Ketika Dua Gampong di Bibir Samudera Menghadapi Gempa dan Tsunami
(Catatan Simulasi Kesiapsiagaan Bencana dari Lhok Rukam dan Air Pinang)
Beruntunglah masyarakat gampong yang punya pemimpin yang masih muda dan energik, berwibawa, kooperatif, berpengetahuan dan berkemauan untuk terus memajukan gampongnya. Setidaknya pemimpin seperti itu dimilki dua gampong di Kecamatan Tapaktuan, yakni Gampong Lhok Rukam dan Air Pinang.
Suhardi (42), Keucik Lhok Rukam dan Miswar (38), Keucik Air Pinang, adalah dua sosok keucik yang cukup disegani dan mampu memobilisasi warganya. Dalam masyarakat yang paternalistik, di mana pemimpin adalah patron (pengayom) yang dihormati dan disegani oleh warganya dua sosok keucik muda itu bisa dikatakan sukses menggerakkan warganya untuk berpartisipasi aktif dalam simulasi kesiapsiagaan bencana menghadapi gempa dan tsunami. Kebetulan gampong itu berdekatan dan mempunyai banyak persamaan seperti kondisi geografis, sama-sama berada di pantai yang menghadap Samudera Hindia, sisi sosiografis sebagai masyarakat pesisiran yang terbuka dan tingkat pendidikan warganya yang cukup tinggi, dan sisi psikografis, punya sejarah pengalaman trauma terhadap peristiwa gempa maupun tsunami, seperti gempa dan tsunami 26 Desember 2004, dan gempa Nias 28 Maret 2005.
Sabtu (17/4) pagi, dengan seragam stelan Safari warna coklat susu, dan paduan sepatu coklat tua mengkilat, keucik Suhardi begitu berwibawa memberi arahan maupun menerima laporan dari warganya dalam simulasi kesiapsiagaan gempa dan tanda tsunami di gampong nelayan seluas 365 Hektar itu. Secara geografis Lhok Rukam memang berada di ceruk dengan diapit perbukitan karang yang sangat rentan ketika ada gempa maupun tsunami. Perbukitan di sekeliling juga mudah longsor, ketika tanaman pala sebagai penahan kemiringan bukit sudah banyak yang kering dan mati. Penduduk Lhok Rukam berjumlah 671 jiwa, terdiri 158 KK, serta hampir 60% keluarga hidup sebagai nelayan, 79 KK.
Pagi itu, sekitar pukul 09.50 sirine dari masjid di ujung gampong berbunyi sebagai tanda telah terjadi gempa yang cukup kuat melanda gampong tersebut. Dengan serta merta, keucik Suhardi mengadakan rapat kilat di depan masjid, bersama beberapa warga. “Telah terjadi gempa yang cukup kuat melanda gampong kita, agar masyarakat tidak panik, mohon amati kondisi laut, apakah ada tanda-tanda tsunami, demikian juga kondisi gunung, apakah ada yang longsor atau runtuh,” demikian Suhardi membriefing lima orang warganya yang bertugas sebagai tim peringatan dini. Kemudian Pardias (45) salah seorang anggota Tuha peut, pergi ke arah gunung, sedang Kisman yang menenteng megaphone, berdiri di tanggul pantai, memandangi gelombang laut. Tiga pemuda lainnya menenangkan warga yang mulai keluar rumah.
Sekitar 15 menit, Pardias dan Kisman pun melapor ke Keucik Suhardi, bahwa kondisi laut maupun gunung tidak membahayakan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dan menunggu jika ada gempa susulan, masyarakat pun diminta untuk menuju ke titik aman di tempat yang tinggi. Karena kondisi topografi yang berada di pinggir laut dan diapit bukit-bukit karang, Gampong Lhok Rukam hanya memiliki satu jalan masuk dan keluar dari jalan utama Jl. Tapaktuan-Medan. Jalan tersebut menurun dan berkelok jika ke arah masuk, dengan beda ketinggian mencapai 25 meter antara wilayah pemukiman dengan jalan raya serta jarak yang pendek sehingga jalan masuk itu menurun curam. Saat harus keluar dari gampong dengan jalan kaki dan bahkan ada sebagain yang lari menuju titik aman banyak ibu-ibu maupun manula yang tampak terengah-engah karena harus mendaki. Beberapa orang memang dipersiapkan untuk lari ke titik aman dengan sepeda motor, namun mereka tampak terlalu bersemangat sehingga sering akan menubruk warga yang beriringan berjalan. Dalam simulasi kemarin Tim Evakuasi harus menyelamatkan beberapa korban yang terluka, seperti Mulyadi yang terluka di kepala, Masyon luka patah kaki, serta Maria Ulfah yang sedang hamil tua, serta Ie Nyak sebagai orang jompo. Para korban harus dibawa lari dengan tandu darurat menuju ke titik aman di tempat yang tinggi ujung jalan masuk gampong tersebut. Memang cukup kewalahan Tim evakusi yang harus bolak balik lari ke lokasi aman dan pemukiman yang berjarak 400 meter dan mendaki.
