Home > Aceh > Pelatihan Team Building: Lucu tapi Pembelajaran Baru

Pelatihan Team Building: Lucu tapi Pembelajaran Baru

April 16th, 2010

“Satu… Dua… Tiga….Hop!”

Begitu aba-aba Yani dan Liza, pemudi dari Desa Ie Merah dan Panjupian, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan saat kaki mereka hendak menapak pada tangga berjalan atau yang biasa disebut escalator, di salah satu mall di kota Medan.

Yani dan Liza merupakan peserta Pelatihan Team Building yang diselenggarakan oleh Jesuit Refugee Service bekerjasama dengan Bina Alam, pada 27-30 April 2010. Mereka berdua adalah bagian dari 35 peserta team building untuk pemuda dan pemudi dari desa-desa kluster dua dampingan JRS.

Bagi sebagian besar orang kota, melihat kejadian seperti itu sudah pasti mengundang tawa atau gelengan kepala. Senyumku pun mengembang saat mengingat cara peserta ‘menaklukkan’ teknologi di kota besar.

Berawal, panitia dari Bina Alam memberikan tugas pada peserta untuk mengunjungi mall atau pusat belanja, stasium radio, serta tempat bersejarah di kota Medan. Hari itu hari ke dua. Satu kelompok terdiri dari 6 orang. Satu orang diantaranya diberi uang sebesar 50 ribu.

Saat di mall itu lah kejadian lucu terjadi. ’Insiden’ terjadi saat mereka berkenalan dan berusaha menggunakan teknologi yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Maklum saja, hampir semua peserta memang belum pernah pergi ke mall, lebih-lebih naik turun lantai menggunakan escalator.

Rukmini, peserta pemudi dari Desa Panjupian, Kecamatan Tapaktuan, merasakan pahitnya saat pertama kenal alat itu. Ia tiba-tiba terjatuh dari anak tangga satu ke anak tangga tiga. Tak heran, semua orang yang berada di bawah langsung saja melihat ke arahnya. Beruntung, Rukmini tidak terluka.

Sedangkan Dedek pemuda dari Desa Lhok Sialang Rayeuk, Kecamatan Pasie Raja, berkeluh kesah. “Capek juga ya harus turun naik escalator? Seperti orang gila saja.”
Lalu saya tanya “Kenapa harus turun naik?” Dedek kemudian bercerita bahwa Liza, peserta dari Desa Ie Merah, memintanya untuk menemani naik turun eskalator. Rupanya Liza sedang belajar naik escalator hingga tiga kali.

Kejadian di atas bukan satu-satunya kejadian yang membuat kami terpingkal-pingkal, saat terkuak di malam terakhir kami berada di hotel. Saking membahananya suara tertawa kami, pelayan hotel sampai menegur karena mengganggu penghuni lain.

Di hari pertama ketika sampai di hotel, banyak peserta yang merasa kagum, Muklis pemuda Desa Panjupian, Kecamatan Tapaktuan, salah satunya. “Wah, kamarnya bagus! Nanti kalau sudah menikah, bulan madu ke sini saja,” katanya.

Di antara kekaguman, ternyata beberapa peserta lain malah merasa ketakutan. Jubaili, misalnya. Ketika jam makan malam, Jubaili memilih tidak turun ke lantai dasar, lokasi restoran berada. Saat itu, Jubaili beralasan sakit. Setelah dikonfirmasi pada teman sekamarnya, Jubaili ternyata tidak turun karena tidak bisa menggunakan lift. Pemuda Lhok Sialang Rayeuk itu memilih menahan lapar semalaman ketimbang berhadapan dengan lift.

Selain eskalator, menggunakan lift yang menjadi salah satu fasilitas hotel ini juga merupakan pengalaman pertama yang dirasakan oleh 35 peserta. Ketakutan menggunakan lift juga dirasakan Ma’un. Ia selalu mengikuti Ida, salah satu staff JRS, kemana pun pergi. Saat ditanya, begini jawab Ma’un.

“Saya mau naik ke kamar kak, tapi nggak bisa naik lift. Tadi sudah saya coba. Tiba-tiba sampai ke lantai paling atas. Saya jadinya naik turun lantai paling bawah dan paling atas.”

Selidik punya selidik, Ma’un tidak memencet tombol lantai kamarnya sehingga liff langsung naik menuju lantai 7, lantai paling atas. Untung setelah sekian kali naik turun lantai, Ma’un bertemu pelayan hotel. Ia lalu diantar kembali ke lantai 2, lantai kamarnya berada. Sebagian peserta lain memilih menggunakan tangga. Kebetulan ruang makan dan tempat pelatihan ada di lantar dasar.

Beda Ma’un beda Zainuddin. Pemuda Desa Air Pinang yang akrab dipanggil bang Togar ini serius mengisahkan pengalamannya kepada teman-teman di desanya.

