<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>JRS Punya Cerita</title>
	<atom:link href="http://www.jrs.or.id/wordpress/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jrs.or.id/wordpress</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 06:42:27 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Setelah Hampir di Ujung Perjalanan</title>
		<link>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/27/setelah-hampir-di-ujung-perjalanan/</link>
		<comments>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/27/setelah-hampir-di-ujung-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 06:42:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jrs.or.id/wordpress/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[(refleksi advokasi atas dua tahun project)
“&#8230;lebih mudah mengatakan halo daripada selamat tinggal” (White Lion on Mane Attraction, 1991)
Perjalanan program pencegahan pengungsian di beberapa gampong Aceh Selatan hampir selesai. Setelah dua tahun program ini berjalan di 13 gampong di kawasan Kluet maupun Pasieraja, akhirnya dengan berat hati JRS harus bersiap-siap mengatakan selamat tinggal. Tapi ternyata bukanlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(refleksi advokasi atas dua tahun project)</strong></p>
<p><em>“&#8230;lebih mudah mengatakan halo daripada selamat tinggal”</em> (White Lion on Mane Attraction, 1991)</p>
<p>Perjalanan program pencegahan pengungsian di beberapa <em>gampong </em>Aceh Selatan hampir selesai. Setelah dua tahun program ini berjalan di 13 <em>gampong</em> di kawasan Kluet maupun Pasieraja, akhirnya dengan berat hati JRS harus bersiap-siap mengatakan selamat tinggal. Tapi ternyata bukanlah sesuatu yang mudah bagi lembaga kemanusiaan seperti JRS untuk mengakhiri sebuah program. Alasannya, ternyata waktu yang ada berjalan seakan sangat cepat dan masih banyak hal yang belum bisa terlaksana, atau masih begitu banyak harapan dan targetan yang belum tercapai.</p>
<p><span id="more-102"></span><br />
Program Pencegahan Pengungsian diimplementasikan berdasarkan pada term waktu alias kluster-kluster. Masing-masing kluster berjalan selama 1,5 tahun (termasuk untuk phase out atau proses keluar), dan antara satu kluster satu dengan kluster berikutnya (kedua) bertemu di tengah proses. Setelah enam bulan kluster I berjalan, kluster II juga akan menyusul, demikian juga dengan kluster berikutnya sampai kluster IV. Secara total pelaksanaan program dalam 4 kluster akan dilaksanakan selama 3,5 tahun sampai akhinya pada Desember 2011 nanti.</p>
<p>Saat ini hampir seluruh staf project sibuk dengan agenda pra-exit untuk kluster I dan II, tercatat 13 gampong atau desa yang merupakan masyarakat dampingan JRS akan mengakhiri kerjasamanya dengan JRS. Kesibukan yang terjadi adalah menyelesaikan beberapa agenda krusial yang belum selesai atau menyelesaikan beberapa gap yang masih terjadi menjelang keluarnya JRS atau <em>phase out</em>.</p>
<p>Dari perspektif advokasi, bolehlah bila kita mereview kembali titik awalnya. Bukan untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan pastinya, melainkan sebagai salah satu aspek yang direnungkan untuk menutup proses kluster I dan II ini.</p>
<p>Pertama, mari kita menarik bahasan ini ke awal program ini dirancang. Sesuai dengan tujuan awalnya, program Pencegahan Pengungsian berangkat dari satu analisa bahwa wilayah Aceh Selatan masih memiliki potensi untuk mengalami pengungsian kembali karena dua hal yakni belum selesainya pemulihan pascakonflik secara holistik dan adil, serta potensi ancaman bencana yang cukup besar di wilayah Aceh Selatan. Dalam konteks <em>Guiding Principles for Internal Displacement</em>, salah satu aspek yang harus terpenuhi jika masyarakat dikatakan aman atau memiliki <em>durable solution</em> adalah jika masyarakat memiliki lingkungan yang aman secara jangka panjang, serta adanya jaminan penggantian atas aset yang rusak atau hilang. Temuan selama ini bahwa hal tersebut tidak terpenuhi, alias masyarakat pascakonflik terpaksa membangun kembali secara swadaya atas apa yang dahulu hilang. Masyarakat tak punya akses atas haknya selama konflik, dan dengan begitu untuk ke depan tak ada jaminan mereka akan mendapat perlindungan jika sekiranya ada konflik lagi atau bencana alam yang sangat dekat ancamannya bagi mereka. Sejauh mana program JRS mampu memberdayakan dampingannya atas hak-hak mereka ini?</p>
<p>Yang kedua, selain latar belakang teoritis mengenai masyarakat pasca konflik diatas, program Pencegahan Pengungsian dibangun dengan cita-cita untuk membangun ketahanan masyarakat secara inklusif dengan memperhatikan partisipasi dan kebutuhan kelompok rentan dalam pembangunan gampong berspektif pengurangan risiko bencana. Pada aspek ini,  tampak pemberdayaan dan pembangunan pola relasi sosial yang inklusif menjadi poin utama. Secara obyektif berarti berhadapan dengan sikap dan kultur yang ada di lokasi dampingan dimana ditemukan masih belum mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan kelompok minor seperti perempuan, usia lanjut, atau anak-anak. Jangankan dalam situasi bencana alam, dalam situasi normal pun para kelompok rentan ini terpinggirkan. Jadi sejauh mana secara politis, kepentingan kelompok ini terwadahi?</p>
<p>Ketiga, segala usaha peredaman risiko dari dua aspek di atas yakni konflik dan bencana alam akan memiliki nilai bila menjamin keamanan jangka panjang. Selain keswadayaan masyarakat di gampong, satu hal yang harus juga berjalan adalah adanya peraturan atau mekanisme di tingkat pemerintahan untuk juga melindungi warganya dari ancaman pengungsian. Jadi antara program di akar rumput dan advokasi di tingkat kebijakan seperti sebuah kerja paralel yang bermuara sama yakni terciptanya ketahanan umum di wilayah Aceh Selatan. Pada prakteknya, tentu saja hal ini tidak mudah. Malah justru kadang pemerintahan tingkat pemegang otorita otonom yang menjadi faktor penghambat karena lemahnya sumber daya dan minimnya perhatian pada kebencanaan dibandingkan isu pengejaran PAD sebagai contohnya. Sampai saat ini di Indonesia dari 33 provinsi, baru 1 yang memiliki RAD PRB Provinsi, dan di tingkat kabupaten baru 61  yang memiliki BNPB dari 550 kabupaten dan kota.</p>
<p><strong>Dicari: mitra sejalan di Aceh Selatan!</strong><br />
Persoalan goodwill birokrasi merupakan persoalan jamak yang dialami oleh semua lembaga yang hendak mengarusutamakan pengurangan risiko bencana di tingkat daerah. <em>Mindset </em>penanganan pascabencana masih begitu kuat dalam birokrasi sehingga lembaga-lembaga yang sebenarnya sudah ada seperti Satlak PB dan Kesbanglinmas belum memiliki strategi khusus bagi PRB. Persoalan lain adalah masih kuatnya aroma sentralisasi dalam pemerintahan, Satlak PB dan Kesbanglinmas masih sangat tergantung pada kerja struktural dari provinsi termauk juga dalam hal anggaran, sehingga kemandirian dalam pengambilan inisiatif bisa dikatakan sangat lemah.</p>
<p>Dari dua kegiatan yang pernah dilakukan bersama pemerintah Aceh Selatan misalnya, yakni diskusi publik tentang PRB dan lokakarya PRB Aceh Selatan akhir tahun lalu, masih belum muncul prakarsa yang cukup tinggi dari para birokrat ini. Banyak pihak aparatur masih merasa bahwa mereka tetap membutuhkan peran dan dukungan dari lembaga luar seperti NGO dan tak bisa berjalan sendiri tanpanya. Bukankah ini adalah logika terbalik? Seharusnya NGO mendukung apa yang sudah menjadi prakarsa pemerintah, dan bukan sebaliknya. NGO hadir sebagai pemantik saja, sementara apinya adalah pemerintah. Akan menjadi sangat tersendat bila NGO harus memantik api ini terus menerus sementara kobarannya tak pernah membesar.</p>
<p>Refleksi atas tahun ini menunjukkan bahwa perlu strategi baru dalam advokasi khususnya di tingkat pemerintahan untuk bisa memantik api supaya kembali dan tetap membesar, sementara di sisi lain penguatan advokasi di tingkat akar rumput harus semakin dipertebal khususnya dalam hal penguatan link antara gampong dan pemerintah agar masyarakat dapat betul-betul memahami hak-haknya ketika berhadapan dengan pemerintah dalam hal ini. Dari sisi pemberdayaan dan partisipasi selalu muncul pertanyaan reflektif apakah yang telah JRS lakukan ini telah mampu mengubah cara berpikir atau cara berindak masyarakat atau belum? Apakah transformasi sosial sudah benar-benar terwujud?. Mari kita renungkan bersama. <em>Terimong Geunaseh</em>.</p>
<p><strong>”Misi JRS adalah Menemani, Melayani, dan Membela Hak-hak Pengungsi”</strong></p>
<p>Oleh: Yoppie Christian</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/27/setelah-hampir-di-ujung-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kekompakan Warga Untuk Bersiaga Hadapi Gempa</title>
		<link>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/27/kekompakan-warga-untuk-bersiaga-hadapi-gempa/</link>
		<comments>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/27/kekompakan-warga-untuk-bersiaga-hadapi-gempa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 06:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jrs.or.id/wordpress/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[(Catatan dari Arena Simulasi Bencana Gempa di Lawe Sawah)
Kesan pertama ketika mengikuti kegiatan simulasi menghadapi bencana gempa di Lawe Sawah adalah kekompakan seluruh warga. Dari anak TK dan gurunya, siswa SD, pemuda, perangkat gampong sampai kelompok rentan, terlibat aktif mengikuti tahapan simulasi. Yang muda mau bekerja, perangkat gampong aktif memobilisasi warga, ibu-ibu dan kelompok rentan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Catatan dari Arena Simulasi Bencana Gempa di Lawe Sawah)</p>
