Home > Tapanuli Selatan > Pemetaan di Barak Induk

Pemetaan di Barak Induk

April 30th, 2009

Kegiatan pemetaan di Barak Induk berjalan cukup lancar karena sebelumnya sudah di lakukan sosialisasi, namun demikian warga masih juga bertanya tujuan dari kegiatan pemetaan yang di lakukan oleh JRS, apalagi sebelumnya pernah ada lembaga ( YSKD dari Medan ) yang juga melakukan pendataan dengan pertanyaan yang hampir serupa, kebiasaan umum yang terjadi pada pengungsi adalah apabila ada pengambilan data maka pasti akan segera cair bantuan, maka teman-teman JRS coba menjelaskan sebisa mungkin tujuan dari pemetaan dan Alhamdulillah mereka bisa memahami serta menerima dengan baik.

Proses pemetaan yang di rencanakan mulai berjalan Rabu 22 April 09 sedikit terhambat karena harus menjelaskan lebih rinci lagi pada para pengurus yang pada sosialisasi awal tidak bisa di jumpai, selain itu para pengurus yang terdiri dari : ketua, wakil ketua serta para ketua lorong sibuk dengan pengurusan data dan foto warga untuk penerimaan Bantuan Langsung Tunai yang di salurkan pemerintah melalui desa di mana warga Barak Induk terdaftar sebagai bagian dari masyarakat desa Harapan Maju kecamatan Sei Lepan, perlu di ketahui bahwa sejak kehadiran pengungsi di Barak Induk sampai saat ini hubungan dengan warga lokal terutama desa Harapan Maju tetap terjalin dengan baik bahkan selama berada di Barak Induk selalu aktif dalam pesta demokrasi yang ada di Indonesia mulai tingkat bawah sampai tingkat atas sambil membaca sinyal perkembangan politik berkaitan dengan keberadaan mereka di lahan yang sementara menjadi tempat berteduh bagi warga Barak Induk.

Karena pengurus masih pada sibuk mengurus kebutuhan warga akhirnya kami meminta kerelaan pak Itir ( kepala lorong Barak Itir ) yang kebetulan bertemu untuk menyampaikan kegiatan JRS kepada dua lorong tetangganya dan beliaupun menyanggupi, setelah magrib kami menuju tiga lorong yang telah janjian yaitu: lorong Barak Kentongan, lorong Barak Itir dan lorong Batang Duren, dan aku terpaksa bolak-balik antar jemput tiga temanku karena tiga lorong menyediakan waktu yang sama dan alhamdulillah walau agak capek tapi selesai juga sekitar pukul 23.30 dan kamipun langsung pamitan pulang ke Barak Induk, walhasil kami makan di keremangan malam pakai lampu badai karena genset cuma sampai pukul 23.00, setelah makan masih sempat evaluasi hasil pemetaan di tiga lorong yang punya keunikan masing-masing dan bisa tanyakan sama pewawancaranya heheeee.

Kegiatan pemetaan selanjutnya kami menyesuaikan dengan rutinitas warga yang berlaku seperti kegiatan perwiritan dan gotong royong, selain itu waktu yang bisa kami pakai dalam kegiatan pemetaan adalah malam inipun di pertimbangkan apabila tidak mengganggu acara keluarga yang kita datangi, atas kerja sama dan respon yang cukup baik dari warga Barak Induk akhirnya keseluruhan proses pemetaan dengan mengunakan alat-alat yang tersedia dapat terlaksana dengan baik serta memenuhi target yang di butuhkan dan sedikit bernapas lega karena tinggal satu lokasi lagi yang menjadi akhir dari kegiatan pemetaan pengungsi konflik di Sumatera Utara.

Gambaran umum kondisi warga Barak Induk jauh lebih maju bila di bandingkan dengan warga pangungsi lain yang berada di Sumatera Utara, ini berdasarkan pantauan kami selama proses pemetaan berjalan bahkan warga lokal yang berada di sekitar Barak Induk juga jauh ketinggalan, kehidupan warga Barak Induk sejauh ini bahkan dalam jangka panjang boleh di katakan mulai mapan dan situasi ini akan lebih berjalan langgeng apabila tidak ada pihak-pihak yang mengusik keberadaan mereka di Barak Induk yang konon ceritanya menempati lahan Taman Nasional Gunung Louser dan alhamdulillah juga pihak TNGL hingga saat ini belum berani masuk ke wilayah Barak Induk karena kesulitan menghadapi warga pengungsi Barak Induk karena mereka pernah di usir keluar dengan paksa oleh warga Barak Induk.

