Jalan Panjang Menuju Aceh Selatan Tahan Bencana*
(Refleksi pendek imaginatif)
Bersamaan dengan gerimis, sekitar jam 17.30 WIB, di sebuah kedai kupi yang lebih dikenal sebagai ”bukit” karena letaknya memang berada di tanah yang lebih tinggi dari kota Tapaktuan, tiga orang duduk di bawah naungan kanopi sederhana, bagian dari meja untuk ngupi dan makan. Tapi sore itu tak ada makanan di atas meja, cuma ada tiga cangkir kopi yang tampaknya sudah dingin, 2 bungkus rokok, dan tiga lelaki yang duduk mencangkung menghindari gerimis. Bila memandang ke bawah sekitar 10 meter maka akan terlihat hempasan ombak di batas pantai, dan jika beruntung, dari posisi meja itu mereka bisa sesekali melihat kepala Chelonia mydas yang menyembul dari air.
Ketiga orang itu adalah staf JRS Aceh Selatan yang baru saja pulang dari lapangan, lalu mampir di kedai kopi sebagai pelepas penat sekaligus ruang berdiskusi santai. Tapi sore itu pembicaraan mengalir menjadi serius meski tetap santai. Tak ada tampak wajah lelah ketika mereka berdebat tentang hal yang sebenarnya tidak menarik jika dibandingkan misalnya dengan topik Jupe sebagai calon bupati Pacitan, atau kontroversi Susno, bahkan jika dibandingkan gosip-gosip murahan sekitar kantor.
Staf A : Lalu apa tinggalan JRS ketika nanti kita cabut buat Aceh Selatan, selain bekas mess, bekas kantor, dan bekas staf?
Staf B : Lha kamu pikir, selama ini JRS emangnya gak ngasih apa-apa! Udah puluhan bahkan ratusan juta duit dikeluarin agar masyarakat nggak miskin lagi atau paling nggak mencoba untuk nggak miskin lagi. Emangnya itu bukan tinggalan?
Staf A : Iya memang, tapi coba lihat, itu kan semua pemberian, dan terus terang aku ngga yakin mereka mampu menjaga atau bahkan memanfaatkannya untuk perekonomian. Seperti lazimnya dulu-dulu, yang serba gratis pasti gampang hilang.
tiba-tiba staf C nimbrung:
Staf C : Nah sekarang awak yang tanya, waktu kalian dulu mulai kerja di program ini, apa yang kalian pikir akan berikan sebenarnya buat masyarakat Aceh Selatan? Traktor? Kerjaan? Lapangan bola? Bibit coklat? Semangat? Atau apa? Coba jawab dulu!
Staf A : Waktu aku mulai, kata yang terbayang adalah pendampingan. Penemanan pada masyarakat, atau yang istilahnya pemberdayaan. Intinya bagaimana mengajak masyarakat sadar bahwa Aceh Selatan ini rawan bencana dan akhirnya mereka mau bergerak menguatkan diri.
Staf B : Susah sebenarnya jawab itu boss… Tapi buatku bergabung dengan JRS adalah tempat bekerja, cari makan buat keluarga, dan kalau bisa membagi pengetahuan dengan masyarakat. itu pun kalau mereka mau! Kalau masyarakatnya nggak mau, ya bukan tanggung jawab kita kan? Soalnya mengubah masyarakat kan nggak gampang. Itu belum lagi jika harus mengubah pemerintah. Realistis kan ?
Sesekali truk-truk bertonase berat lewat di sekitar kedai kupi itu menyemburkan asap tebal dan suara tarikan gas yang tinggi untuk berjuang melewati tikungan sekaligus tanjakan yang ramai dilewati pengguna jalan lain itu. Ternyata ketiga kawan kita sama sekali nggak terganggu:
Staf C : So kita sepakat nih bahwa kita menginginkan perubahan di sini?
Staf B : Iya lah. Sejelek-jeleknya aku, tetap ada niat baik untuk membuat Aceh Selatan ini lebih bai. Apalagi aku sendiri orang Aceh.
Staf C : Nah sekarang JRS sudah 2 tahun di sini dari rencana 3, 5 tahun. Kalian sudah merasa membuat perubahan belum?