<p>Kesan pertama ketika mengikuti kegiatan simulasi menghadapi bencana gempa di Lawe Sawah adalah kekompakan seluruh warga. Dari anak TK dan gurunya, siswa SD, pemuda, perangkat <em>gampong</em> sampai kelompok rentan, terlibat aktif mengikuti tahapan simulasi. Yang muda mau bekerja, perangkat gampong aktif memobilisasi warga, ibu-ibu dan kelompok rentan rela turut serta, guru dan siswa bersemangat, dan seluruh rangkaian acara berjalan dengan <em>rancak</em> dan lancar. Meski Pak Keucik Lawe Sawah, Abdunsyah pagi itu, tidak turun ke lapangan, karena ada kegiatan yang lebih penting di luar <em>gampong</em>, warga tampak antuasias mengikuti simulasi. Mungkin semangat dan kekompakan warga menjadi salah satu faktor kunci sukses acara simulasi, dan tentunya tak lepas kerja keras tim Simulasi JRS.</p>
<p><span id="more-101"></span><br />
”Jangan segan-segan JRS melibatkan kami, jika ada hal-hal yang perlu masyarakat ketahui, seperti hari ini, kami bisa paham bagaimana jika ada gempa,” kata Zulkarim (38) salah seorang anggota <em>Tuha Peut</em>, Gampong Lawe Sawah, Kluet Timur, ketika diminta kesan-kesannya, Senin (8/3). Menurut Pak Zulkarim, kegiatan simulasi menghadapi bencana gempa merupakan pengalaman yang belum pernah dilakukan, dan merupakan pelajaran penting bagi warga. ”Kami bisa memahami manfaat dari kegiatan ini, jika ada bencana bisa kami terapkan,” katanya. Hal senada juga disampaikan oleh Pak Rachmukmin (49), juga angggota <em>Tuha Peut</em>, yang dalam simulasi berperan sebagai tim peringatan dini. Seterusnya dia mengungkapkan, &#8220;Jika ada bencana yang sesungguhnya, kami bisa menyelamatkan masyarakat yang menjadi korban untuk ditolong sebagaimana mestinya, yang luka bagaimana menangani, ibu hamil harus ditolong duluan, demikian orang jompo harus kami perhatikan.&#8221; Baik Zulkarim maupun Rachmukmin, mewakili masyarakat Lawe Sawah menyatakan sangat berterima kasih terhadap JRS yang telah memberikan pelatihan penanganan bencana.</p>
<p>Lain pengalaman Pak M. Arya, Kepala Dusun Teladan yang bertindak sebagai ketua tim peringatan dini, dia mengaku saat pertama masih bingung, apa yang mesti dilakukan, akan tetapi akhirnya paham, apa arti peringatan jika ada bencana. Pak Arya juga menyatakan jika terjadi bencana sungguhan dirinya sudah cukup paham. Didik selaku pemandu dalam evaluasi mengatakan jika ada gempa <em>beneran</em>, pengumuman dari Pak Arya harus terus disampaikan kepada warga agar cepat keluar dari rumah menuju tempat lapang, karena sangat dimungkinkan adanya gempa susulan. Barangkali Pak Arya masih bingung cara membunyikan sirene lewat megaphone dan mengumumkan kondisi kedaruratan ketika ada gempa datang.</p>
<p>”Apakah korban sudah merasa ditolong oleh tim penyelamat, bagaimana pendapat korban?” tanya Didik, si penulis skenario simulasi ini. ”Yaa sudah tepat, saya sudah ditolong oleh tim penyelamat,” kata Arman (30) yang berperan sebagai korban terluka di paha. Dia seolah tertimpa kayu rumahnya yang mengakibatkan pendarahan di pahanya.</p>
<p>Pada kegiatan simulasi ini, panitia memang mengakui bahwa tim evakuasi jumlahnya kurang, sehingga pertolongan agak terlambat. Hal yang perlu ditandaskan oleh panitia, jika tim evakuasi kurang, yang terjadi bukan mengurangi risiko, namun malah menambah jumlah korban. Terhadap proses pertolongan yang dilakukan terhadap korban, Abah Entis, anggota Tim Simulasi yang lain, menyatakan bahwa bidai sudah disiapkan sesuai cara-cara atau pengetahuan warga di <em>gampong</em>, namun cara pertolongan terlau cepat sehingga dimungkinkan bisa menambah trauma yang lebih parah. Entis menambahkan bahwa pertolongan untuk luka pendarahan di kepala, sudah tepat, bagian yang terluka ditekan terlebih dulu untuk menghentikan pendarahan, baru dibalut. Dalam peragaan itu, Entis yang berbadan gemuk berperan sebagai ibu-ibu yang sedang hamil tua sehingga perlu diselamatkan dengan tandu dari kursi, dan dia rela berdandan seperti perempuan yang lagi hamil tua, lengkap dengan kerudung dan sarung yang  menutupi perut buncitnya.</p>
<p><strong>Titik Kumpul dan Tempat Aman</strong><br />
Simulasi itu dimulai dengan bunyi sirene yang tepat jam 09.45, Pak Arya membunyikan sirene dari megaphone. Memang jarak antara titik kumpul yang satu dengan titik kumpul yang lain cukup jauh, dan kadang sirine hanya terdengar sayup-sayup, sehingga saat akan pertama memulai keluar dari rumah Pak Azirwan, harus ditunda dulu menunggu kelpompok lain bergerak. Dari dua titik kumpul inilah, masyarakat yang tidak menjadi korban gempa bergerak menuju ke tempat aman di lapangan sepak bola Dusun Semegon. Jarak dari Rumah Pak Arya di Dusun Teladan sampai ke lapangan mencapai sekitar 400 meter, sedang dari titik kumpul kedua di Dusun Semegon mencapai 250 meter. Saat iring-iringan penduduk yang menyelamatkan ke ruang terbuka tampak antuasias, khususnya dari kelompok rentan, seperti orang jompo, anak-anak. Ibu-ibu yang sudah tua rela membawa barang di atas kepalanya, demikian juga beberapa bapak yang sudah uzur rela menggunakan tongkat berjalan cukup jauh. Tim JRS khususnya yang terbiasa mendampingi kelompok rentan dan sekolah membimbing mereka untuk menuju ke tempat terbuka di lapangan sepakbola, demikian juga dengan anak-anak sekolah, yang berjarak sekitar 150 meter dari tenda. Anak-anak tersebut setelah melakukan upaya pengamanan di sekolah beranjak menuju ke lapangan. Mereka dibimbing oleh guru-gurunya. Saat menuju tenda mereka harus melintasi selokan sekitar 1,5 m, dengan titian dua batang pinang. Baik kelompok rentan maupun anak-anak sekolah harus dibimbing agar selamat melintasi titian batang pinang tersebut, untunglah dua staf JRS menunggu di titian tersebut, untuk membimbing baik anak-anak dan kelompok rentan lewati.</p>
<p>Saat terjadi ”gempa” Senin pagi kemarin, masyarakat sebelum lari ke tempat aman, berada di titik kumpul, yakni di rumah Pak M. Arya di Dusun Teladan, serta di Rumah Pak Azirman di Dusun Semegon. Secara geografis <em>Gampong</em> Lawe Sawah bisa dikatakan <em>gampong</em> dengan wilayah yang luas, dengan panjang mencapai 7 km, dengan penduduk 2.200 jiwa sekitar 550 KK, terbagi dalam lima Dusun, yakni Utama/Temerking, Matsisir, Teladan, Semegon dan Tapak Aulia. Dari dusun Utama sampai sampai Tapak Aulia yang berada di balik bukit mencapai lebih kurang 7 kilometer, kata Kadus Utama, Aminsar. Menurutnya, simulasi pada pagi itu tidak bisa melibatkan warga seluruh dusun, karena jarak yang berjauhan, sehingga dari Dusun Utama hanya perwakilan. Konsentrasi penduduk yang dilibatkan terdiri dari Dusun Matsisir, Teladan dan Semegon. Gempa di Lawe Sawah mengakibatkan beberapa korban, antara lain korban luka di kepala karena terkena kayu rangka rumah, diperankan Dodi Alamsyah (21). Dodi seolah dikerjain sama tim penolong, kepalanya diberi pewarna merah seperti darah, seperti syrup, sebelum praktek evakuasi dilakukan. Lalu dibiarkan tergeletak sampai beberapa lama, sampai dia mesti merokok dulu. Demikian juga Arman (32) yang tergeletak di teras rumahnya, dia solah terluka di pahanya, dia pun harus menunggu cukup lama untuk ditolong, hal sama juga dialami Heri atau Hermansyah yang mengalami luka patah kaki. Ketiga korban itu berada di sekitar titik kumpul di rumah Pak Azirwan di Dusun Semegon. Selain itu juga, ada seorang yang mengalami gangguan mental dan perlu diselamatkan di tempat aman. Peran ini dimainkan oleh Abun, pemuda Lawe Sawah, dengan baik. Sedang untuk korban yang ”meninggal” diperankan Iwan, salah satu anggota krew dokumentasi. Sementara korban lain di titik kumpul rumah Pak Arya di Dusun Teladan, Hernawati (28) luka di pergelangan tangan. Sedangkan korban di sekolah, terdapat 7 siswa yang mengalami luka mulai dari patah tulang, patah tangan, pingsan maupun luka di kepala, jelas Rachmawati, tim JRS dari Proyek School. Untuk pendataan para korban, Pak Yacob, Pak Abdullah, Ibrahim Saleh dan Zulkarim. Kebetulan keempat orang ini juga anggota tim pancacah pada Sensus Penduduk 2010, Mei mendatang. Jadi sudah paham, makna dan cara kerja pendataan.</p>
<p>Tenda yang dibentangkan di ujung utara lapangan, tampaknya tidak cukup memuat masyarakat di titik aman tersebut. Tak kurang dari 400 orang (termasuk anakanak) berkumpul di tenda yang lebarnya mencapai 8 meter dan panjangnya 12 meter. Terpaksa para guru berteduh di tenda seukuran 3 meteran yang diperuntukkan untuk para korban terluka. Saat para korban terluka digotong oleh tim evakuasi, para guru pun berpindah, harus berdesakdesakan di tenda besar. Suasana cukup riuh dan panas, sambil menunggu ”korban-korban” lain yang sedang dievakuasi. Akhirnya setelah jam menunjuk pukul 10.40, anak-anak SD Gampong Lawe Sawah sekolah pun kembali menuju ke sekolah, seorang anak perempuan, bernama Wita, pucat karena pusing dan harus dirangkul untuk kembali ke sekolah.</p>
<p>Warga masyarakat Gampong Lawe Sawah tetap berada di tenda, untuk menunggu makan siang, sambil evaluasi dari tim JRS, dan ditutup dengan penyerahan Megaphone dan tenda dari JRS yang diwakili Donatus Akur kepada masyarakat, yang diterima Pak Arya. Sementara itu Tim Dapur yang terdiri dari pemuda terus bekerja memanak nasi, sedang lauk kari kambing telah siap sejak pagi, untuk segera dibagikan kepada para ”pengungsi” yang mulai kepanasan di tenda. Untunglah bubur kacang hijau dan telor rebus, bisa sedikit menahan serangan ”gampong teungoh” yang mulai beraksi di siang yang makin panas itu.</p>