Selama kehadiran mereka di Barak Induk partisipasi dalam pesta demokrasi mulai dari tingkat bawah sampai atas sangat berperan aktif begitupun dengan perkembangan dunia politik selalu mereka ikuti dan mampu membaca sinyal percaturan politik juga tau resiko-resiko yang harus di hadapi apabila sinyalnya mengarah ke posisi mereka, warga Barak Induk sadar bahwa parjuangan mereka harus mendapat dukungan dari pihak-pihak yang berkuasa dan dalam pilkada Bupati terpilih Langkat memperoleh suara terbanyak dari Barak Induk dan sesuai janji beliau dalam kampanyenya bahwa apa bila saya terpilih maka harus membuat acara syukuran di setiap wilayah yang mempunyai sumbangan suaranya sehingga beliau unggul dan terpilih sebagai Bupati Langkat periode 2008-2009 dan karena Barak Induk penyumbang suara terbanyak maka beliau ingin mengawali syukuran di Barak Induk, sebenarnya pak Darmo pernah menolak acara syukuran  bertempat di Barak Induk dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan muncul namun karena permintaan Bupati akhirnya mereka bersedia menerima keputusan beliau.

Berkaitan dengan acara syukuran tersebut maka kegiatan gotong royong Jumat kemarin berpusat di halaman sekolah dan sekitarnya, tempat yang di sediakan sengaja di halaman sekolah karena ada satu tujuan besar yang telah teratur dengan sangat rapi oleh warga Barak Induk, selain itu mereka mau membuktikan pada beliau bahwa dana yang di sumbangkan beliau pada saat kampanye pilkada telah di manfaatkan sesuai amanat yaitu menambah tiga lokal permanent dan telah di fungsikan, maka setelah Jumat’an kemarin para pengurus mengundang warganya guna menyampaikan secara resmi soal permintaan Bupati dan juga menanyakan kesanggupan warga menyambut kedatangan beliau, warga menyatakan sanggup maka langsung di bentuk pembagian peran dalam mempersiapkan acara syukuran bahkan soal siapa saja, apa yang boleh di tanyakan serta arahnya kepada siapa semua telah di persiapkan dengan sangat baik oleh panitia, warga hanya persiapkan tenaga dan acara pelaksanaan sedangkan biaya semua di tanggung oleh Bupati, kalaupun berkesempatan JRS bisa hadir di acara syukuran dan kita harapkan semua berjalan aman dan lancar sehingga dapat meninggalkan kesan yang baik bagi semua pihak, amin!!!!

Perkembangan di bidang pendidikan berjalan dengan baik dan terbukti di Barak Induk ada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang para pendidiknya adalah dari warga Barak Induk terkecuali kepala sekolah berasal dari sekolah induk, operasional sekolah juga berasal dari swadaya masyarakat yang di dukung oleh kebun kolektif sekolah ( kelapa sawit 2 ha ) yang sampai sekarang sangat membantu keberlangsungan kegiatan operasional sekolah baik di tingkat Sekolah Dasar maupun tingkat SMP, Komite sekolah juga berharap kalau bisa sekolah yang ada di Barak Induk dapat berdiri sendiri tanpa harus menginduk ke sekolah lain dan tentunya minta dukungan pihak-pihak terkait yang berkompeten di dunia pendidikan.

Sementara di bidang kesehatan masih ada pelayanan dari puskesmas pembantu khususnya imunisasi bagi balita, sedangkan kalau ada warga yang sakit bisa berobat ke bidan ( swadaya ) yang kebetulan numpang tinggal di Barak Induk, tapi kalau sakitnya agak berat mereka berobat ke rumah sakit terdekat, pustu yang pernah di bangun warga dengan bantuan JRS telah beralih fungsi menjadi ruang kelas bagi anak-anak SMP, selain itu di bidang sosial budaya masih erat terjalin karena mayoritas warga Barak Induk dan sekitarnya adalah suku Jawa dan jelas mempunyai keterikatan yang sama.

Sebagai catatan penting bagi JRS terutama bagi yang pernah ke Barak Induk bahwa selama ini mereka masih menyimpan perasaan kecewa pada JRS yang menurut mereka JRS-lah yang menawarkan relokasi kepada kelompok yang waktu itu tidak setuju dengan pembentukan ketua yang baru, singkatnya Orde Lama ( pak Tumin ) vs Orde Baru ( pak Darmo ), saya sendiri baru mendengar hal ini ketika kami berdua bang Sil ke rumahnya pak Mislan dan dari beliaulah kami berdua mendapat cerita kekecewaan warga Barak Induk kepada JRS, akhirnya pada saat wiritan bapak-bapak dan pertemuan dengan warga, bang Sil menjelaskan sedetail mungkin guna meluruskan permasalahan yang sempat membuat warga kecewa, bang Sil juga berulangkali menekankan bahwa JRS tidak pernah memaksa pengungsi untuk relokasi dan kalau bukan karena keprihatinan pada sisi kemanusiaan JRS jelas menolak permintaan kelompoknya Marahalim waktu itu dan relokasi warga ke Batang Toru tidak akan terjadi, penjelasan bang Sil mengubah suasana yang penuh canda tawa menjadi haru, ya semoga apa yang selama ini mengganjal hati warga Barak Induk kembali terobati serta tetap menjadikan JRS teman dalam seperjuangan, amin!!!!
(by Hans)

admin Tapanuli Selatan

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.