Home > Aceh > “Sekarang kami nggak ragu lagi”

“Sekarang kami nggak ragu lagi”

January 7th, 2010

“Awalnya banyak kawan-kawan yang tanya sama saya, kenapa mau terima JRS di sekolah,” tutur Yasmalinda Ningsih (41) atau yang akrab di panggil ibu Neneng dalam sesi sharing pengalaman pada acara sosialisasi program pengurangan resiko bencana dan pendidikan perdamaian untuk sekolah-sekolah di gugus III. Sebagai kepala sekolah MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) Air Pinang, ibu Neneng sempat mengalami pergulatan batin. Sebuah proses yang sangat wajar mengingat saat itu, belum banyak informasi yang bisa diperoleh. Gambaran tentang identitas JRS pun masih tampak samar dan dipenuhi tanda tanya. Sempat muncul keraguan dalam hatinya sebelum bersedia menerima JRS untuk melaksanakan kegiatan bersama. “Saya harus tanya kawan-kawan guru yang lain, keuchik, imam chik, sampai kantor departemen agama,” terangnya lagi. Keberaniannya untuk menerima JRS berbuah manis. Manfaat yang dirasakan sekolahnya sangat besar. Ibu Neneng melihat ada perubahan positif baik bagi guru maupun murid. “Alhammdullilah, sekarang kami merasakan manfaat dari kegiatan bersama JRS,” ungkapnya. “Guru-guru menjadi lebih sabar terhadap anak-anak, begitu pun anak-anak jadi lebih disiplin dan senang berada di sekolah. Apalagi dengan living values yang membantu kami bagaimana mendidik anak-anak kami dengan nilai-nilai yang positif,” tambahnya. “Sekarang kami nggak ragu lagi,” tutupnya.

Sharing pengalaman ibu Neneng ini diungkapkan dalam Sosialisasi Program Pengurangan Resiko Bencana dan Pendidikan Perdamaian untuk sekolah-sekolah yang tergabung dalam gugus ketiga. Bertempat di aula Dinas Pendidikan Aceh Selatan, kepala sekolah, wakil guru dan anggota komite dari enam sekolah dampingan JRS, minus SDN Tapak Aulia termasuk wakil dari dinas pendidikan, UPTD Tapaktuan serta kantor departemen agama berkumpul untuk mendengarkan paparan program JRS serta pengalaman sekolah-sekolah dampingan di gugus I dan II. Enam sekolah yang mengirimkan wakilnya pada pertemuan tanggal 21 Oktober 2009 itu adalah: SDN Panton Luas, MIN Silolo, SDN Silolo, MIS Paya Ateuk, SDN Paya Ateuk dan SDN Kampung Paya. Memberikan kesempatan bagi sekolah yang sudah didampingi JRS untuk menceritakan pengalamannya selama ini adalah sebuah langkah strategis untuk menguatkan sekaligus memperjelas pemaparan program JRS sendiri. Kesaksian tentang bagaimana sebuah transformasi ke arah yang positif berlangsung di sekolah, melibatkan guru dan murid dalam usaha bersama untuk menciptakan sekolah yang aman dan ramah bagi siapapun.