<p>Oleh: Daryadi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/27/kekompakan-warga-untuk-bersiaga-hadapi-gempa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Panjang Menuju Aceh Selatan Tahan Bencana*</title>
		<link>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/27/jalan-panjang-menuju-aceh-selatan-tahan-bencana/</link>
		<comments>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/27/jalan-panjang-menuju-aceh-selatan-tahan-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 06:27:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jrs.or.id/wordpress/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[(Refleksi pendek imaginatif)
Bersamaan dengan gerimis, sekitar jam 17.30 WIB, di sebuah kedai kupi yang lebih dikenal sebagai ”bukit” karena letaknya memang berada di tanah yang lebih tinggi dari kota Tapaktuan, tiga orang duduk di bawah naungan kanopi sederhana, bagian dari meja untuk ngupi dan makan. Tapi sore itu tak ada makanan di atas meja, cuma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Refleksi pendek imaginatif)</p>
<p>Bersamaan dengan gerimis, sekitar jam 17.30 WIB, di sebuah kedai <em>kupi </em>yang lebih dikenal sebagai ”bukit” karena letaknya memang berada di tanah yang lebih tinggi dari kota Tapaktuan, tiga orang duduk di bawah naungan kanopi sederhana, bagian dari meja untuk <em>ngupi</em> dan makan. Tapi sore itu tak ada makanan di atas meja, cuma ada tiga cangkir kopi yang tampaknya sudah dingin, 2 bungkus rokok, dan tiga lelaki yang duduk mencangkung menghindari gerimis. Bila memandang ke bawah sekitar 10 meter maka akan terlihat hempasan ombak di batas pantai, dan jika beruntung, dari posisi meja itu mereka bisa sesekali melihat kepala <em>Chelonia mydas</em> yang menyembul dari air.</p>
<p><span id="more-100"></span></p>
<p>Ketiga orang itu adalah staf JRS Aceh Selatan yang baru saja pulang dari lapangan, lalu mampir di kedai kopi sebagai pelepas penat sekaligus ruang berdiskusi santai. Tapi sore itu pembicaraan mengalir menjadi serius meski tetap santai. Tak ada tampak wajah lelah ketika mereka berdebat tentang hal yang sebenarnya tidak menarik jika dibandingkan misalnya dengan topik Jupe sebagai calon bupati Pacitan, atau kontroversi Susno, bahkan jika dibandingkan gosip-gosip murahan sekitar kantor.</p>
<p><em>Staf A    : Lalu apa tinggalan JRS ketika nanti kita cabut buat Aceh Selatan, selain bekas mess,  bekas kantor, dan bekas staf?<br />
Staf B    : Lha kamu pikir, selama ini JRS emangnya gak ngasih apa-apa! Udah puluhan bahkan ratusan juta duit dikeluarin agar masyarakat nggak miskin lagi atau paling nggak mencoba  untuk nggak miskin lagi. Emangnya itu bukan tinggalan?<br />
Staf A    : Iya memang, tapi coba lihat, itu kan semua pemberian, dan terus terang aku ngga yakin mereka mampu menjaga atau bahkan memanfaatkannya untuk perekonomian. Seperti lazimnya dulu-dulu, yang serba gratis pasti gampang hilang.</em></p>
<p>tiba-tiba staf C nimbrung:</p>
<p><em>Staf C    : Nah sekarang awak yang tanya, waktu kalian dulu mulai kerja di program ini, apa yang kalian pikir akan berikan sebenarnya buat masyarakat Aceh Selatan? Traktor?  Kerjaan? Lapangan bola?  Bibit coklat?  Semangat? Atau apa? Coba jawab dulu!<br />
Staf A    : Waktu aku mulai, kata yang terbayang adalah pendampingan. Penemanan pada masyarakat, atau yang istilahnya pemberdayaan. Intinya bagaimana mengajak masyarakat sadar bahwa Aceh Selatan ini rawan bencana dan akhirnya mereka mau bergerak menguatkan diri.<br />
Staf B    : Susah sebenarnya jawab itu boss&#8230; Tapi buatku bergabung dengan JRS adalah tempat bekerja, cari makan buat keluarga, dan kalau bisa membagi pengetahuan dengan masyarakat. itu pun kalau mereka mau! Kalau masyarakatnya nggak mau, ya bukan tanggung jawab kita kan? Soalnya mengubah masyarakat kan nggak gampang. Itu belum lagi jika harus mengubah pemerintah. Realistis kan ?</em></p>
<p>Sesekali truk-truk bertonase berat lewat di sekitar kedai kupi itu menyemburkan asap tebal dan suara tarikan gas yang tinggi untuk berjuang melewati tikungan sekaligus tanjakan yang ramai dilewati pengguna jalan lain itu. Ternyata ketiga kawan kita sama sekali nggak terganggu:</p>
<p><em>Staf C    : So kita sepakat nih bahwa kita menginginkan perubahan di sini?<br />
Staf B    : Iya lah. Sejelek-jeleknya aku, tetap ada niat baik untuk membuat Aceh Selatan ini lebih bai. Apalagi aku sendiri orang Aceh.<br />
Staf C    : Nah sekarang JRS sudah 2 tahun di sini dari rencana 3, 5 tahun. Kalian sudah merasa membuat perubahan belum?<br />
Staf A    : Halah..itu ya lebih susah lagi cuy! Waktu JRS datang, kita bikin asessment kan yang menunjukkan kalau baik masyarakat maupun pemerintah Aceh Selatan sama sekali nggak familiar sama apa itu yang namanya PRB. Tsunami dan konflik tampaknya tak menyisakan pembelajaran apapun, sekedar cerita lalu yang kemudian disertai keluh kesah!<br />
Staf C    : Betul itu. Kalo dalam konteks masyarakat tahan bencana, menyitir Twigg dan Benson, kondisinya masih pada level 1 atau paling dasar yakni masyarakat yang hanya memiliki sedikit kesadaran akan risiko ataupun sedikit motivasi untuk menangani isu tersebut. Kalaupun ada aksi, itu masih sebatas pada tanggap situasi kritis. Tapi kondisi ini umumnya sama lho di Indonesia, bukan cuma Aceh aja!<br />
Staf A    : Kembali lagi ke pertanyaanmu tadi, setelah dua tahun ini JRS sudah membuat perubahan apa ya? Aku pikir, pada tahapan individual, saat ini lebih banyak orang tahu mengenai PRB baik yang ada di gampong-gampong maupun di pemerintah. Itu juga sebuah hasil positif, kan?<br />
Staf B    : Betul. Dan sebenarnya JRS bekerja lebih jauh lagi dari sekedar memberikan dampak individu. Lewat bantuan dan stimulan alat-alat dan bantuan fisik diharapkan akan menjadi amunisi bagi komunitas untuk bekerja bersama mengkaji risiko dan menguranginya bersama-sama. Pertanyaanku tadi adalah apakah masyarakat menyadari itu apa ngga? Begitu juga dengan usaha membangun keterlibatan formal pemerintah. Udah berapa kali kita kontak, kita undang terlibat kegiatan, memberi presentasi, bahkan kita fasilitasi, tapi apakah memang pemerintah merasa bahwa ini jadi kebutuhan mereka? Kalau ini memang buat masyarakat dan pemerintah, kenapa masih kita terus yang mengupayakan dan membuat prakarsa? Kenapa bukan mereka sendiri?<br />
Staf C    : Yah dimana-mana, namanya mengajak banyak pihak untuk bersiap tuh susah, ngga cuma di Aceh sini. Jelas isu ini ngga seksi dibandingkan perdagangan karbon misalnya yang bisa mendatangkan duit. Lagian jika ada bencana kan masih bisa minta provinsi atau bahkan pusat! Kalo di gampong alasannya adalah perut aja belum selesai urusannya kok suruh  mikir dana darurat banjir. Sama juga di pemerintah yang alasannya kalo kami masih konsentrasi pada pertumbuhan ekonomi dan penetapan Syariat Islam. PRB ntar dulu deh! Maklum tuh man, kalo belum ketemu macan depan mata, yah tetap aja belagu melenggang!</em></p>
<p>Adzan maghrib mulai terdengar dari mesjid terdekat dan menyadarkan mereka bahwa sudah gelap dan kopi mereka sudah tandas habis.</p>
<p><em>Staf C    : Lha terus sampe nanti dua tahun lagi mau ngapain rencananya? khususnya kamu selaku orang Aceh neh B?<br />
Staf B    : Secara pribadi aku menginginkan lebih banyak orang tahu PRB di sini, dan khususnya bagi pemerintah, aku cuma bisa berdoa supaya mereka dikasih ilham dan kekuatan untuk berpikir jernih.<br />
Staf A    : Kok cuma doa, emangnya kita ngga mengusahakannya selama ini? Kan sudah kita coba, baik yang strategis maupun taktis! Ya itu lanjutkan, hajar terus, sampe mereka mau menjadi motor munculnya kebijakan PRB di Aceh Selatan. Semoga sih!!<br />
Staf C    : Siip&#8230;.teruskan perjuanganmu kawan! Mari balik, pengen mandi!<br />
</em><br />
Percakapan tanpa pangkal dan juga nir-ujung ini sekonyong-konyong terhenti, satu orang ke warung untuk bayar kupi, yang lain menuju motor, menstarter motornya dan melaju ke arah Tapaktuan. Entah apa yang ada di kepala mereka saat itu.</p>
<p><em>*dialog ini hanya imajiner, tak ada pelaku sebenarnya, cuma ada satu orang yang berkhayal, jadi jangan terlalu dipikirkan terlalu serius. Selamat berjuang kawan-kawan JRS tercinta.</em></p>
<p>Oleh: Yoppie Christian</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/27/jalan-panjang-menuju-aceh-selatan-tahan-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Dua Gampong di Bibir Samudera Menghadapi  Gempa dan Tsunami</title>
		<link>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/26/ketika-dua-gampong-di-bibir-samudera-menghadapi-gempa-dan-tsunami/</link>
		<comments>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/26/ketika-dua-gampong-di-bibir-samudera-menghadapi-gempa-dan-tsunami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 03:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jrs.or.id/wordpress/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[(Catatan Simulasi Kesiapsiagaan Bencana dari Lhok Rukam dan Air Pinang)
Beruntunglah masyarakat gampong yang punya pemimpin yang masih muda dan  energik, berwibawa, kooperatif, berpengetahuan dan berkemauan untuk terus memajukan gampongnya. Setidaknya pemimpin seperti itu dimilki dua gampong di Kecamatan Tapaktuan, yakni Gampong Lhok Rukam dan Air Pinang.
