementara di kelas lain anak-anak sudah seperempat jalan menyimak pelajaran, di sudut ini sepertinya chaos, tidak ada guru yang masuk memberi pelajaran. Namun kali ini bukan suara anak-anak yang merayapi dinding-dinding kelas, sebaliknya frekuensi bass, bariton, sopran dan sedikit alto yang mendominasi. Ternyata kali ini bukan anak-anak yang dipaksa duduk manis di ruang kelas. Mereka adalah kepala sekolah, guru dan anggota komite. Kehadiran mereka di sekolah ini bukan untuk mengulang romantisme masa lalu. Pun untuk berkutat dengan kurikulum besar yang hampir setiap tahun selalu berganti wujud. Dahi mereka tidak sedang mengernyit, menguras ide menerjemahkan sains, matematika, IPA atau PPKN dalam bahasa keseharian anak. Di tengah rambatan gerimis yang membawa dingin, mereka berkutat dengan pengalaman akan sesuatu yang selama ini mungkin diartikan sebagai sebuah fenomena alam atau takdir Tuhan yang tidak dapat diubah.

Immanuel Kant, seorang filsuf rasionalis mengatakan bahwa pengalaman tidak lebih bagus daripada rasio dalam kemampuan untuk memberi kita pengetahuan atas realitas dunia di luar karena kongruensi (keselarasan) antara persepsi-persepsi indrawi kita dengan objek-objek eksternal tak pernah bisa divalidasi.[1] Namun sebuah pengalaman empiris bisa menjadi pintu masuk untuk memahami realitas di luar secara lebih objectif. Itulah yang dilakukan 24 peserta pelatihan ‘Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Untuk Komunitas Sekolah’. “Peserta terlihat mudah memahami materi tentang bencana karena kondisi itu sering mereka hadapi,” ungkap Enggal, salah seorang staf JRS untuk Project Sekolah. Pengetahuan empiris mereka tentang bencana selama tiga hari itu ditatapkan dengan sebuah mekanisme kognitif tentang menjadi siap ketika bencana terjadi.

“Harapan pelatihan ini memang tidak muluk. Paling tidak peserta tahu soal ancaman dan karakternya serta mekanisme-mekanisme dasar kesiapsiagaan seperti sistem peringatan dini dan protap,” terang Amsa, Koordinator pelatihan EPS (Emergency Preparedness System) bagi sekolah-sekolah di kluster I. “Hasil akhir yang kita harapkan adalah bahwa sekolah punya protap untuk masing-masing bencana. Syukur kalau protap sekolah terintegrasi atau sejalan dengan protap desa,” tambah Elis, Koordinator Project Sekolah.

Tanggal 2-4 Maret 2009 seolah menjadi titik awal yang membuka cakrawala pandang baru tentang bencana. “Tadinya kami pikir kalau banjir pasti bencana, padahal dibilang bencana kalau sudah merugikan bagi manusia, entah korban jiwa, harta benda,” ungkap Nurmawati, guru SDN 3 Kota Fajar. “Kami baru tahu bedanya ancaman dan bencana,” sambut Hamdani, guru SDN Alur Mas. Pendekatan yang digunakan untuk pelatihan ini dibuat sesistematis mungkin dengan tahapan urutan yang jelas untuk membangun sebuah pemahaman baru tentang bencana. Pengetahuan tentang ancaman dan karakteristiknya mendapat porsi yang cukup besar mengingat inilah materi dasar yang harus terus menjadi acuan di tahap-tahap selanjutnya. “Dua materi awal ini sangat penting, karena kalau peserta salah memahami ancaman, bencana, resiko, kerentanan atau kapasitas ke belakangnya pasti akan terbawa terus,” tegas Entis Sutisna, salah satu fasilitator materi ini.

Ketertarikan dengan objek-objek di luar realitas kita disebabkan oleh pengalaman visual kita, aural, sentuhan atau efek-efek lain yang bersifat langsung dan tak teragukan. Idealisme inilah yang dibangun selama pelatihan tiga hari tersebut. Dalam bahasa seorang pendidik, idealisme ini bernama metode PAKEM (Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan).[2] Metode ini dikembangkan dalam pelatihan kesiapsiagaan bencana bukan tanpa alasan. Persepsi masyarakat yang sudah cukup lama bergaul dengan bencana bisa menganggap situasi ini sebagai sebuah rutinitas hukum alam yang menjadi biasa atau apatis dan menganggap ini sudah digariskan Yang Diatas sehingga tidak perlu melakukan mekanisme apapun untuk menghadapinya. Melalui permainan, dinamika kelompok dan diskusi, prinsip-prinsip yang mendasari sebuah sikap siaga menghadapi bencana tergali dengan sendirinya. “Mereka (peserta) antusias ketika kita berangkat dari pengalaman mereka sendiri. Standar-standar manajemen barak misalnya ditemukan dalam kelompok ketika menggambar situasi barak pengungsian,” papar Elis. “Bahkan ada hal-hal baru yang ditemukan dari diskusi-diskusi semacam itu,” jelasnya lagi.