“Anak diajak untuk bersikap aktif, bukan sebagai pendengar saja tetapi sungguh-sungguh dilibatkan,” terang Yusup Windiarto (38) Finance Officer School Project yang hari itu memberikan presentasi tentang kegiatan PRB (Pengurangan Risiko Bencana) dan Pendidikan Perdamaian untuk komunitas sekolah dihadapan 20-an peserta sosialisasi sekolah gugus III. Program JRS bersama komunitas sekolah adalah sebuah aktivitas bersama yang melibatkan guru, murid serta komite sekolah. Karena salah satu tujuan proyek ini adalah meningkatkan kapasitas sekolah dalam menghadapi ancaman bencana serta menumbuhkan peran mereka dalam gerak pengurangan risiko bencana di tingkat komunitas. Salah satu bentuk keterlibatan anak dalam pendidikan PRB misalnya mengajak anak mengenali potensi ancaman di sekitar sekolah lewat kegiatan menggambar peta ancaman sekolah. “Peta ancaman yang dibuat anak seringkali lebih informatif dibanding peta sejenis yang dibuat guru. Mungkin karena ada situasi yang bagi guru bukan merupakan ancaman namun bagi anak termasuk kategori ancaman,” ungkap Entis Sutisna (38) Field Officer DRR JRS. Bentuk kolaborasi bersama antara guru, murid serta komite sekolah juga tercermin dalam pembuatan kebun sekolah sebagai salah satu media pembelajaran lingkungan hidup bagi komunitas sekolah. “Tujuan pembuatan kebun sekolah adalah untuk menggali nilai-nilai penghargaan terhadap alam sekaligus sebagai salah satu upaya mitigasi bencana,” terang Nurmawati (24) Field Officer DRR JRS.

Pendidikan perdamaian pun dirancang dengan aktivitas-aktivitas yang menarik dan merangsang daya kreatifitas anak. Pesan-pesan perdamaian dituangkan dalam lukisan bersama, karangan, surat untuk teman, lagu dan permainan-permainan. “Pendidikan perdamaian bukan hanya bicara tentang perdamaian itu sendiri tapi bagaimana anak-anak mampu mengekspresikan dalam bentuk-bentuk yang kreatif,” jelas Windi lagi.

“Bagi kami kegiatan yang diprogramkan JRS sangat baik mengingat kondisi sekolah serta anak-anak kami. Bagaimana nantinya kapasitas guru maupun murid bisa terangkat dengan adanya JRS,” ungkap Zulfan, Kepala Sekolah SDN Paya Ateuk, Pasie Raja. Hal ini diamini Mukhlis, Kepala Sekolah SDN Panton Luas yang desanya termasuk daerah rawan bencana di Kecamatan Tapaktuan. “Media-media yang dipakai JRS sangat menarik apalagi bagi anak-anak. Kami sendiri nggak pernah mendapat pengetahuan atau dukungan baik dari pemerintah maupun lembaga lain bagaimana cara menggunakan film, boneka, dan lain-lain,” terang Bustanul, Kepala Sekolah MIS Paya Ateuk. “Harapan ke depan adalah kami bisa menanggulangi bencana di sekolah setelah mendapat dukungan dari JRS,” tutur Auyas, Kepala Sekolah MIN Silolo. Selama ini JRS selalu mendapat tanggapan positif baik dari sekolah maupun komunitas. Bisa dimaklumi mengingat selama ini pendidikan PRB dan perdamaian belum banyak disentuh bahkan oleh pemerintah sekalipun. Padahal jika menilik kondisinya, masyarakat di Aceh Selatan khususnya dan Indonesia pada umumnya sangat akrab dengan bencana, baik alam maupun sosial. Sejarah panjang berhadapan dengan bencana akhirnya membuat masyarakat menganggap bencana sebagai bagian dari takdir dan fenomena alam yang harus diterima pasrah tanpa ada upaya untuk menanggulangi atau mengurangi dampaknya.

Dalam sosialisasi program untuk komunitas sekolah di kluster III pun dukungan bagi JRS mengalir, tidak hanya dari sekolah namun juga pemerintah. “Saya senang karena JRS tidak membeda-bedakan apakah ini SD atau MI, meskipun masing-masing ada dibawah kewenangan yang berbeda,” jelas Kasman, Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh Selatan yang hadir mewakili Kepala Dinas Pendidikan. “Karena bagaimanapun mereka yang di SD atau MI itu adalah anak-anak kita juga,” sambungnya. “Kami mendukung program JRS sejauh tidak bertentangan dengan akhlak dan adat setempat,” terang Bukhari dari Kantor Departemen Agama Aceh Selatan. “Karena setahu saya JRS datang dengan misi untuk melayani dan membela para pengungsi,” tutupnya.

(Oleh: Paulus Enggal)

admin Aceh

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.