Archive

Archive for the ‘JRS’ Category

Mengenal Sistim Peringatan Dini

September 12th, 2008

“Sebagian besar masyarakat masih menganggap bencana merupakan cobaan dari Tuhan, dan karena manusia membuat kesalahan maka Tuhan memberikan banjir,longsor dan sebagainya, bagaimana menjelaskan pada masyarakat tentang hal ini?” tanya Sukri, staff JRS Tapaktuan untuk proyek sekolah. Fasilitator kemudian membawa peserta pada permainan lempar tangkap untuk menjawab pertanyaan tersebut. Permainan berlangsung dengan ramai dan barang-barang berjatuhan. Eko kemudian meminta seluruh peserta untuk saling lempar tangkap namun tidak boleh ada barang yang jatuh. Setelah berdiskusi permainan lempat tangkap berjalan dengan mulus, setiap peserta memanggil nama peserta yang lain sebelum melempar barang. Dan, tidak ada satu barangpun yang jatuh kali ini.

Read more…

admin JRS

Belajar Bersama Tentang Bencana

September 11th, 2008

Memasuki bulan puasa, aktivitas implementasi program JRS di Aceh mulai banyak berkurang. Namun, bukan berarti staff JRS sama sekali tidak melakukan apapun. Kegiatan selama satu bulan masa puasa difokuskan pada peningkatan kapasitas staff . Kunjungan ke desa dampingan tetap dilakukan tapi tidak dengan intensitas yang tinggi. Peningkatan kapasitas staff dilakukan dengan training Disaster Preparedness Management (DPM) di Hotel Niagara, Parapat mulai tanggal 10 - 17 September 2008.

Read more…

admin JRS

Peluncuran Film “Cerita Bencana”

December 13th, 2007

Jakarta 4 Desember 2007, JRS bersama No strings, IDEP dan Trocaire mengadakan peluncuran film yang menggunakan serangkaian film yang di-design untuk pendidikan anak-anak tentang bencana alam dan pencegahan konflik. Ada empat film imajinasi dengan menggunakan boneka tangan yang dapat melibatkan anak-anak dan orang dewasa seperti dalam pelajaran visual tentang bagaimana sebaiknya menyelamatkan diri mereka ketika datang bencana alam (Tsunami, banjir dan tanah longsor, gunung meletus dan gempa bumi). Film yang kelima berbeda dari keempat film tersebut, film yang kelima ini mengajak untuk melihat permusuhan yang timbul dalam masyarakat karena datangnya orang baru dalam komunitas mereka yang menimbulkan gejolak. Dengan demikian, film ini dapat berfungsi sebagai alat untuk menyelamatkan hidup dan mencegah terjadinya pengungsian di generasi yang akan datang. Film-film tersebut telah dialih-bahasakan ke dalam 4 bahasa : inggris, indonesia, aceh, tetun (Timor Leste) dan tidak menutup kemungkinan untuk dialih-bahasakan ke bahasa daerah yang lain serta bahasa-bahasa yang ada di Asia Tenggara. Read more…

melani JRS