Suhardi (42), Keucik Lhok Rukam dan Miswar (38), Keucik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Catatan Simulasi Kesiapsiagaan Bencana dari Lhok Rukam dan Air Pinang)</p>
<p>Beruntunglah masyarakat <em>gampong</em> yang punya pemimpin yang masih muda dan  energik, berwibawa, kooperatif, berpengetahuan dan berkemauan untuk terus memajukan gampongnya. Setidaknya pemimpin seperti itu dimilki dua <em>gampong</em> di Kecamatan Tapaktuan, yakni <em>Gampong</em> Lhok Rukam dan Air Pinang.</p>
<p><span id="more-99"></span>Suhardi (42), <em>Keucik</em> Lhok Rukam dan Miswar (38), <em>Keucik</em> Air Pinang,  adalah dua sosok<em> keucik</em> yang cukup disegani dan mampu memobilisasi warganya. Dalam masyarakat yang paternalistik, di mana pemimpin adalah patron (pengayom) yang dihormati  dan disegani oleh warganya  dua sosok <em>keucik</em> muda itu bisa dikatakan sukses  menggerakkan  warganya untuk berpartisipasi aktif dalam simulasi kesiapsiagaan  bencana menghadapi gempa dan tsunami. Kebetulan <em>gampong</em> itu berdekatan dan mempunyai  banyak persamaan seperti kondisi geografis, sama-sama berada di pantai yang menghadap Samudera Hindia,  sisi sosiografis sebagai masyarakat pesisiran yang terbuka dan tingkat pendidikan warganya  yang cukup tinggi, dan sisi  psikografis, punya sejarah pengalaman  trauma terhadap peristiwa gempa maupun tsunami, seperti gempa dan tsunami 26 Desember 2004, dan gempa Nias 28 Maret 2005.<br />
Sabtu (17/4) pagi,  dengan seragam stelan Safari warna coklat susu, dan paduan sepatu coklat tua mengkilat, <em>keucik</em> Suhardi begitu berwibawa memberi arahan maupun menerima laporan dari warganya dalam simulasi kesiapsiagaan gempa dan tanda tsunami di <em>gampong</em> nelayan  seluas 365 Hektar itu.  Secara geografis Lhok Rukam memang   berada di ceruk dengan diapit perbukitan karang yang sangat rentan ketika ada gempa maupun tsunami. Perbukitan di sekeliling juga  mudah longsor, ketika tanaman pala sebagai penahan kemiringan bukit sudah banyak yang kering dan mati. Penduduk Lhok Rukam berjumlah 671 jiwa, terdiri 158 KK, serta hampir 60% keluarga hidup sebagai nelayan, 79 KK.<br />
Pagi itu, sekitar pukul 09.50 sirine dari masjid di ujung <em> gampong</em> berbunyi sebagai tanda telah terjadi gempa yang cukup kuat melanda <em>gampong</em> tersebut. Dengan serta merta, <em>keucik</em> Suhardi mengadakan rapat kilat di depan masjid, bersama  beberapa warga. “Telah terjadi gempa yang cukup kuat melanda<em> gampong</em> kita, agar masyarakat tidak panik, mohon amati kondisi laut, apakah ada tanda-tanda tsunami, demikian juga kondisi gunung, apakah ada yang longsor atau runtuh,” demikian Suhardi membriefing lima orang warganya yang bertugas sebagai tim peringatan dini. Kemudian Pardias (45) salah seorang anggota <em>Tuha peut</em>,   pergi ke  arah gunung, sedang Kisman yang menenteng megaphone, berdiri di tanggul pantai, memandangi gelombang laut. Tiga pemuda lainnya menenangkan warga yang mulai keluar rumah.</p>
<p>Sekitar 15 menit, Pardias dan Kisman pun melapor ke <em>Keucik</em> Suhardi, bahwa kondisi laut maupun gunung tidak membahayakan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dan menunggu jika ada gempa susulan, masyarakat pun diminta untuk menuju ke titik aman di tempat yang tinggi. Karena kondisi topografi yang berada di pinggir laut dan diapit bukit-bukit karang, <em>Gampong</em> Lhok Rukam hanya memiliki satu jalan masuk dan keluar dari jalan utama Jl. Tapaktuan-Medan. Jalan tersebut menurun dan berkelok jika ke arah masuk, dengan beda ketinggian mencapai 25 meter antara wilayah pemukiman dengan jalan raya serta  jarak yang pendek sehingga jalan masuk itu menurun curam. Saat harus keluar dari <em>gampong</em> dengan jalan kaki dan bahkan ada sebagain yang lari menuju titik aman banyak ibu-ibu maupun manula yang tampak terengah-engah karena harus mendaki.  Beberapa orang memang dipersiapkan untuk lari ke titik aman dengan sepeda motor, namun mereka tampak terlalu bersemangat sehingga sering akan menubruk warga yang beriringan berjalan. Dalam simulasi kemarin Tim Evakuasi harus menyelamatkan  beberapa korban yang terluka, seperti Mulyadi yang terluka di kepala, Masyon luka patah kaki, serta Maria Ulfah yang sedang hamil tua, serta Ie Nyak sebagai orang jompo. Para korban harus dibawa lari dengan tandu darurat menuju ke titik aman di tempat yang tinggi ujung jalan masuk gampong tersebut. Memang cukup kewalahan Tim evakusi yang harus bolak balik lari ke lokasi aman dan pemukiman yang berjarak 400 meter dan mendaki.<br />
Tak kurang dari 300 an orang, baik ibu-ibu, anak-anak, manula, anak-anak muda serta siswa SD Lhok Rukam pun tumpah ruah di jalan masuk <em>Gampong</em> Lhok Rukam. Wajah kelelahan dan kehausan pun tampak dari mereka, dan mereka pun duduk, tak ayal ketika ada minuman gelas dibagikan mereka pun berebutan. Untuk kasus bencana  gempa yang kemungkinan diikuti tsunami, memang salah satu tempat aman berada di ujung jalan masuk <em>gampong</em> itu. Menurut <em>Keucik </em>Suhardi, ada jalan lain yang bisa menjadi arah keluar, namun jalan tersebut masih penuh semak, jika lewat ladang maka terlalu terjal untuk sampai ke jalan raya, dan tentu akan sangat susah bagi warga yang sudah tua maupun kelompok rentan lainnya.<br />
Setelah warga berkumpul di lokasi yang aman, sekitar 30 menit, barulah dibunyikan sirine dari masjid sebagai tanda situasi sudah aman dan masyarakat bisa kembali ke rumahnya masing-masing.<br />
Dari hasil evaluasi memang lokasi titik aman dinilai terlalu jauh, terutama untuk Jorong Hulu, untungnya pada saat simulasi ada sarana informasi, seperti pesawat HT. demikian juga untuk peringatan dini, seandainya ada gempa, kemungkinan listrik mati, sehingga sulit untuk memberikan peringatan kepada masyarakat, demikian diungkapkan Masyon (Ketua Tuha Peut) dan Kasran (Kepala Dusun Hulu). Menurut <em>Keucik</em> Suhardi, memang idealnya di masing-masing dusun ada tempat yang aman, namun karena kondisi gampong dan minimnya akses jalan keluar, maka sementara hanya ada satu tempat aman, di jalan raya. Sedangkan menurut Bakrim, selaku tim pendataan, saat melakukan pendataan korban tidak ditemukan kendala dan dapat menginformasikan dan menghitung jumlah korban serta tahu ke mana lokasi yang aman. Secara umum, menurut Bakrim, acara simulasi ini memuaskan, anak-anak dan orangtua mengerti jika ada bencana seperti gempa, bisa lari menuju ke tempat yang lebih tinggi.</p>
<p><strong>Lain Lhok Rukam lain Air Pinang</strong><br />
Air Pinang berada di sebelah timur  Lhok Rukam. <em>Gampong </em>ini juga langsung berhadapan dengan samudera Hindia, namun pemukiman terkonsentrasi di Dusun Nilam dan Tepian Bunga yang  jauh dari pantai,  ke arah utara yang merupakan  dataran yang luas ke arah  perbukitan. Pantainya di bagian selatan  sepanjang sekitar 1 km sebagaian sudah ditanggul batu setinggi 2 meter oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh (BRR), dan tumbuh pohon cemara laut.  Dusun yang langsung berhadapan dengan pantai adalah Dusun Pasar, dengan jarak sekitar 500 meter dari bibir pantai. Total luas <em>gampong</em> adalah 655 Hektar, dengan penduduk 1.072, terdiri dari 269 KK. Meski di tepi pantai, namun penduduk Air Pinang hanya ada 8 KK sebagai nelayan, sebagian adalah petani ladang 71 KK dan mayoritas sebagai buruh atau pegawai swasta 123 KK.<br />
Pada simulasi kesiapsiagaan bencana Senin (19/4) kemarin seolah telah terjadi gempa dan gelombang tsunami sempat menyinggahi <em>gampong</em> itu, sehingga masyarakat perlu lari ke titik aman di wilayah yang cukup tinggi di hulu sungai, di Dusun Nilam. Warga dari Dusun Pasar dan Tepian Bunga lari setelah mendengar bunyi sirene dari masjid di Dusun Pasar sekitar pukul 09.40, sebagai peringatan adanya gempa, warga pun  keluar rumah.<br />
Kemudian teriakan tsunami 15 menit kemudian sehingga semua warga lari menuju ke titik aman di ujung Dusun Nilam. Dari kejadian gempa itu, Tim Evakuasi tampak sigap melakukan penyelematan kepada para korban. Tim Evakuasi sebanyak 10 orang yang kesemuanya anggota SIBAT (Siaga Bencana berbasis Masyarakat ) yang telah dilatih oleh PMI Aceh selatan dengan Palang Merah Belgia. Ketua SIBAT di Air Pinang adalah Misran. Para korban di Dusun Nilam yang ditolong antara lain Amir, korban luka di kepala, Gaffar korban luka patah kaki, dan korban pingsan Parmi, dan seorang buta Jasmadi yang perlu dibimbing menuju ke titik aman. Yang menarik dan terlihat dramatis adalah ketika keluarga korban harus mengajak Tim Penyelemat,  Kak Mar,  yang berperawakan tinggi dan gemuk ini, selaku keluarga korban tampak sangat histeris dan tersedu menangis sambil lari mengikuti tim penyelamat yang membawa korban dengan tandu darurat. Sementara Kak Mar, yang nama lengkapnya Marwati ini, dengan bagus menjalankan perannya seperti diatur dalam skenario, sejumlah ibu-ibu dan anak-anak muda tertawa menyaksikan aksi yang cukup dramatis ini. Bahkan ketika masih ada satu korban lagi, Kak Mar hendak menolong kembali, sambil menangis, namun sebagian ibu-ibu memperingatkan jangan dia lagi.<br />
Aksi simulasi ini, diikuti dengan antuasias oleh sebagian besar warga Air Pinang, khususnya ibu-ibu muda yang rela menggendong anak-anak mereka yang masih kecil. Demikian juga dengan kelompok rentan, juga aktif mengikuti jalannya penyelamatan dan juga menuju ke lokasi aman, seperti Pak Syam (56) sebagai orang catat yang menggunakan kurk karena kaki kirinya memang sudah cacat.<br />