Dinas Pendidikan Aceh Selatan melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Darwis Azis menyambut baik metode pelatihan yang digunakan JRS. “Metode yang digunakan JRS termasuk dalam metode PAKEM. Harapan kami adalah agar bapak dan ibu bisa mengembangkan metode semacam ini dalam kegiatan belajar mengajar di kelas,” pesannya. Peserta sendiri merasa terbantu dengan banyaknya porsi untuk tugas-tugas dalam kelompok karena kehadiran mereka dihargai dan pendapat mereka didengar. “Kami jadi lebih merasa terlibat dalam pelatihan JRS ini karena apa yang didiskusikan adalah pengalaman kami sendiri,” ungkap M. Hakim, guru SDN Koto Indarung. “Ada banyak kesempatan untuk bertanya dan mengungkapkan pendapat,” tambah Cut Fitriah, guru asal SDN Alur Mas. Inilah esensi pendidikan yang sebenarnya. Educare berarti mengusahakan sesuatu dari proses dinamis.[3] Educare juga dekat dengan educere yang berarti mengantar atau menuntun keluar keluar dari: kesempitan, keterbelakangan, kebodohan atau kegelapan budi. Inilah yang oleh Paulo Freire-salah satu pemikir bidang pendidikan yang paling berpengaruh pada abad 20-disebut Pendidikan sebagai Praktek Pembebasan[4].

“Saya senang bisa ikut pelatihan JRS karena sebelumnya kami dari komite sekolah belum pernah dilibatkan dalam pelatihan bersama guru atau kepala sekolah,” terang Amat Mahli, anggota komite sekolah SDN Lawe Sawah. Pendidikan seharusnya membuka ruang seluas-luasnya kepada setiap orang untuk mengembangkan pengetahuannya baik kognitif, empiris maupun afektif. Sangat disayangkan lembaga partner sekolah teralienasi dari sekolah itu sendiri.[5] Bahkan dalam beberapa kasus, komite menjadi sangat inferior, tidak punya bargaining power dihadapan kepala sekolah dan dewan guru. Setidaknya apa yang dilakukan JRS ini menjadi awal untuk membuka sekat antara sekolah dan komite untuk keluar dari ambiguitas yang membuat komite menjadi sangat impoten. Harapan JRS tampaknya sejalan dengan garis strategi pendidikan nasional yang dihasilkan dari urun rembug nasional beberapa waktu lalu. ”Salah satu rencana pendidikan nasional adalah menguatkan kembali komite sekolah sehingga komite punya tanggung jawab yang sama terhadap kualitas pendidikan di sekolah,” tegas Darwis Azis. “Komite diharapkan punya peran lebih besar ketika terjadi persoalan di sekolah,” tambah Darwis lagi.

Pengetahuan tentang bencana menjadi absolut di Indonesia mengingat potensi ancaman baik alam maupun manusia yang menyebar di bentangan khatulistiwa.[6] Menjadi sangat tidak adil ketika pengetahuan ini dikuasai segelintir kelompok elit yang karena posisi dan perannya mempunyai akses yang lebih luas. Ketika pengetahuan menjadi milik bersama maka kita menciptakan sebuah ruang virtual dimana manusia membiarkan dirinya digembleng kurikulum hidup sehingga terciptalah cakrawala baru hasil korelasi antara masa kini aktual (ruang pengalaman kini) dan tradisi (ruang pengalaman faktual, sudah terjadi, masa silam, tetapi punya arti untuk masa kini).[7]

[1] lih Critique of Pure Reason (1781)

[2] Fokus PAKEM adalah pada kegiatan siswa di dalam bentuk group, individu, dan kelas, partisipasi di dalam proyek, penelitian, penelidikan, penemuan, dan beberapa macan strategi yang hanya dibatas dari imaginasi guru. Phillip Rekdale (Jakarta, November 2005)

[3] Secara etimologis educare (akar kata education) berarti e-x (keluar dari) dan ducare (menumbuhkan, memelihara, membesarkan, mendidik, mengusahakan).

[4] Paulo Freire lahir lahir di Recife, Brazil, pada 19 September 1921. Setelah berkarir sebagai pengacara, dia mengajar bahasa Portugis di sekolah menengah selama 6 tahun (1941-1947). Dia kemudian aktif dalam pendidikan untuk orang dewasa dan kaum pekerja serta menjadi Direktur pertama pada Departemen Kebudayaan, Universitas Recife (1961-1964). Dirinya menjadi terkenal karena berusaha menuntaskan buta huruf di Timurlaut Brazil. Ketika junta militer melakukan kudeta pada 1964, Paulo ditahan dan dipaksa tinggal dipengasingan selama lebih dari 15 tahun. Karya Paulo Freire yang paling terkenal adalah Pedagogy of the Oppressed (1970). Melalui karyanya ini, juga karya-karya selanjutnya, Paulo menekankan pentingnya pendidikan berbasis budaya dan kebebasan.

[5] Komite sekolah dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 44/U/2002 tentang.Komite Sekolah. Komite diharapkan bekerjasama dengan kepala sekolah sebagai partner untuk mengembangkan kualitas sekolah dengan menggunakan konsep manajemen berbasis sekolah dan masyarakat yang demokratis, transparan dan akuntabel.

[6] lih Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

[7] bedakan: Fransiskus Borgias (Pem-“belajar”-an Multikultural), Sinar Harapan, 17 Mei 2005

admin Aceh

  1. Mursyidan Al-Hikam
    May 26th, 2009 at 15:56 | #1

    Good news.., saya sangat suka membaca berita2 dari lapangan seperti ini.mungkin kalo Tuhan mengijinkan suatu saat saya jg akan belajar membuat tulisan dari pengalaman lapangan saya, bahkan tentang pengalaman saya bersama JRS kalo memang TUhan menghendaki.

  1. No trackbacks yet.