”Pas masuak petamo nian di hotel ro dengan kawan-kawan, pintu langsung tabukak. Pas mau kelua patamo bana di pintu, ambo piki pintu e harus ditariek. Ambo tariek-tariek kuet-kuek ndak bisa. Pas ambo tagiek dai samping, manga ndak bisa? Upoe pas tagak mbo di tangah pintu ro, pintu langsung tabuka. Upoe pintu e otomatis (Saat masuk pertama dengan teman-teman menuju hotel, pintunya terbuka. Tapi saat hendak keluar, saya pikir pintunya harus ditarik. Ku tarik kuat-kuat tidak bisa. Saat saya tarik dari samping, mengapa tidak bisa ya? Rupanya berdiri di tengah pintu itu, pintu langsung terbuka. Ternyata pintu otomatis),” disambut tawa terpingkal-pingkal kawan-kawan desanya.

Sedangkan Rusli yang juga dari Desa Air Pinang sempat tidak mengikuti sesi acara malam hari setelah menabrak kaca. Ia tidak pernah mengira itu tersekat oleh beningnya kaca. Saat berjalan, tanpa disadari kepala dan tubuhnya menabrak kaca keras-keras. Saat itu juga ia mengeluh kepalanya pusing. ”Pusing campur malu,” seloroh kawan-kawannya sambil tertawa.

Belajar kehidupan
Pelatihan Team building adalah salah satu kegiatan di Project Pemuda dengan penekanan peningkatan kemampuan komunikasi. Pelatihan ini juga bertujuan meningkatkan kekompokan dan kerjasama, baik pemuda-pemudi dalam organisasi, maupun sebagai bagian masyarakat.

Konsep pelatihan team building kali ini pun sangat beda dengan team building yang diselenggarakan dua kali untuk staff JRS. Jika untuk staff dilakukan di wilayah yang tidak ada komunitas lain, pelatihan untuk pemuda-pemudi desa ini justru dilakukan di tengah kota besar.

Menurut pengakuan peserta, sebagian besar dari mereka baru kali pertama berkunjung ke kota Medan. Selain lebih akrab dengan peserta desa lain serta mengenal lebih dekat kota Medan, peserta merasa senang mendapat pengalaman baru.

”Pertama kali mandi kak, saya putar kran. Ehkkk, kok panas! Panas sekali airnya! Lama-lama saya perhatikan. Gimana ya caranya biar airnya tidak terlalu panas. saya coba-coba putar ke arah lain, e, ternyata airnya dingin,” begitu kisah Marwan dari Pulo Kambing.

Meski jarang bicara saat pelatihan, Ketua Pemuda itu mengatakan bahwa ia sangat memperhatikan instruksi dari panitia. Selain itu, ”Saya nggak mau melakukan yang pertama, tapi saya perhatikan betul apa yang dilakukan kawan. Oh, begini cara makainya,” kisahnya sambil tertawa lepas.

Pengalaman menarik lain dialami Zakaria dari Ie Merah. Saat ia menyeberangi jalan yang padat, saking tegang dan takut kalau kawan lain tertinggal, ia menarik tangan seseorang yang berdiri di sampingnya. Rupanya tangan yang ditariknya bukan tangan kawannya, melainkan tangan orang lain yang juga hendak menyeberang jalan. Pemuda yang juga aktif di organisasi Komisi Peralihan Aceh (KPA) ini sempat kena makian orang yang digandengannya. Menyadari kesalahannya, Zakaria secepatnya meminta maaf.

Marwan, Liza, bang Togar, Zakaria, Diana Wisda, Husna dan Martanis atau biasa dipanggil Alex dari Desa Lhok Rukam mengaku mendapat pelajaran dan pengalaman berharga dari acara ini. Pengalaman itu sangat membuka wawasan dan pengetahuan peserta mengenai kehidupan kota besar.

”Saya pikir semua orang yang hidup di kota itu sangat enak kak. Tapi ternyata tidak. Banyak orang yang tidak punya rumah sehingga harus tidur di emperan toko. Hidup di desa ternyata jauh lebih baik dan damai daripada tinggal di kota,” ujar Samsuar dari Desa Lhok Sialang Rayeuk saat berkunjung ke Kantor JRS Jambo Apha.

“Saya pernah menaklukkan ketakutan saya pada hantu, kegelapan, dan sunyinya hutan. Setelah pulang dari team building, saya bisa menaklukkan ketakutan saya ketika berhadapan dengan orang rame,” kisah Marwan yang pernah menjadi anggota Gerakan Aceh merdeka ini.

Dalam kegiatan ini, setiap desa mengirimkan enam orang peserta pemuda dan pemudi. Mereka adalah pengurus organisasi pemuda-pemudi di desa masing-masing. Empat orang di antaranya pernah mengikuti pelatihan untuk pelatih (volley dan sepakbola) yang diselenggarakan oleh JRS, bekerjasama dengan ASA Asia. Satu peserta, Misran gagal melanjutkan perjalanan ke Medan. Ketua Pemuda Desa Air Pinang itu tidak kuat mabuk sepanjang perjalanan. Sampai di Subulussalam, ia meminta pamit kembali pulang ke Tapaktuan.

Oleh: Dian dan Ninuk

admin Aceh

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.