Konsentrasi warga Air pinang berada di lokasi aman berada di dekat sumber mata air ujung timur Dusun Nilam yang berjarak sekitar 800 meter dari Masjid Utama <em>gampong</em> di Dusun Pasar. Di lokasi sempit kurang dari 150 meter2,  tenda ukuran 8&#215;12 meter  pun didirikan. Saat warga ramai-ramai  berada lokasi aman ini, ternyata Tim Tenda belum siap, sehingga banyak warga yang  menunggu.  Demikian juga tempat perawatan korban yang terluka, juga belum didirikan.  Tim dapur juga berada di tempat ini. Ketika semua harus menuju ke titik aman ini, termasuk para guru dan siswa MIN Air Pinang, ternyata lokasi teduh di bawah tenda tidak mencukupi, sehingga para siswa MIN  dan gurunya harus beristirahat di pekarangan di bawah pohon pisang dan pinang  dengan menggelar tenda kecil peralatan dalam Tas Siaga bencana dari JRS. Idealnya lokasi aman memang sebidang  tanah lapang yang cukup untuk mendirikan tenda darurat, serta tempat untuk penyiapan logistik serta tempat perawatan korban yang terluka. Tentu lokasi aman di dekat mata air ini hanya tepat untuk situasi kejadian gempa, akan lain ceritanya jika bencana yang terjadi adalah banjir, tempat ini tentu kurang tepat.</p>
<p>”Lokasi yang disiapkan sebaga titik aman oleh gampong memang di sini, apa pun yang terjadi inilah kondisinya, memang kurang layak. Perlu dipikirkan lagi di mana sekiranya titik aman yang layak dan mudah dijangkau,” papar Zainuddin, tim JRS pada evaluasi di depan warga Air Pinang. Menanggapi hal tersebut, <em>Keucik</em> Air Pinang, Miswar mengatakan bahwa titik aman memang masih perlu dipikirkan lagi oleh <em>gampong</em>. Namun demikian secara umum proses simulasi berjalan dengan baik dan warga sangat antusias. Memang masih ada sedikit  kekurangan , tidak cukup jika hanya mengandalkan Tim SIBAT yang hanya sepuluh orang, terasa sangat kurang, ujar keucik Miswar.</p>
<p>Sementara itu, evaluasi dari Guru MIN Air Pinang, Bapak Hamis mengatakan bahwa dari pihak sekolah masih ada kebingungan, karena informasi tentang kejadian gempa kurang terdengar. ”Perlu dipikirkan bersama, agar informasi dari masyarakat bisa cepat sampe ke sekolah, ” kata Hamis. Sedangkan Kepala Sekolan MIN Air Pinang, Yusmalinda Ningsih, S.Ag, menyoroti masalah proses evakuasi, dari lokasi sekolah yang titik aman yang cukup jauh. Menurutnya saat simulasi ini, untung ada mobil, sehingga anak-anak bisa dievakausi dengan mobil tersebut, ”Jika kejadian sungguh-sungguh dan tidak ada mobil,  apakah anak-anak bisa sampai ke tempat aman ?”  tanya Yusmalinda yang akrab dipanggil Bu Neneng ini. Memang lokasi MIN dengan titik aman di sumber mata air Dusun Nilam mencapai sekitar 1 km, melalui jalan <em>gampong</em> yang berbelok-belok.</p>
<p>Oleh: Daryadi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/26/ketika-dua-gampong-di-bibir-samudera-menghadapi-gempa-dan-tsunami/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Perangkat Gampong Aktif Peduli Simulasi</title>
		<link>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/19/ketika-perangkat-gampong-aktif-peduli-simulasi/</link>
		<comments>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/19/ketika-perangkat-gampong-aktif-peduli-simulasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 03:16:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jrs.or.id/wordpress/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Berbaju batik warna cokelat dan pantalon coklat tua, serta  berkopiah hitam, M. Syarief , Keucik Gampong Ie Merah, Pasieraja,  pagi itu (Selasa, 13/4)  bukan mau menghadiri kenduri atau hajatan pesta warga di gampongnya. Sebagai keucik ketika warganya dikerahkan untuk mengikuti kegiatan simulasi menghadapi bencana gempa di gampongnya, M. Syarief pun tampak sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbaju batik warna cokelat dan pantalon coklat tua, serta  berkopiah hitam, M. Syarief , <em>Keucik</em> Gampong Ie Merah, Pasieraja,  pagi itu (Selasa, 13/4)  bukan mau menghadiri kenduri atau hajatan pesta warga di <em>gampong</em>nya. Sebagai <em>keucik</em> ketika warganya dikerahkan untuk mengikuti kegiatan simulasi menghadapi bencana gempa di <em>gampong</em>nya, M. Syarief pun tampak sangat bersemangat dan sibuk di tengah-tengah warganya yang sedang dievakuasi. Dia  lari ke sana-ke mari terlibat aktif  mengikuti alur skenario simulasi kesiapsiagaan  bencana di <em>gampong</em> itu.</p>
<p><span id="more-98"></span>Ketika bunyi sirine didengungkan dari megaphone yang ditenteng Amiruddin, Sekretaris <em>Tuha Peut Gampong</em> sekitar pukul 09.40 WIB, semua yang terlibat dalam kegiatan simulasi tampak ambil peran masing-masing. Puluhan orang dari  arah timur <em>gampong</em>, Dusun/Lorong Pendidikan, berbondong menuju ke lokasi aman yang telah dipersiapkan, tepat di tengah <em>gampong</em> di seberang masjid, di  lingkungan TPA Lorong Panglima Kasim. Keucik M. Syarief pun turut memberi semangat kepada para warganya yang  mengikuti adegan evakuasi tersebut.<br />
Ketika warga sudah di tempat aman, beberapa pemuda yang telah disiapkan sebagai tim evakusi pun mendata para korban luka maupun kelompok rentan yang masih tercecer. Pagi itu di <em>gampong</em> yang terletak di pinggir gunung seolah-olah telah terjadi gempa sehingga menyebabkan beberapa orang terluka, sebagaimana diperankan oleh Syafruddin menderita luka patah tulang, Ali Usman korban luka kepala, Burhanuddin luka tangan, dan ada satu orang hamil (diperankan oleh Marwan yang didandani layaknya seorang perempuan) serta Bustami yang tidak bisa lari ke lokasi aman, karena dia gila.  Tim evakuasi yang terdiri dari delapan pemuda, antara lain Darwis, Irfan, M. Husein, Adam Malik pun dengan sigap menolong para korban tersebut dengan tandu yang telah disiapkan.<br />
Saat evakuasi  itulah <em>keucik</em> M. Syarief tampak turut serta terlibat aktif dengan lari ke sana kemari mengikuti para anggota Tim Evakuasi ini. Dia pun tampak ikut menggotong dengan tandu kursi seorang korban ibu hamil bersama tiga anggota tim evakuasi lainnya, yang jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi tenda darurat. Seusai menyelamatkan ibu hamil, <em>Keucik</em> M. Syarief pun ikut mengamankan korban yang ”gila” dan susah untuk ditolong karena melakukan perlawanan. Korban pun akhirnya diikat tangannya. Namun setelah bisa ”ditaklukkan” tim penolong  justru lari ke korban lain yang lebih parah. Si orang gila, yang diperankan Bustami pun ditinggalkan di tempat pasar ikan, di Dusun Panglima Kasem,  sehingga dia pun terlantar kembali. Ada seorang warga yang nyeletuk,  ” Kok dibiarkan ?”  Anggota tim evakuasi kemudian sibuk menyelamatkan korban yang luka parah di kaki, sehingga harus ditolong dengan tandu dan dibawa lari ke lokasi yang aman.<br />
Para anggota tim penolong ini harus ekstra hati-hati, karena untuk sampai ke lokasi aman yang berada di seberang sungai harus melalui jembatan selebar 80 cm dari tiga  papan. Ada dua jembatan dari papan untuk menuju ke lokasi aman, jembatan satunya di bagian barat lebih sempit. Anggota tim evakuasi yang menyelamatkan korban dari Dusun/Lorong  Imeum Bagak, salah satu dusun di Ie Merah di ujung barat <em>gampong</em>,  nekad melalui jembatan sempit ini.<br />
Sejumlah siswa SD, rata-rata kelas 4 dan 5, yang telah dilatih oleh Tim Proyek Sekolah JRs, juga dengan tertib mengikuti jalannya evakuasi, dengan dipandu oleh beberapa guru mereka. Tak ketinggalan mereka juga menenteng rangsel siaga bencana bantuan JRS. Tampak juga seorang siswa SD Ie Merah menjadi korban patah tulang tangan, dan dia pun harus dibidai. Dengan diantar kedua gurunya siswa itu pun tenda di tempat titik aman.  Iring-iringan siswa SD menuju lokasi yang aman tampak tampak tertib dan diikuti dengan serius sesuai alur skenario. Demikian juga kelompok rentan dan masyarakat pada umumnya yang berjalan beriringan dengan membawa barang-barang yang dibawa ke lokasi aman.</p>
<p>”Masyarakat tampak terkejut ketika ada bunyi peringatan, sehingga tampak panik dan tim penyelamat tidak cukup jika hanya delapan orang untuk satu <em>gampong</em>,” kata <em>Keucik</em> M. Syarief ketika diminta komentarnya saat evaluasi. Menurutnya seharusnya setiap lorong sedikitnya ada 5 orang tim penyelamat. Jika hanya ada 8 orang untuk satu <em>gampong</em>, terasa sangat kurang. Menurut <em>Keucik </em>M. Syarief, untuk ke depan tim evakuasi harus mengetahui secara pasti di mana daerah yang perlu dibantu. ”Dengan pelatihan ini, kami bisa lebih paham, tidak hanya melihat di tivi saja,” kata <em>keucik</em>. Hal senada juga disampaikan Sekretaris <em>Gampong</em>,  Adenan, yang menyatakan setidaknya jika ada kondisi darurat bencana masyarakat sudah paham ke mana harus menyelamatkan diri.</p>
<p>Menurutnya sekali pelatihan belum cukup, masih perlu pengetahuan cara penyelamatan yang lebih baik dan juga latihan-latihan menangani korban yang luka. ”Tadi memang masih banyak yang  sambil tertawa-tawa, tetapi setidaknya masyarakat paham akan situasi bencana,” kata Adenan.  Lain lagi dengan pendapat Tarjuman, guru SD di Ie Merah, yang menyatakan selama ini apa yang diberikan oleh Tim JRS di sekolah bisa dipraktekkan, dan para siswa bisa memahami ke mana menuju daerah yang aman,  jika ada gempa.</p>
<p>Keterlibatanan perangkat <em>gampong</em> dalam sebuah kegiatan yang bersifat massal, seperti  kegiatan simulasi penanganan bencana sangat berpengaruh terhadap peran serta masyarakat dalam mensukseskan kegiatan tersebut. Menurut Didik, Koordinator Proyek <em>Youth</em>, secara umum simulasi direspon dengan baik  dan partisipasi warga  maupun perangkat <em>gampong</em> cukup tinggi. Ada satu catatan tentang lokasi aman, yang berada di tanah yang rendah dan dekat sungai, untuk situasi bencana gempa lokasi tersebut cocok, namun untuk banjir tidak tepat karena di tempat ini justru tergenang, demikian komentar Zainuddin, anggota tim simulasi dari JRS.</p>
<p>Oleh: Daryadi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/19/ketika-perangkat-gampong-aktif-peduli-simulasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Team Building: Lucu tapi Pembelajaran Baru</title>
		<link>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/16/pelatihan-team-building-lucu-tapi-pembelajaran-baru/</link>
		<comments>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/16/pelatihan-team-building-lucu-tapi-pembelajaran-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 04:40:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jrs.or.id/wordpress/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[“Satu… Dua… Tiga….Hop!”
