Home > Aceh > Ketika Perangkat Gampong Aktif Peduli Simulasi

Ketika Perangkat Gampong Aktif Peduli Simulasi

April 19th, 2010

Berbaju batik warna cokelat dan pantalon coklat tua, serta berkopiah hitam, M. Syarief , Keucik Gampong Ie Merah, Pasieraja, pagi itu (Selasa, 13/4) bukan mau menghadiri kenduri atau hajatan pesta warga di gampongnya. Sebagai keucik ketika warganya dikerahkan untuk mengikuti kegiatan simulasi menghadapi bencana gempa di gampongnya, M. Syarief pun tampak sangat bersemangat dan sibuk di tengah-tengah warganya yang sedang dievakuasi. Dia lari ke sana-ke mari terlibat aktif mengikuti alur skenario simulasi kesiapsiagaan bencana di gampong itu.

Ketika bunyi sirine didengungkan dari megaphone yang ditenteng Amiruddin, Sekretaris Tuha Peut Gampong sekitar pukul 09.40 WIB, semua yang terlibat dalam kegiatan simulasi tampak ambil peran masing-masing. Puluhan orang dari arah timur gampong, Dusun/Lorong Pendidikan, berbondong menuju ke lokasi aman yang telah dipersiapkan, tepat di tengah gampong di seberang masjid, di lingkungan TPA Lorong Panglima Kasim. Keucik M. Syarief pun turut memberi semangat kepada para warganya yang mengikuti adegan evakuasi tersebut.
Ketika warga sudah di tempat aman, beberapa pemuda yang telah disiapkan sebagai tim evakusi pun mendata para korban luka maupun kelompok rentan yang masih tercecer. Pagi itu di gampong yang terletak di pinggir gunung seolah-olah telah terjadi gempa sehingga menyebabkan beberapa orang terluka, sebagaimana diperankan oleh Syafruddin menderita luka patah tulang, Ali Usman korban luka kepala, Burhanuddin luka tangan, dan ada satu orang hamil (diperankan oleh Marwan yang didandani layaknya seorang perempuan) serta Bustami yang tidak bisa lari ke lokasi aman, karena dia gila. Tim evakuasi yang terdiri dari delapan pemuda, antara lain Darwis, Irfan, M. Husein, Adam Malik pun dengan sigap menolong para korban tersebut dengan tandu yang telah disiapkan.
Saat evakuasi itulah keucik M. Syarief tampak turut serta terlibat aktif dengan lari ke sana kemari mengikuti para anggota Tim Evakuasi ini. Dia pun tampak ikut menggotong dengan tandu kursi seorang korban ibu hamil bersama tiga anggota tim evakuasi lainnya, yang jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi tenda darurat. Seusai menyelamatkan ibu hamil, Keucik M. Syarief pun ikut mengamankan korban yang ”gila” dan susah untuk ditolong karena melakukan perlawanan. Korban pun akhirnya diikat tangannya. Namun setelah bisa ”ditaklukkan” tim penolong justru lari ke korban lain yang lebih parah. Si orang gila, yang diperankan Bustami pun ditinggalkan di tempat pasar ikan, di Dusun Panglima Kasem, sehingga dia pun terlantar kembali. Ada seorang warga yang nyeletuk, ” Kok dibiarkan ?” Anggota tim evakuasi kemudian sibuk menyelamatkan korban yang luka parah di kaki, sehingga harus ditolong dengan tandu dan dibawa lari ke lokasi yang aman.
Para anggota tim penolong ini harus ekstra hati-hati, karena untuk sampai ke lokasi aman yang berada di seberang sungai harus melalui jembatan selebar 80 cm dari tiga papan. Ada dua jembatan dari papan untuk menuju ke lokasi aman, jembatan satunya di bagian barat lebih sempit. Anggota tim evakuasi yang menyelamatkan korban dari Dusun/Lorong Imeum Bagak, salah satu dusun di Ie Merah di ujung barat gampong, nekad melalui jembatan sempit ini.
Sejumlah siswa SD, rata-rata kelas 4 dan 5, yang telah dilatih oleh Tim Proyek Sekolah JRs, juga dengan tertib mengikuti jalannya evakuasi, dengan dipandu oleh beberapa guru mereka. Tak ketinggalan mereka juga menenteng rangsel siaga bencana bantuan JRS. Tampak juga seorang siswa SD Ie Merah menjadi korban patah tulang tangan, dan dia pun harus dibidai. Dengan diantar kedua gurunya siswa itu pun tenda di tempat titik aman. Iring-iringan siswa SD menuju lokasi yang aman tampak tampak tertib dan diikuti dengan serius sesuai alur skenario. Demikian juga kelompok rentan dan masyarakat pada umumnya yang berjalan beriringan dengan membawa barang-barang yang dibawa ke lokasi aman.

”Masyarakat tampak terkejut ketika ada bunyi peringatan, sehingga tampak panik dan tim penyelamat tidak cukup jika hanya delapan orang untuk satu gampong,” kata Keucik M. Syarief ketika diminta komentarnya saat evaluasi. Menurutnya seharusnya setiap lorong sedikitnya ada 5 orang tim penyelamat. Jika hanya ada 8 orang untuk satu gampong, terasa sangat kurang. Menurut Keucik M. Syarief, untuk ke depan tim evakuasi harus mengetahui secara pasti di mana daerah yang perlu dibantu. ”Dengan pelatihan ini, kami bisa lebih paham, tidak hanya melihat di tivi saja,” kata keucik. Hal senada juga disampaikan Sekretaris Gampong, Adenan, yang menyatakan setidaknya jika ada kondisi darurat bencana masyarakat sudah paham ke mana harus menyelamatkan diri.

Menurutnya sekali pelatihan belum cukup, masih perlu pengetahuan cara penyelamatan yang lebih baik dan juga latihan-latihan menangani korban yang luka. ”Tadi memang masih banyak yang sambil tertawa-tawa, tetapi setidaknya masyarakat paham akan situasi bencana,” kata Adenan. Lain lagi dengan pendapat Tarjuman, guru SD di Ie Merah, yang menyatakan selama ini apa yang diberikan oleh Tim JRS di sekolah bisa dipraktekkan, dan para siswa bisa memahami ke mana menuju daerah yang aman, jika ada gempa.

Keterlibatanan perangkat gampong dalam sebuah kegiatan yang bersifat massal, seperti kegiatan simulasi penanganan bencana sangat berpengaruh terhadap peran serta masyarakat dalam mensukseskan kegiatan tersebut. Menurut Didik, Koordinator Proyek Youth, secara umum simulasi direspon dengan baik dan partisipasi warga maupun perangkat gampong cukup tinggi. Ada satu catatan tentang lokasi aman, yang berada di tanah yang rendah dan dekat sungai, untuk situasi bencana gempa lokasi tersebut cocok, namun untuk banjir tidak tepat karena di tempat ini justru tergenang, demikian komentar Zainuddin, anggota tim simulasi dari JRS.

Oleh: Daryadi

admin Aceh

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.