Ketika Hujan Tiba
Kulirik jam yang dikenakan ketua pemuda Desa Panton Luas. Detaknya menunjukkan pukul 15.45 WIB. Usai sholat azar, pemudi telah berkumpul di rumah Yarni, mantan ketua pemudi desa di atas bukit itu. Mereka telah bersiap menuju lapangan, bersiap latihan volley. Sementara Putra dan Adi langsung menuju lapangan bola kaki yang bertolak belakang dengan lapangan volley.
Di lapangan volley pun telah banyak peserta hadir. Ya, pemudi desa ini memang beberapa kali meraih juara ke dua dalam pertandingan bola volley. Kegiatan menyehatkan badan dan pikiran ini sempat terhenti beberapa tahun saat konflik melanda desa. Tetapi sekarang semangat mereka untuk berlatih volley kembali masih sangat membara.
Bola yang kubawa langsung diambil oleh pemudi bahkan sebelum acara dibuka. Memang, sudah menjadi kebiasaan tanpa kuminta pun, pemudi-pemudi bersemangat ini langsung passing-passing bola. Jam menunjukkan angka 4. Waktu latihan dengan materi-materi yang telah kusiapkan telah tiba.
Seperti biasa, sebelum latihan dimulai saya berikan salam, lalu menanyakan kabar pemudi. Bersama asisten pelatih, kami melakukan evaluasi materi minggu lalu. Tak lupa sebelum latihan dimulai, satu per satu nama pemudi kusebut. “Hadir,” balas mereka.
Namun, belum juga selesai kusebut nama-nama dalam daftar presensi itu, tiba-tiba cuaca berubah. Langit meredup. Mendung menjadi rintik hujan. “Latihan kita lanjutkan atau bagaimana? Hujan mulai deras,” tanyaku. Kertas yang kupegang basah terkena percikan hujan.
“Kita berhenti ke rumahku saja,” usul Miswati asisten voli. Kebetulan rumahnya berdekatan dengan lapangan, hanya berjarak 15 meter dari lapangan volley. Kami spontan berlarian ke rumah Miswati saat hujan benar-benar tumpah. Kami semua termangu menanti hujan reda. Ada yang memilih duduk di luar rumah, ada yang memilih di dalam menghindari angin yang dingin.
Sangat akrab terasa. Bahkan sambil berbincang, satu persatu kutu didapat di antara rambut. Bercerita ke sana kemari. Namun, bukan hanya cerita melantur semata. Mereka juga tak segan berkisah tentang keseharian mereka. Pemudi yang masih sekolah juga bercerita mengenai saat-saat proses belajar di sekolah.
Pada kesempatan itu, aku pun menggali pendapat mereka mengenai pelatihan volley yang hendak dicapai. Sesekali kujelaskan juga bahwa selain prestasi, ada hal penting yang akan dicapai dalam latihan ini. Hal penting itu adalah sembilan sisi mental. Isinya mengenai komunikasi, sikap dan motivasi, kesadaran, konsentrasi, fair play, kepemimpinan dan organisasi, pergerakan, pengakuan sosial, dan kerjasama tim. “Jadi bukan asal latihan saja ya,” kata Marnis di sela suara hujan yang masih turun.
Seperti tidak mau ketinggalan dengan para pemudi, anak Kak Mis, si Mia tanpa takut mengambil bola voli. Tangannya lincah memantul-mantulkan bola pada tangannya. “Kalau mau toser sebaiknya di dinding,” kataku sambil memperagakan cara latihan bola volley dengan dinding. Anak kelas 5 SD ini mengikuti saranku dengan senang. Ia nampak berbakat seperti ibunya yang juga pemain voli.
“Jangan sampai kaca pecah ya,” seru ibunya. Sang ibu tidak menunjukkan rasa tidak senang walau suara dentuman bola pada dinding membuat suara agak berisik.
Di luar rumah, seorang pemudi berteriak, “Hujan telah reda.” Kulihat jam di dinding. Masih jam 17.15 Wib. Waktu untuk melanjutkan latihan volley masih sangat cukup.
“Ayo kita lanjutkan latihannya,“ kataku sekaligus merespon ajakan Mira, pemudi yang memberitahu bahwa hujan telah reda. Latihan menjadi lebih menyenangkan. Udara lebih segar setelah diguyur hujan. Langit Panton Luas cerah kembali.
(Oleh: Marwiah - Education through Sport)