Kekompakan Warga Untuk Bersiaga Hadapi Gempa
(Catatan dari Arena Simulasi Bencana Gempa di Lawe Sawah)
Kesan pertama ketika mengikuti kegiatan simulasi menghadapi bencana gempa di Lawe Sawah adalah kekompakan seluruh warga. Dari anak TK dan gurunya, siswa SD, pemuda, perangkat gampong sampai kelompok rentan, terlibat aktif mengikuti tahapan simulasi. Yang muda mau bekerja, perangkat gampong aktif memobilisasi warga, ibu-ibu dan kelompok rentan rela turut serta, guru dan siswa bersemangat, dan seluruh rangkaian acara berjalan dengan rancak dan lancar. Meski Pak Keucik Lawe Sawah, Abdunsyah pagi itu, tidak turun ke lapangan, karena ada kegiatan yang lebih penting di luar gampong, warga tampak antuasias mengikuti simulasi. Mungkin semangat dan kekompakan warga menjadi salah satu faktor kunci sukses acara simulasi, dan tentunya tak lepas kerja keras tim Simulasi JRS.
”Jangan segan-segan JRS melibatkan kami, jika ada hal-hal yang perlu masyarakat ketahui, seperti hari ini, kami bisa paham bagaimana jika ada gempa,” kata Zulkarim (38) salah seorang anggota Tuha Peut, Gampong Lawe Sawah, Kluet Timur, ketika diminta kesan-kesannya, Senin (8/3). Menurut Pak Zulkarim, kegiatan simulasi menghadapi bencana gempa merupakan pengalaman yang belum pernah dilakukan, dan merupakan pelajaran penting bagi warga. ”Kami bisa memahami manfaat dari kegiatan ini, jika ada bencana bisa kami terapkan,” katanya. Hal senada juga disampaikan oleh Pak Rachmukmin (49), juga angggota Tuha Peut, yang dalam simulasi berperan sebagai tim peringatan dini. Seterusnya dia mengungkapkan, “Jika ada bencana yang sesungguhnya, kami bisa menyelamatkan masyarakat yang menjadi korban untuk ditolong sebagaimana mestinya, yang luka bagaimana menangani, ibu hamil harus ditolong duluan, demikian orang jompo harus kami perhatikan.” Baik Zulkarim maupun Rachmukmin, mewakili masyarakat Lawe Sawah menyatakan sangat berterima kasih terhadap JRS yang telah memberikan pelatihan penanganan bencana.
Lain pengalaman Pak M. Arya, Kepala Dusun Teladan yang bertindak sebagai ketua tim peringatan dini, dia mengaku saat pertama masih bingung, apa yang mesti dilakukan, akan tetapi akhirnya paham, apa arti peringatan jika ada bencana. Pak Arya juga menyatakan jika terjadi bencana sungguhan dirinya sudah cukup paham. Didik selaku pemandu dalam evaluasi mengatakan jika ada gempa beneran, pengumuman dari Pak Arya harus terus disampaikan kepada warga agar cepat keluar dari rumah menuju tempat lapang, karena sangat dimungkinkan adanya gempa susulan. Barangkali Pak Arya masih bingung cara membunyikan sirene lewat megaphone dan mengumumkan kondisi kedaruratan ketika ada gempa datang.
”Apakah korban sudah merasa ditolong oleh tim penyelamat, bagaimana pendapat korban?” tanya Didik, si penulis skenario simulasi ini. ”Yaa sudah tepat, saya sudah ditolong oleh tim penyelamat,” kata Arman (30) yang berperan sebagai korban terluka di paha. Dia seolah tertimpa kayu rumahnya yang mengakibatkan pendarahan di pahanya.
Pada kegiatan simulasi ini, panitia memang mengakui bahwa tim evakuasi jumlahnya kurang, sehingga pertolongan agak terlambat. Hal yang perlu ditandaskan oleh panitia, jika tim evakuasi kurang, yang terjadi bukan mengurangi risiko, namun malah menambah jumlah korban. Terhadap proses pertolongan yang dilakukan terhadap korban, Abah Entis, anggota Tim Simulasi yang lain, menyatakan bahwa bidai sudah disiapkan sesuai cara-cara atau pengetahuan warga di gampong, namun cara pertolongan terlau cepat sehingga dimungkinkan bisa menambah trauma yang lebih parah. Entis menambahkan bahwa pertolongan untuk luka pendarahan di kepala, sudah tepat, bagian yang terluka ditekan terlebih dulu untuk menghentikan pendarahan, baru dibalut. Dalam peragaan itu, Entis yang berbadan gemuk berperan sebagai ibu-ibu yang sedang hamil tua sehingga perlu diselamatkan dengan tandu dari kursi, dan dia rela berdandan seperti perempuan yang lagi hamil tua, lengkap dengan kerudung dan sarung yang menutupi perut buncitnya.