Begitu aba-aba Yani dan Liza, pemudi dari Desa Ie Merah dan Panjupian, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan saat kaki mereka hendak menapak pada tangga berjalan atau yang biasa disebut escalator, di salah satu mall di kota Medan.
Yani dan Liza merupakan peserta Pelatihan Team Building yang diselenggarakan oleh Jesuit Refugee Service bekerjasama dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Satu… Dua… Tiga….Hop!”</p>
<p>Begitu aba-aba Yani dan Liza, pemudi dari Desa Ie Merah dan Panjupian, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan saat kaki mereka hendak menapak pada tangga berjalan atau yang biasa disebut escalator, di salah satu mall di kota Medan.</p>
<p><span id="more-97"></span>Yani dan Liza merupakan peserta Pelatihan Team Building yang diselenggarakan oleh Jesuit Refugee Service bekerjasama dengan Bina Alam, pada 27-30 April 2010. Mereka berdua adalah bagian dari 35 peserta team building untuk pemuda dan pemudi dari desa-desa kluster dua dampingan JRS.</p>
<p>Bagi sebagian besar orang kota, melihat kejadian seperti itu sudah pasti mengundang tawa atau gelengan kepala. Senyumku pun mengembang saat mengingat cara peserta ‘menaklukkan’ teknologi di kota besar.</p>
<p>Berawal, panitia dari Bina Alam memberikan tugas pada peserta untuk mengunjungi mall atau pusat belanja, stasium radio, serta tempat bersejarah di kota Medan. Hari itu hari ke dua. Satu kelompok terdiri dari 6 orang. Satu orang diantaranya diberi uang sebesar 50 ribu.</p>
<p>Saat di mall itu lah kejadian lucu terjadi. ’Insiden’ terjadi saat mereka berkenalan dan berusaha menggunakan teknologi yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Maklum saja, hampir semua peserta memang belum pernah pergi ke mall, lebih-lebih naik turun lantai menggunakan escalator.</p>
<p>Rukmini, peserta pemudi dari Desa Panjupian, Kecamatan Tapaktuan, merasakan pahitnya saat pertama kenal alat itu. Ia tiba-tiba terjatuh dari anak tangga satu ke anak tangga tiga. Tak heran, semua orang yang berada di bawah langsung saja melihat ke arahnya. Beruntung, Rukmini tidak terluka.</p>
<p>Sedangkan Dedek pemuda dari Desa Lhok Sialang Rayeuk, Kecamatan Pasie Raja, berkeluh kesah. “Capek juga ya harus turun naik escalator? Seperti orang gila saja.”<br />
Lalu saya tanya “Kenapa harus turun naik?” Dedek kemudian bercerita bahwa Liza, peserta dari Desa Ie Merah, memintanya untuk menemani naik turun eskalator. Rupanya Liza sedang belajar naik escalator hingga tiga kali.</p>
<p>Kejadian di atas bukan satu-satunya kejadian yang membuat kami terpingkal-pingkal, saat terkuak di malam terakhir kami berada di hotel. Saking membahananya suara tertawa kami, pelayan hotel sampai menegur karena mengganggu penghuni lain.</p>
<p>Di hari pertama ketika sampai di hotel, banyak peserta yang merasa kagum, Muklis pemuda Desa Panjupian, Kecamatan Tapaktuan, salah satunya. “Wah, kamarnya bagus! Nanti kalau sudah menikah, bulan madu ke sini saja,” katanya.</p>
<p>Di antara kekaguman, ternyata beberapa peserta lain malah merasa ketakutan. Jubaili, misalnya. Ketika jam makan malam, Jubaili memilih tidak turun ke lantai dasar, lokasi restoran berada. Saat itu, Jubaili beralasan sakit. Setelah dikonfirmasi pada teman sekamarnya, Jubaili ternyata tidak turun karena tidak bisa menggunakan lift. Pemuda Lhok Sialang Rayeuk itu memilih menahan lapar semalaman ketimbang berhadapan dengan lift.</p>
<p>Selain eskalator, menggunakan lift yang menjadi salah satu fasilitas hotel ini juga merupakan pengalaman pertama yang dirasakan oleh 35 peserta. Ketakutan menggunakan lift juga dirasakan Ma’un. Ia selalu mengikuti Ida, salah satu staff JRS, kemana pun pergi. Saat ditanya, begini jawab Ma’un.</p>
<p>“Saya mau naik ke kamar kak, tapi nggak bisa naik lift. Tadi sudah saya coba. Tiba-tiba sampai ke lantai paling atas. Saya jadinya naik turun lantai paling bawah dan paling atas.”</p>
<p>Selidik punya selidik, Ma’un tidak memencet tombol lantai kamarnya sehingga liff langsung naik menuju lantai 7, lantai paling atas. Untung setelah sekian kali naik turun lantai, Ma’un bertemu pelayan hotel. Ia lalu diantar kembali ke lantai 2, lantai kamarnya berada. Sebagian peserta lain memilih menggunakan tangga. Kebetulan ruang makan dan tempat pelatihan ada di lantar dasar.</p>
<p>Beda Ma’un beda Zainuddin. Pemuda Desa Air Pinang yang akrab dipanggil bang Togar ini serius mengisahkan pengalamannya kepada teman-teman di desanya.</p>
<p>”Pas masuak petamo nian di hotel ro dengan kawan-kawan, pintu langsung tabukak. Pas mau kelua patamo bana di pintu, ambo piki pintu e harus ditariek. Ambo tariek-tariek kuet-kuek ndak bisa. Pas ambo tagiek dai samping, manga ndak bisa? Upoe pas tagak mbo di tangah pintu ro, pintu langsung tabuka. Upoe pintu e otomatis (Saat masuk pertama dengan teman-teman menuju hotel, pintunya terbuka. Tapi saat hendak keluar, saya pikir pintunya harus ditarik. Ku tarik kuat-kuat tidak bisa. Saat saya tarik dari samping, mengapa tidak bisa ya? Rupanya berdiri di tengah pintu itu, pintu langsung terbuka. Ternyata pintu otomatis),” disambut tawa terpingkal-pingkal kawan-kawan desanya.</p>
<p>Sedangkan Rusli yang juga dari Desa Air Pinang sempat tidak mengikuti sesi acara malam hari setelah menabrak kaca. Ia tidak pernah mengira itu tersekat oleh beningnya kaca. Saat berjalan, tanpa disadari kepala dan tubuhnya menabrak kaca keras-keras. Saat itu juga ia mengeluh kepalanya pusing. ”Pusing campur malu,” seloroh kawan-kawannya sambil tertawa.</p>
<p>Belajar kehidupan<br />
Pelatihan Team building adalah salah satu kegiatan di Project Pemuda dengan penekanan peningkatan kemampuan komunikasi. Pelatihan ini juga bertujuan meningkatkan kekompokan dan kerjasama, baik pemuda-pemudi dalam organisasi, maupun sebagai bagian masyarakat.</p>
<p>Konsep pelatihan team building kali ini pun sangat beda dengan team building yang diselenggarakan dua kali untuk staff JRS. Jika untuk staff dilakukan di wilayah yang tidak ada komunitas lain, pelatihan untuk pemuda-pemudi desa ini justru dilakukan di tengah kota besar.</p>
<p>Menurut pengakuan peserta, sebagian besar dari mereka baru kali pertama berkunjung ke kota Medan. Selain lebih akrab dengan peserta desa lain serta mengenal lebih dekat kota Medan, peserta merasa senang mendapat pengalaman baru.</p>
<p>”Pertama kali mandi kak, saya putar kran. Ehkkk, kok panas! Panas sekali airnya! Lama-lama saya perhatikan. Gimana ya caranya biar airnya tidak terlalu panas. saya coba-coba putar ke arah lain, e, ternyata airnya dingin,” begitu kisah Marwan dari Pulo Kambing.</p>
<p>Meski jarang bicara saat pelatihan, Ketua Pemuda itu mengatakan bahwa ia sangat memperhatikan instruksi dari panitia. Selain itu, ”Saya nggak mau melakukan yang pertama, tapi saya perhatikan betul apa yang dilakukan kawan. Oh, begini cara makainya,” kisahnya sambil tertawa lepas.</p>
<p>Pengalaman menarik lain dialami Zakaria dari Ie Merah. Saat ia menyeberangi jalan yang padat, saking tegang dan takut kalau kawan lain tertinggal, ia menarik tangan seseorang yang berdiri di sampingnya. Rupanya tangan yang ditariknya bukan tangan kawannya, melainkan tangan orang lain yang juga hendak menyeberang jalan. Pemuda yang juga aktif di organisasi Komisi Peralihan Aceh (KPA) ini sempat kena makian orang yang digandengannya. Menyadari kesalahannya, Zakaria secepatnya meminta maaf.</p>
<p>Marwan, Liza, bang Togar, Zakaria, Diana Wisda, Husna dan Martanis atau biasa dipanggil Alex dari Desa Lhok Rukam mengaku mendapat pelajaran dan pengalaman berharga dari acara ini. Pengalaman itu sangat membuka wawasan dan pengetahuan peserta mengenai kehidupan kota besar.</p>
<p>”Saya pikir semua orang yang hidup di kota itu sangat enak kak. Tapi ternyata tidak. Banyak orang yang tidak punya rumah sehingga harus tidur di emperan toko. Hidup di desa ternyata jauh lebih baik dan damai daripada tinggal di kota,” ujar Samsuar dari Desa Lhok Sialang Rayeuk saat berkunjung ke Kantor JRS Jambo Apha.</p>
<p>“Saya pernah menaklukkan ketakutan saya pada hantu, kegelapan, dan sunyinya hutan. Setelah pulang dari team building, saya bisa menaklukkan ketakutan saya ketika berhadapan dengan orang rame,” kisah Marwan yang pernah menjadi anggota Gerakan Aceh merdeka ini.</p>
<p>Dalam kegiatan ini, setiap desa mengirimkan enam orang peserta pemuda dan pemudi. Mereka adalah pengurus organisasi pemuda-pemudi di desa masing-masing. Empat orang di antaranya pernah mengikuti pelatihan untuk pelatih (volley dan sepakbola) yang diselenggarakan oleh JRS, bekerjasama dengan ASA Asia. Satu peserta, Misran gagal melanjutkan perjalanan ke Medan. Ketua Pemuda Desa Air Pinang itu tidak kuat mabuk sepanjang perjalanan. Sampai di Subulussalam, ia meminta pamit kembali pulang ke Tapaktuan.</p>