Staf A : Halah..itu ya lebih susah lagi cuy! Waktu JRS datang, kita bikin asessment kan yang menunjukkan kalau baik masyarakat maupun pemerintah Aceh Selatan sama sekali nggak familiar sama apa itu yang namanya PRB. Tsunami dan konflik tampaknya tak menyisakan pembelajaran apapun, sekedar cerita lalu yang kemudian disertai keluh kesah!
Staf C : Betul itu. Kalo dalam konteks masyarakat tahan bencana, menyitir Twigg dan Benson, kondisinya masih pada level 1 atau paling dasar yakni masyarakat yang hanya memiliki sedikit kesadaran akan risiko ataupun sedikit motivasi untuk menangani isu tersebut. Kalaupun ada aksi, itu masih sebatas pada tanggap situasi kritis. Tapi kondisi ini umumnya sama lho di Indonesia, bukan cuma Aceh aja!
Staf A : Kembali lagi ke pertanyaanmu tadi, setelah dua tahun ini JRS sudah membuat perubahan apa ya? Aku pikir, pada tahapan individual, saat ini lebih banyak orang tahu mengenai PRB baik yang ada di gampong-gampong maupun di pemerintah. Itu juga sebuah hasil positif, kan?
Staf B : Betul. Dan sebenarnya JRS bekerja lebih jauh lagi dari sekedar memberikan dampak individu. Lewat bantuan dan stimulan alat-alat dan bantuan fisik diharapkan akan menjadi amunisi bagi komunitas untuk bekerja bersama mengkaji risiko dan menguranginya bersama-sama. Pertanyaanku tadi adalah apakah masyarakat menyadari itu apa ngga? Begitu juga dengan usaha membangun keterlibatan formal pemerintah. Udah berapa kali kita kontak, kita undang terlibat kegiatan, memberi presentasi, bahkan kita fasilitasi, tapi apakah memang pemerintah merasa bahwa ini jadi kebutuhan mereka? Kalau ini memang buat masyarakat dan pemerintah, kenapa masih kita terus yang mengupayakan dan membuat prakarsa? Kenapa bukan mereka sendiri?
Staf C : Yah dimana-mana, namanya mengajak banyak pihak untuk bersiap tuh susah, ngga cuma di Aceh sini. Jelas isu ini ngga seksi dibandingkan perdagangan karbon misalnya yang bisa mendatangkan duit. Lagian jika ada bencana kan masih bisa minta provinsi atau bahkan pusat! Kalo di gampong alasannya adalah perut aja belum selesai urusannya kok suruh mikir dana darurat banjir. Sama juga di pemerintah yang alasannya kalo kami masih konsentrasi pada pertumbuhan ekonomi dan penetapan Syariat Islam. PRB ntar dulu deh! Maklum tuh man, kalo belum ketemu macan depan mata, yah tetap aja belagu melenggang!
Adzan maghrib mulai terdengar dari mesjid terdekat dan menyadarkan mereka bahwa sudah gelap dan kopi mereka sudah tandas habis.
Staf C : Lha terus sampe nanti dua tahun lagi mau ngapain rencananya? khususnya kamu selaku orang Aceh neh B?
Staf B : Secara pribadi aku menginginkan lebih banyak orang tahu PRB di sini, dan khususnya bagi pemerintah, aku cuma bisa berdoa supaya mereka dikasih ilham dan kekuatan untuk berpikir jernih.
Staf A : Kok cuma doa, emangnya kita ngga mengusahakannya selama ini? Kan sudah kita coba, baik yang strategis maupun taktis! Ya itu lanjutkan, hajar terus, sampe mereka mau menjadi motor munculnya kebijakan PRB di Aceh Selatan. Semoga sih!!
Staf C : Siip….teruskan perjuanganmu kawan! Mari balik, pengen mandi!
Percakapan tanpa pangkal dan juga nir-ujung ini sekonyong-konyong terhenti, satu orang ke warung untuk bayar kupi, yang lain menuju motor, menstarter motornya dan melaju ke arah Tapaktuan. Entah apa yang ada di kepala mereka saat itu.
*dialog ini hanya imajiner, tak ada pelaku sebenarnya, cuma ada satu orang yang berkhayal, jadi jangan terlalu dipikirkan terlalu serius. Selamat berjuang kawan-kawan JRS tercinta.
Oleh: Yoppie Christian