Home > Aceh > “Setetes Kreatif Darah” PRB melalui Pesan Damai dan Barang Bekas

“Setetes Kreatif Darah” PRB melalui Pesan Damai dan Barang Bekas

April 16th, 2010

“Bagus gambarmu, lanjutkan dan warnai lagi!” aku coba memberi semangat Kahar Ruddin dan M.Wali kelas V dari SD Lhok Sialang Rayek, yang sedang membuat poster perdamain. Saat aku kembali setelah satu putaran keliling, gambar yang satu sudah berubah menjadi warna merah. Goresan yang semula berbentuk seorang anak kecil kini berubah menjadi warna merah.” Lho kok jadi warna merah?” tanyaku pada Zakaria anak kelas empat. Dia tetap asyik mewarnai gambar tentara yang berbadan besar. “ Bang ini warna darah? Jawabnya singkat. “Orangnya dimana?” tanyaku lagi. “ Orangnya sudah gak ada lagi, udah jadi darah” dia tetap melanjutkan lukisan posternya.

Gambaran yang sangat tepat untuk direflesikan. Dia berimajinasi sesuai dengan sayap pengalamannya sebagai kanak-kanak, tetapi memancarkan suatu “wahyu” untuk menjadi permenungan setidaknya bagi saya tentang suatu perdamaian. Perdamaian sangat mahal. Dia sudah dibayar dengan darah, bahkan hingga akhir-akhir ini, keterkaitan teroris, warga sipil harus mati bersimbah darah. Betapa masyarakat /warga negeri yang sering dikatakan wong cilik harus bersimbah darah, hanya karena sebuah kepentingan yakni kekuasaan. Orang yang punya kuasa biasanya “tergambar” lebih besar, kepalanya besar, lambang kesombongan. Dia punya senjata tertentu, sedangkan orang kecil digambarkan sangat kecil. Bahkan tidak lagi terlihat jelas, dia berbentuk darah. Anak ini menggambarkan situasi dunia yang sangat tepat, meski gambar bersimbah darah mungkin berangkat dari sebuah kesalahan dalam menggoreskan tinta crayon yang bewarna merah.

Darah gambaran dari sebuah kehidupan. Setetes darah sangat berarti. Darah sebagai penyemangat, yang sangat berharga dialirkan oleh JRS, melalui program-program. Program School Project dengan bagian kecilnya Perdamaian dan pendidikan lingkungan, menjadi tetesan segar ± 24 % dari 192 an SD MIN di Aceh Selatan. 1 Setetes darah yang sangat mahal harganya. Pertanyaanku untukku apakah semua itu sudah “mendarah” sehingga kesadaran ini sungguh juga menjadi jiwa bagi diriku? Ah, Windi kamu tuh banyak dikantor, tahu apa ya?

Darah ini dipacu oleh jantung, dan bagian pembuluh darah terkecil yang paling tepi disebut sebagai kapiler (seingatku pelajaran biologi waktu SMP), meski kecil dia bagian yang terpenting dalam proses pengaliran darah keseluruh tubuh. JRS sebagai “kapiler” menurutku, melalui program School Project hendak menggali sekaligus mengingatkan kembali suatu nilai perdamaian. Setetes darah yang membutuhkan biaya yang besar. Tetapi selanjutnya apakah program perdamaian yang menjadi bagian kecil dari PRB sudah mendarah ?

Menggerakkan kesadaran akan PRB dalam arti lebih luas, seperti seorang anak dari SD Buloh Didih, Askarimin, kelas V yang bercita-cita menjadi tentara, yang lupa dengan nama ibunya, bagai melukiskan mimpi-mimpinya di atas batu nan keras dibawah mentari nan terik.

Butuh kerja keras. Penyampaian yang tepat, meski kadang ada ketidaksepahaman. Ada kelelahan dengan overload pekerjaan kejar target dan budget. Sebagai indikasi kinerja dalam perspekif finance. Melelahkan. Pak Khairul Saleh, kepala sekolah SD Buloh Didih yang memiliki 67 siswa-siswinya, meminta pada JRS melalui aku, supaya memberi cat-cat warna-warni, agar anak-anak bisa melukiskan di dinding sekolah. “Iya Pak nanti aku bicarakan dengan teman-temanku ya? jawabku. Aku berpikir

Pak Khiarul ingin anak-anaknya kreatif dan JRS menjembatani anak-anaknya untuk berekspresi dan berkreatifitas, sesuai gerak tangan mereka. Semangat Pak Khairul menjadi cermin bagiku dalam proses untuk menemani, membela dan melayani, membutuhkan kreatifitas, ditengah kelelahan, kebosanan dan overload pekerjaan. Bagaimana itu? Adakah pencarian dan perefleksian.

Kreatifitas membuat sampah menjadi emas (barang berharga). Kreatifitas menciptakan damai bagi diriku dengan orang disekitarku dan alamku. Kreatifitas memberikan kehidupan, maka kekuatiran akan pergi jika aku kreatif mengolah kata, buat dan karya. Semakin kreatif semakin dekat dengan Sang Creator. Ah, sudahkah aku kreatif dalam pelayanan, penemanan dan pembelaan atau asal jalan aja atau mengeluh saja? Seperti apakah kreatifitas itu? Tunggu dalam tulisanku berikutnya.

Dua hari perjalanan workshop memberi warna untuk hidupku, bahwa dalam segala peristiwa hidupku aku perlu kreatif, agar hidup menjadi lebih hidup, ahhh kaya iklan aja Windi.

Oleh: Windy

admin Aceh

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.