<p>Oleh: Dian dan Ninuk</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/16/pelatihan-team-building-lucu-tapi-pembelajaran-baru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>“Setetes Kreatif Darah” PRB melalui Pesan Damai dan Barang Bekas</title>
		<link>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/16/%e2%80%9csetetes-kreatif-darah%e2%80%9d-prb-melalui-pesan-damai-dan-barang-bekas/</link>
		<comments>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/16/%e2%80%9csetetes-kreatif-darah%e2%80%9d-prb-melalui-pesan-damai-dan-barang-bekas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 04:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jrs.or.id/wordpress/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[“Bagus gambarmu, lanjutkan dan warnai lagi!” aku coba memberi semangat Kahar Ruddin dan M.Wali kelas V dari SD Lhok Sialang Rayek, yang sedang membuat poster perdamain. Saat aku kembali setelah satu putaran keliling, gambar yang satu sudah berubah menjadi warna merah. Goresan yang semula berbentuk seorang anak kecil kini berubah menjadi warna merah.” Lho kok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Bagus gambarmu, lanjutkan dan warnai lagi!” aku coba memberi semangat Kahar Ruddin dan M.Wali kelas V dari SD Lhok Sialang Rayek, yang sedang membuat poster perdamain. Saat aku kembali setelah satu putaran keliling, gambar yang satu sudah berubah menjadi warna merah. Goresan yang semula berbentuk seorang anak kecil kini berubah menjadi warna merah.” Lho kok jadi warna merah?” tanyaku pada Zakaria anak kelas empat. Dia tetap asyik mewarnai gambar tentara yang berbadan besar. “ Bang ini warna darah? Jawabnya singkat. “Orangnya dimana?” tanyaku lagi. “ Orangnya sudah gak ada lagi, udah jadi darah” dia tetap melanjutkan lukisan posternya.</p>
<p><span id="more-96"></span></p>
<p>Gambaran yang sangat tepat untuk direflesikan. Dia berimajinasi sesuai dengan sayap pengalamannya sebagai kanak-kanak, tetapi memancarkan suatu “wahyu” untuk menjadi permenungan setidaknya bagi saya tentang suatu perdamaian. Perdamaian sangat mahal. Dia sudah dibayar dengan darah, bahkan hingga akhir-akhir ini, keterkaitan teroris, warga sipil harus mati bersimbah darah. Betapa masyarakat /warga negeri yang sering dikatakan wong cilik harus bersimbah darah, hanya karena sebuah kepentingan yakni kekuasaan. Orang yang punya kuasa biasanya “tergambar” lebih besar, kepalanya besar, lambang kesombongan. Dia punya senjata tertentu, sedangkan orang kecil digambarkan sangat kecil. Bahkan tidak lagi terlihat jelas, dia berbentuk darah. Anak ini menggambarkan situasi dunia yang sangat tepat, meski gambar bersimbah darah mungkin berangkat dari sebuah kesalahan dalam menggoreskan tinta crayon yang bewarna merah.</p>
<p>Darah gambaran dari sebuah kehidupan. Setetes darah sangat berarti. Darah sebagai penyemangat, yang sangat berharga dialirkan oleh JRS, melalui program-program. Program School Project dengan bagian kecilnya Perdamaian dan pendidikan lingkungan, menjadi tetesan segar ± 24 % dari 192 an SD MIN di Aceh Selatan. 1 Setetes darah yang sangat mahal harganya. Pertanyaanku untukku apakah semua itu sudah “mendarah” sehingga kesadaran ini sungguh juga menjadi jiwa bagi diriku? Ah, Windi kamu tuh banyak dikantor, tahu apa ya?</p>
<p>Darah ini dipacu oleh jantung, dan bagian pembuluh darah terkecil yang paling tepi disebut sebagai kapiler (seingatku pelajaran biologi waktu SMP), meski kecil dia bagian yang terpenting dalam proses pengaliran darah keseluruh tubuh. JRS sebagai “kapiler” menurutku, melalui program School Project hendak menggali sekaligus mengingatkan kembali suatu nilai perdamaian. Setetes darah yang membutuhkan biaya yang besar. Tetapi selanjutnya apakah program perdamaian yang menjadi bagian kecil dari PRB sudah mendarah ?</p>
<p>Menggerakkan kesadaran akan PRB dalam arti lebih luas, seperti seorang anak dari SD Buloh Didih, Askarimin, kelas V yang bercita-cita menjadi tentara, yang lupa dengan nama ibunya, bagai melukiskan mimpi-mimpinya di atas batu nan keras dibawah mentari nan terik.</p>
<p>Butuh kerja keras. Penyampaian yang tepat, meski kadang ada ketidaksepahaman. Ada kelelahan dengan overload pekerjaan kejar target dan budget. Sebagai indikasi kinerja dalam perspekif finance. Melelahkan. Pak Khairul Saleh, kepala sekolah SD Buloh Didih yang memiliki 67 siswa-siswinya, meminta pada JRS melalui aku, supaya memberi cat-cat warna-warni, agar anak-anak bisa melukiskan di dinding sekolah. “Iya Pak nanti aku bicarakan dengan teman-temanku ya? jawabku. Aku berpikir</p>
<p>Pak Khiarul ingin anak-anaknya kreatif dan JRS menjembatani anak-anaknya untuk berekspresi dan berkreatifitas, sesuai gerak tangan mereka. Semangat Pak Khairul menjadi cermin bagiku dalam proses untuk menemani, membela dan melayani, membutuhkan kreatifitas, ditengah kelelahan, kebosanan dan overload pekerjaan. Bagaimana itu? Adakah pencarian dan perefleksian.</p>
<p>Kreatifitas membuat sampah menjadi emas (barang berharga). Kreatifitas menciptakan damai bagi diriku dengan orang disekitarku dan alamku. Kreatifitas memberikan kehidupan, maka kekuatiran akan pergi jika aku kreatif mengolah kata, buat dan karya. Semakin kreatif semakin dekat dengan Sang <em>Creator</em>. Ah, sudahkah aku kreatif dalam pelayanan, penemanan dan pembelaan atau asal jalan aja atau mengeluh saja? Seperti apakah kreatifitas itu? Tunggu dalam tulisanku berikutnya.</p>
<p>Dua hari perjalanan workshop memberi warna untuk hidupku, bahwa dalam segala peristiwa hidupku aku perlu kreatif, agar hidup menjadi lebih hidup, ahhh kaya iklan aja Windi.</p>
<p>Oleh: Windy</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/04/16/%e2%80%9csetetes-kreatif-darah%e2%80%9d-prb-melalui-pesan-damai-dan-barang-bekas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meretas Jalan Menuju Qanun PRB Aceh Selatan</title>
		<link>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/02/19/meretas-jalan-menuju-qanun-prb-aceh-selatan/</link>
		<comments>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/02/19/meretas-jalan-menuju-qanun-prb-aceh-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 10:49:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jrs.or.id/wordpress/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sebulan sebelumnya menyelenggarakan Diskusi Publik mengenai Agenda Advokasi PRB (Pengurangan Risiko Bencana) di Aceh Selatan, kembali JRS, Yapala, dan FKMS menggelar forum tindak lanjut atas proses diskusi yang telah lalu. Bila diskusi publik merekomendasikan agar pemerintah daerah Aceh Selatan memfasilitasi pihak-pihak yang berkepentingan dalam penanganan bencana di Aceh Selatan, maka bisa dikatakan ini adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah sebulan sebelumnya menyelenggarakan Diskusi Publik mengenai Agenda Advokasi PRB (Pengurangan Risiko Bencana) di Aceh Selatan, kembali JRS, Yapala, dan FKMS menggelar forum tindak lanjut atas proses diskusi yang telah lalu. Bila diskusi publik merekomendasikan agar pemerintah daerah Aceh Selatan memfasilitasi pihak-pihak yang berkepentingan dalam penanganan bencana di Aceh Selatan, maka bisa dikatakan ini adalah jawabannya. Pasca diskusi publik itu terjadi komunikasi antara JRS, salah seorang anggota DPRK muda yang berpikiran progresif, dan Yapala dengan Ketua Umum Satlak PB yang saat ini <em>ex officio</em> Wakil Bupati Aceh Selatan Daska Azis S.Pd. MA. untuk melanjutkan proses diskusi ke arah pembahasan kebijakan.</p>
<p><span id="more-95"></span></p>
<p>Harapan yang muncul dalam komunikasi tersebut adalah harapan agar Aceh Selatan dapat memiliki <em>Qanun</em> (Perda) Pengurangan Risiko Bencana dan memiliki BPBD sesuai dengan amanat UU PB no 24 Tahun 2007. Sedangkan secara strategis juga dirasakan perlu agar Aceh Selatan memiliki Rencana Aksi Daerah PRB agar setiap elemen dan lembaga penanganan bencana yang ada nanti memiliki panduan dan arahan yang jelas dalam bekerja.</p>
<p>Akhirnya disepakati bahwa Satlak PB Aceh Selatan, JRS, Yapala, dan FKMS akan menyelenggarakan lokakarya bagi para pemangku kepentingan di pemerintahan, lembaga non dinas (PMI, Tagana, RAPI), dan LSM. Mengapa lokakarya? karena diharapkan para pemangku kepentingan tersebut sudah membawa pembelajaran dari masing-masing lembaga dan dapat menghasilkan langkah ke depan yang lebih strategis sesuai dengan SKPD (satuan kerja perangkat daerah) masing-masing. Tujuan lokakarya ini sendiri sebetulnya sederhana namun sulit yakni menyamakan persepsi, tujuan, capaian, serta langkah-langkah yang akan diambil. Ini adalah syarat agar tujuan akhir dari usaha ini tercapai yakni munculnya kebijakan PRB yang komprehensif bagi Aceh Selatan. Proses ini secara sederhananya disebut sebagai usaha konsolidasi <em>stakeholder</em> PRB Aceh Selatan.</p>