Titik Kumpul dan Tempat Aman
Simulasi itu dimulai dengan bunyi sirene yang tepat jam 09.45, Pak Arya membunyikan sirene dari megaphone. Memang jarak antara titik kumpul yang satu dengan titik kumpul yang lain cukup jauh, dan kadang sirine hanya terdengar sayup-sayup, sehingga saat akan pertama memulai keluar dari rumah Pak Azirwan, harus ditunda dulu menunggu kelpompok lain bergerak. Dari dua titik kumpul inilah, masyarakat yang tidak menjadi korban gempa bergerak menuju ke tempat aman di lapangan sepak bola Dusun Semegon. Jarak dari Rumah Pak Arya di Dusun Teladan sampai ke lapangan mencapai sekitar 400 meter, sedang dari titik kumpul kedua di Dusun Semegon mencapai 250 meter. Saat iring-iringan penduduk yang menyelamatkan ke ruang terbuka tampak antuasias, khususnya dari kelompok rentan, seperti orang jompo, anak-anak. Ibu-ibu yang sudah tua rela membawa barang di atas kepalanya, demikian juga beberapa bapak yang sudah uzur rela menggunakan tongkat berjalan cukup jauh. Tim JRS khususnya yang terbiasa mendampingi kelompok rentan dan sekolah membimbing mereka untuk menuju ke tempat terbuka di lapangan sepakbola, demikian juga dengan anak-anak sekolah, yang berjarak sekitar 150 meter dari tenda. Anak-anak tersebut setelah melakukan upaya pengamanan di sekolah beranjak menuju ke lapangan. Mereka dibimbing oleh guru-gurunya. Saat menuju tenda mereka harus melintasi selokan sekitar 1,5 m, dengan titian dua batang pinang. Baik kelompok rentan maupun anak-anak sekolah harus dibimbing agar selamat melintasi titian batang pinang tersebut, untunglah dua staf JRS menunggu di titian tersebut, untuk membimbing baik anak-anak dan kelompok rentan lewati.
Saat terjadi ”gempa” Senin pagi kemarin, masyarakat sebelum lari ke tempat aman, berada di titik kumpul, yakni di rumah Pak M. Arya di Dusun Teladan, serta di Rumah Pak Azirman di Dusun Semegon. Secara geografis Gampong Lawe Sawah bisa dikatakan gampong dengan wilayah yang luas, dengan panjang mencapai 7 km, dengan penduduk 2.200 jiwa sekitar 550 KK, terbagi dalam lima Dusun, yakni Utama/Temerking, Matsisir, Teladan, Semegon dan Tapak Aulia. Dari dusun Utama sampai sampai Tapak Aulia yang berada di balik bukit mencapai lebih kurang 7 kilometer, kata Kadus Utama, Aminsar. Menurutnya, simulasi pada pagi itu tidak bisa melibatkan warga seluruh dusun, karena jarak yang berjauhan, sehingga dari Dusun Utama hanya perwakilan. Konsentrasi penduduk yang dilibatkan terdiri dari Dusun Matsisir, Teladan dan Semegon. Gempa di Lawe Sawah mengakibatkan beberapa korban, antara lain korban luka di kepala karena terkena kayu rangka rumah, diperankan Dodi Alamsyah (21). Dodi seolah dikerjain sama tim penolong, kepalanya diberi pewarna merah seperti darah, seperti syrup, sebelum praktek evakuasi dilakukan. Lalu dibiarkan tergeletak sampai beberapa lama, sampai dia mesti merokok dulu. Demikian juga Arman (32) yang tergeletak di teras rumahnya, dia solah terluka di pahanya, dia pun harus menunggu cukup lama untuk ditolong, hal sama juga dialami Heri atau Hermansyah yang mengalami luka patah kaki. Ketiga korban itu berada di sekitar titik kumpul di rumah Pak Azirwan di Dusun Semegon. Selain itu juga, ada seorang yang mengalami gangguan mental dan perlu diselamatkan di tempat aman. Peran ini dimainkan oleh Abun, pemuda Lawe Sawah, dengan baik. Sedang untuk korban yang ”meninggal” diperankan Iwan, salah satu anggota krew dokumentasi. Sementara korban lain di titik kumpul rumah Pak Arya di Dusun Teladan, Hernawati (28) luka di pergelangan tangan. Sedangkan korban di sekolah, terdapat 7 siswa yang mengalami luka mulai dari patah tulang, patah tangan, pingsan maupun luka di kepala, jelas Rachmawati, tim JRS dari Proyek School. Untuk pendataan para korban, Pak Yacob, Pak Abdullah, Ibrahim Saleh dan Zulkarim. Kebetulan keempat orang ini juga anggota tim pancacah pada Sensus Penduduk 2010, Mei mendatang. Jadi sudah paham, makna dan cara kerja pendataan.
Tenda yang dibentangkan di ujung utara lapangan, tampaknya tidak cukup memuat masyarakat di titik aman tersebut. Tak kurang dari 400 orang (termasuk anakanak) berkumpul di tenda yang lebarnya mencapai 8 meter dan panjangnya 12 meter. Terpaksa para guru berteduh di tenda seukuran 3 meteran yang diperuntukkan untuk para korban terluka. Saat para korban terluka digotong oleh tim evakuasi, para guru pun berpindah, harus berdesakdesakan di tenda besar. Suasana cukup riuh dan panas, sambil menunggu ”korban-korban” lain yang sedang dievakuasi. Akhirnya setelah jam menunjuk pukul 10.40, anak-anak SD Gampong Lawe Sawah sekolah pun kembali menuju ke sekolah, seorang anak perempuan, bernama Wita, pucat karena pusing dan harus dirangkul untuk kembali ke sekolah.
Warga masyarakat Gampong Lawe Sawah tetap berada di tenda, untuk menunggu makan siang, sambil evaluasi dari tim JRS, dan ditutup dengan penyerahan Megaphone dan tenda dari JRS yang diwakili Donatus Akur kepada masyarakat, yang diterima Pak Arya. Sementara itu Tim Dapur yang terdiri dari pemuda terus bekerja memanak nasi, sedang lauk kari kambing telah siap sejak pagi, untuk segera dibagikan kepada para ”pengungsi” yang mulai kepanasan di tenda. Untunglah bubur kacang hijau dan telor rebus, bisa sedikit menahan serangan ”gampong teungoh” yang mulai beraksi di siang yang makin panas itu.
Oleh: Daryadi
terus maju