“Saya mengharapkan Pak Keuchik dan Pak Camat untuk segera membuat rencana yang dimasukkan dalam anggaran 2008 dengan fokus utama adalah membangun jalur transportasi yang layak dan juga penerangan untuk desa Glee Putoh”
Deretan rumah smart modular type 361 yang berada di sepanjang jalan desa Glee Putoh, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya yang kebanyakan dikelilingi pekarangan yang sudah ditumbuhi berbagai tanaman yang tertata rapi menjadi penanda bahwa desa Glee Putoh telah hidup lagi. Bibit karet bantuan dari dinas pertanian, mulai bersemai diletakkan di depan masing-masing rumah dan beberapa bulan lagi siap untuk ditanam. Kondisi yang serupa bisa ditemui di Desa Gunong Meulinteng dan Panton Kabu, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya. Desa Glee Putoh yang saat ini dihuni oleh 37 kepala keluarga sangat berbeda kondisinya dengan ketika JRS pertama kali datang ke ketiga desa tersebut yang masih dipenuhi semak belukar dan kebun-kebun tak terawat.
Read more…
melani Aceh
“Masih ingat dulu jaman-jaman semangat Joss1 waktu bangun rumah-rumah bantuan JRS.” Tutur Tgk Kamaruddin, salah satu pengajar di Pesantren Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI). Pesantren terbesar dan berpengaruh di wilayah pesisir Barat Nanggroe Aceh Darussalam.
Senin pagi (10/12) dibawah tenda terlapis arak-arak mendung berkumpulah 50-an orang di depan kantor pesantren BUDI, Lamno. Acaranya hanya satu. Serah terima bantuan rumah dan sarana umum lainnya dari JRS (Jesuit Refugee Service) kepada pihak pesantren BUDI2. Ramai orang terpekur dalam tenda bersaput puluhan kursi-kursi plastik tertata rapi.
Read more…
melani Aceh
Jakarta 4 Desember 2007, JRS bersama No strings, IDEP dan Trocaire mengadakan peluncuran film yang menggunakan serangkaian film yang di-design untuk pendidikan anak-anak tentang bencana alam dan pencegahan konflik. Ada empat film imajinasi dengan menggunakan boneka tangan yang dapat melibatkan anak-anak dan orang dewasa seperti dalam pelajaran visual tentang bagaimana sebaiknya menyelamatkan diri mereka ketika datang bencana alam (Tsunami, banjir dan tanah longsor, gunung meletus dan gempa bumi). Film yang kelima berbeda dari keempat film tersebut, film yang kelima ini mengajak untuk melihat permusuhan yang timbul dalam masyarakat karena datangnya orang baru dalam komunitas mereka yang menimbulkan gejolak. Dengan demikian, film ini dapat berfungsi sebagai alat untuk menyelamatkan hidup dan mencegah terjadinya pengungsian di generasi yang akan datang. Film-film tersebut telah dialih-bahasakan ke dalam 4 bahasa : inggris, indonesia, aceh, tetun (Timor Leste) dan tidak menutup kemungkinan untuk dialih-bahasakan ke bahasa daerah yang lain serta bahasa-bahasa yang ada di Asia Tenggara. Read more…
melani JRS
Entah kenapa, sesekali saya masih saja terbius dengan mal dan segala kenyamanannya. Suatu hari saat sedang liburan di Jokja, saya menjemput istri seusai kuliah. Matahari tepat di atas ubun-ubun ketika kami berada di jalanan yang semrawut dan panas. Tidak ada tempat lain selain mal yang sejuk di sebuah ruas jalan di Janti. Istriku menawarkan untuk mampir, “Ayolah, sekedar menghindar dari panas matahari, menanti sore sambil membaca-baca buku”. Read more…
melani Opini Personal