Tak kurang dari 300 an orang, baik ibu-ibu, anak-anak, manula, anak-anak muda serta siswa SD Lhok Rukam pun tumpah ruah di jalan masuk Gampong Lhok Rukam. Wajah kelelahan dan kehausan pun tampak dari mereka, dan mereka pun duduk, tak ayal ketika ada minuman gelas dibagikan mereka pun berebutan. Untuk kasus bencana gempa yang kemungkinan diikuti tsunami, memang salah satu tempat aman berada di ujung jalan masuk gampong itu. Menurut Keucik Suhardi, ada jalan lain yang bisa menjadi arah keluar, namun jalan tersebut masih penuh semak, jika lewat ladang maka terlalu terjal untuk sampai ke jalan raya, dan tentu akan sangat susah bagi warga yang sudah tua maupun kelompok rentan lainnya.
Setelah warga berkumpul di lokasi yang aman, sekitar 30 menit, barulah dibunyikan sirine dari masjid sebagai tanda situasi sudah aman dan masyarakat bisa kembali ke rumahnya masing-masing.
Dari hasil evaluasi memang lokasi titik aman dinilai terlalu jauh, terutama untuk Jorong Hulu, untungnya pada saat simulasi ada sarana informasi, seperti pesawat HT. demikian juga untuk peringatan dini, seandainya ada gempa, kemungkinan listrik mati, sehingga sulit untuk memberikan peringatan kepada masyarakat, demikian diungkapkan Masyon (Ketua Tuha Peut) dan Kasran (Kepala Dusun Hulu). Menurut Keucik Suhardi, memang idealnya di masing-masing dusun ada tempat yang aman, namun karena kondisi gampong dan minimnya akses jalan keluar, maka sementara hanya ada satu tempat aman, di jalan raya. Sedangkan menurut Bakrim, selaku tim pendataan, saat melakukan pendataan korban tidak ditemukan kendala dan dapat menginformasikan dan menghitung jumlah korban serta tahu ke mana lokasi yang aman. Secara umum, menurut Bakrim, acara simulasi ini memuaskan, anak-anak dan orangtua mengerti jika ada bencana seperti gempa, bisa lari menuju ke tempat yang lebih tinggi.
Lain Lhok Rukam lain Air Pinang
Air Pinang berada di sebelah timur Lhok Rukam. Gampong ini juga langsung berhadapan dengan samudera Hindia, namun pemukiman terkonsentrasi di Dusun Nilam dan Tepian Bunga yang jauh dari pantai, ke arah utara yang merupakan dataran yang luas ke arah perbukitan. Pantainya di bagian selatan sepanjang sekitar 1 km sebagaian sudah ditanggul batu setinggi 2 meter oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh (BRR), dan tumbuh pohon cemara laut. Dusun yang langsung berhadapan dengan pantai adalah Dusun Pasar, dengan jarak sekitar 500 meter dari bibir pantai. Total luas gampong adalah 655 Hektar, dengan penduduk 1.072, terdiri dari 269 KK. Meski di tepi pantai, namun penduduk Air Pinang hanya ada 8 KK sebagai nelayan, sebagian adalah petani ladang 71 KK dan mayoritas sebagai buruh atau pegawai swasta 123 KK.
Pada simulasi kesiapsiagaan bencana Senin (19/4) kemarin seolah telah terjadi gempa dan gelombang tsunami sempat menyinggahi gampong itu, sehingga masyarakat perlu lari ke titik aman di wilayah yang cukup tinggi di hulu sungai, di Dusun Nilam. Warga dari Dusun Pasar dan Tepian Bunga lari setelah mendengar bunyi sirene dari masjid di Dusun Pasar sekitar pukul 09.40, sebagai peringatan adanya gempa, warga pun keluar rumah.
Kemudian teriakan tsunami 15 menit kemudian sehingga semua warga lari menuju ke titik aman di ujung Dusun Nilam. Dari kejadian gempa itu, Tim Evakuasi tampak sigap melakukan penyelematan kepada para korban. Tim Evakuasi sebanyak 10 orang yang kesemuanya anggota SIBAT (Siaga Bencana berbasis Masyarakat ) yang telah dilatih oleh PMI Aceh selatan dengan Palang Merah Belgia. Ketua SIBAT di Air Pinang adalah Misran. Para korban di Dusun Nilam yang ditolong antara lain Amir, korban luka di kepala, Gaffar korban luka patah kaki, dan korban pingsan Parmi, dan seorang buta Jasmadi yang perlu dibimbing menuju ke titik aman. Yang menarik dan terlihat dramatis adalah ketika keluarga korban harus mengajak Tim Penyelemat, Kak Mar, yang berperawakan tinggi dan gemuk ini, selaku keluarga korban tampak sangat histeris dan tersedu menangis sambil lari mengikuti tim penyelamat yang membawa korban dengan tandu darurat. Sementara Kak Mar, yang nama lengkapnya Marwati ini, dengan bagus menjalankan perannya seperti diatur dalam skenario, sejumlah ibu-ibu dan anak-anak muda tertawa menyaksikan aksi yang cukup dramatis ini. Bahkan ketika masih ada satu korban lagi, Kak Mar hendak menolong kembali, sambil menangis, namun sebagian ibu-ibu memperingatkan jangan dia lagi.
Aksi simulasi ini, diikuti dengan antuasias oleh sebagian besar warga Air Pinang, khususnya ibu-ibu muda yang rela menggendong anak-anak mereka yang masih kecil. Demikian juga dengan kelompok rentan, juga aktif mengikuti jalannya penyelamatan dan juga menuju ke lokasi aman, seperti Pak Syam (56) sebagai orang catat yang menggunakan kurk karena kaki kirinya memang sudah cacat.
Konsentrasi warga Air pinang berada di lokasi aman berada di dekat sumber mata air ujung timur Dusun Nilam yang berjarak sekitar 800 meter dari Masjid Utama gampong di Dusun Pasar. Di lokasi sempit kurang dari 150 meter2, tenda ukuran 8×12 meter pun didirikan. Saat warga ramai-ramai berada lokasi aman ini, ternyata Tim Tenda belum siap, sehingga banyak warga yang menunggu. Demikian juga tempat perawatan korban yang terluka, juga belum didirikan. Tim dapur juga berada di tempat ini. Ketika semua harus menuju ke titik aman ini, termasuk para guru dan siswa MIN Air Pinang, ternyata lokasi teduh di bawah tenda tidak mencukupi, sehingga para siswa MIN dan gurunya harus beristirahat di pekarangan di bawah pohon pisang dan pinang dengan menggelar tenda kecil peralatan dalam Tas Siaga bencana dari JRS. Idealnya lokasi aman memang sebidang tanah lapang yang cukup untuk mendirikan tenda darurat, serta tempat untuk penyiapan logistik serta tempat perawatan korban yang terluka. Tentu lokasi aman di dekat mata air ini hanya tepat untuk situasi kejadian gempa, akan lain ceritanya jika bencana yang terjadi adalah banjir, tempat ini tentu kurang tepat.
”Lokasi yang disiapkan sebaga titik aman oleh gampong memang di sini, apa pun yang terjadi inilah kondisinya, memang kurang layak. Perlu dipikirkan lagi di mana sekiranya titik aman yang layak dan mudah dijangkau,” papar Zainuddin, tim JRS pada evaluasi di depan warga Air Pinang. Menanggapi hal tersebut, Keucik Air Pinang, Miswar mengatakan bahwa titik aman memang masih perlu dipikirkan lagi oleh gampong. Namun demikian secara umum proses simulasi berjalan dengan baik dan warga sangat antusias. Memang masih ada sedikit kekurangan , tidak cukup jika hanya mengandalkan Tim SIBAT yang hanya sepuluh orang, terasa sangat kurang, ujar keucik Miswar.
Sementara itu, evaluasi dari Guru MIN Air Pinang, Bapak Hamis mengatakan bahwa dari pihak sekolah masih ada kebingungan, karena informasi tentang kejadian gempa kurang terdengar. ”Perlu dipikirkan bersama, agar informasi dari masyarakat bisa cepat sampe ke sekolah, ” kata Hamis. Sedangkan Kepala Sekolan MIN Air Pinang, Yusmalinda Ningsih, S.Ag, menyoroti masalah proses evakuasi, dari lokasi sekolah yang titik aman yang cukup jauh. Menurutnya saat simulasi ini, untung ada mobil, sehingga anak-anak bisa dievakausi dengan mobil tersebut, ”Jika kejadian sungguh-sungguh dan tidak ada mobil, apakah anak-anak bisa sampai ke tempat aman ?” tanya Yusmalinda yang akrab dipanggil Bu Neneng ini. Memang lokasi MIN dengan titik aman di sumber mata air Dusun Nilam mencapai sekitar 1 km, melalui jalan gampong yang berbelok-belok.
Oleh: Daryadi