<p>Lokakarya diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 22-23 Desember 2009 bertempat di Aula Dinas Pertanian Aceh Selatan. Dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Satlak PB sebagai penyelenggara lokakarya ini. Dihadiri oleh 36 peserta, proses selanjutnya difasilitasi oleh Dani Armanto dari KOMPLEET Purwokerto dan Baiman Fadhly dari Yapala. Proses dimulai dengan menggali pengetahuan-pengetahun kebencanaan yang ada di Aceh Selatan dan juga mengidentifikasi  status berbagai aspek kebencanaan di Kabupaten Aceh Selatan, rinciannya adalah: menggali aspek ancaman dan kerentanan laten berikut proyeksinya ke depan;  Aspek kelembagaan penanganan bencana pada paradigma PRB; serta Aspek konteks visi dan misi pembangunan. Intinya, hari pertama adalah waktu untuk membedah dan mengintegrasikan paradigma manajemen bencana dengan pembangunan.</p>
<p>Hari kedua adalah hari untuk mengidentifikasi status berbagai aspek kebencanaan di Kabupaten Aceh Selatan mencakup kebutuhan (regulasi, sistem, kelembagaan) dalam usaha mengintegrasikan paradima PRB dalam pembangunan di Kabupaten Aceh Selatan serta langkah taktis dan kerangka kerja awal termasuk struktur dan sumber daya yang dibutuhkan dalam mendorong integrasi paradigma PRB dalam pembangunan di Kabupaten Aceh Selatatan. Pada ujungnya peserta diharap menyepakati kerangka strategis implementasi PRB di Kabupaten Aceh Selatan sebagai tindak lanjut konkret dari lokakarya ini.</p>
<p>Yang paling sulit dalam proses ini adalah melepaskan diri dari paradigma lama penanggulangan bencana dan untuk bergeser ke wilayah reduksi risiko. Tantangan lainnya adalah masih belum terlalu tegas sikap pihak pemerintah daerah untuk betul-betul melihat kebencanaan dalam konteks pembangunan berkelanjutan, dan bukan hanya sebagai insiden yang datang sesekali dan merusak sistem anggaran daerah saja.</p>
<p>Terlepas dari kendala proses dan tantangan-tantangan yang ada, komitmen beberapa pihak di jajaran pemerintahan Aceh Selatan, termasuk juga dari parlemen tetap merupakan sebuah hasil yang positif. Sampai pada akhirnya lokakarya ini berakhir dengan munculnya rekomendasi aksi. Rekomendasi yang dihasilkan pada dasarnya terdiri dari tiga aspek penting, yaitu : 1) Kesepakatan tentang perlunya pengarusutamaan isu manajemen bencana dan Pengurangan Risiko Bencana oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan; 2) Kesepakatan tentang perlunya diambil langkah konkret dan disusunnya platform integrasi isu pengelolaan bencana kedalam proses pembangunan di ASEL (Aceh Selatan); 3) Kesepakatan untuk dibentuknya semacam tim kerja untuk melakukan langkah-langkah tersebut diatas dan menyerahkan operasionalisasi langkah inisiasi tindak lanjut pasca lokakarya pada Satlak PB dan Bupati Aceh Selatan.</p>
<p>Begitulah akhirnya satu retasan kecil sudah dimulai, dan jalan panjang menuju pengarusutamaan PRB di Aceh Selatan sudahtampak di depan mata. Komitmen banyak pihak akan menentukan langkah selanjutnya apakah jalan itu akan semakin lebar atau akan menemui onak duri. Mari kita berharap langkah kecil ini tetap ke depan meski harus tertatih. “Untuk Aceh Selatan yang bebas bencana..” begitu yang dikatakan salah seorang peserta lokakarya dua hari ini.</p>
<p>(Oleh: Yoppie Christian)<span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Century Schoolbook&quot;;" lang="FI"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/02/19/meretas-jalan-menuju-qanun-prb-aceh-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Percuma kalau cuma sampai di sini&#8230;!&#8221;</title>
		<link>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/02/19/percuma-kalau-cuma-sampai-di-sini/</link>
		<comments>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/02/19/percuma-kalau-cuma-sampai-di-sini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 07:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jrs.or.id/wordpress/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Aceh Selatan adalah daerah sempit yang merentang secara seadanya dari pesisir Pantai Barat Sumatera di sebelah timur dan kawasan ekosistem Leuser di sisi lainnya. Bila Anda melihat peta Sumatera, tengoklah Pulau Simeuleu dan tarik garis lurus ke darat, di sanalah ibu kota Aceh Selatan yakni Tapaktuan berada. Well, ngga aneh kalau Anda lalu betul-betul melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px;" src="http://www.jrs.or.id/wordpress/images/percuma-kalo-cuma/diskusi-publik.jpg" alt="" width="219" height="145" />Aceh Selatan adalah daerah sempit yang merentang secara seadanya dari pesisir Pantai Barat Sumatera di sebelah timur dan kawasan ekosistem Leuser di sisi lainnya. Bila Anda melihat peta Sumatera, tengoklah Pulau Simeuleu dan tarik garis lurus ke darat, di sanalah ibu kota Aceh Selatan yakni Tapaktuan berada. <em>Well, ngga</em> aneh kalau Anda lalu betul-betul melihat peta dan mencari lokasi kota Tapaktuan setelah membaca paragraf ini.</p>
<p><span id="more-94"></span><br />
Aceh Selatan merupakan satu dari dua puluh tiga kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam. Kota ini dikenal dahulu sebagai penghasil pala (Myristica fragrans). Tahu pala, kan? Minyak pala biasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak atsiri, bahan baku parfum atau sabun. Atau bisa juga digunakan sebagai obat masuk angin dan pegal-pegal. Itu dia yang paling terkenal dari Tapaktuan! Kalau Anda merasa belum familiar juga maka Anda harus belajar geografi lagi!</p>
<p>Letak geografis Aceh Selatan mendudukkan wilayah ini dalam situasi ancaman yang beragam, yakni dari laut berupa pasang laut atau tsunami karena bisa dibilang Aceh Selatan tak punya penghalang alami. Longsor di sisi utara di pegunungan yang kemiringannya bisa mencapai 63,45% menurut wikipedia. Ancaman kebakaran di perkotaan karena masih banyak bangunan rumah adalah bangunan berbahan papan yang saling menempel satu sama lain membentuk rumah panjang bertingkat dua (kejadian terakhir baru saja terjadi pada tanggal 26 Januari lalu ketika sekitar 43 keluarga kehilangan rumah mereka hanya dalam waktu 3 jam di Sawang, Aceh Selatan). Ancaman laten lain berasal dari bawah yakni gempa. Wilayah Aceh bagian selatan memang terlewati oleh patahan atau sesar yang dikenal dengan Sesar Semangko yang memanjang dari Selat Sunda dan mengikuti alur Bukit Barisan di sumatera sisi selatan sampai berakhir di Banda Aceh. Gempa padang juga dinyatakan terjadi karena aktivitas pergeseran sesar ini. Satu lagi yang setiap tahun berulang di <em>gampong-gampong</em> pedalaman dan sekitar sungai yakni banjir. Aceh Selatan selalu mengalami banjir setiap tahun, dan setiap tahun persoalan dan perdebatan yang muncul selalu sama.</p>
<p>Apakah bahaya-bahaya ini sudah dikenali? Apakah masyarakat sudah mendapat informasi bahwa daerah yang mereka tempati adalah daerah yang memiliki ancaman lumayan tinggi? Jawabnya: “<em>boro-boro</em> masyarakat umum, pemerintah kabupaten juga baru tahu kok..” itu seloroh seorang kawan dari Aceh Selatan ketika hendak mengadakan diskusi publik mengenai Pengurangan Risiko Bencana Aceh Selatan. “ Bahkan ada komponen pemerintah daerah yang baru tahu sekarang ini kalau UU Penanggulangan Bencana no 24 tahun 2007 itu ada&#8230;” tambah kawan tadi. Jadi jangan tanya apa yang sudah dilakukan untuk memanifestasikan cita-cita kemanusiaan dalam UU PB tersebut di sini.</p>
<p>Lupakan dulu ungkapan keprihatinan kawan saya tadi, tapi memang itu salah satu dasar kenapa JRS, Yapala, dan FKMS mengajak Bappeda Aceh Selatan untuk menggelar sebuah diskusi publik bagi umum bertajuk Diskusi Publik tentang Pengurangan Risiko Bencana: Sebuah Agenda Advokasi Bersama. Acara ini sendiri dilaksanakan pada tanggal 12 November 2009 lalu di Cafetaria Rindu Alam di samping Pantai Lhok Keutapang yang indah. Diskusi ini digelar dalam suasana informal dan sarasehan, tujuannya mengumpulkan banyak pihak dan mengidentifikasi apa yang telah dimiliki dan apa yang bisa dilakukan kemudian. Sehingga kemudian diskusi bergerak pada isu-isu a) Sejauh apa sumber daya yang dimiliki Kabupaten Aceh Selatan untuk mengimplementasikan UU PB No 24 tahun 2007? ; b) Bagaimana peluang pengembangan strategi Pengurangan Risiko Bencana berbasis Masyarakat di Kabupaten Aceh Selatan?; c) Bagaimana pemerintah daerah beserta elemen masyarakat menindaklanjuti UU PB tersebut sampai pada tingkat implementasi?; dan d) Apa rencana tindak lanjut yang bisa dilakukan para pihak termasuk pemerintah, legislatif, media, perguruan tinggi, maupun masyarakat sipil lain?</p>
<p>Beragam tanggapan dan persoalan ternyata muncul dalam diskusi yang berlangsung kira-kira selama 3 jam itu. Dari pernyataan pihak Bappeda bahwa memang pasca tsunami 2004 Aceh Selatan (anehnya!) belum memprioritaskan reduksi bencana dalam penyusunan rencana jangka panjangnya (yang disusun tahun 2008). Muncul pula persoalan matinya pala (sebagai informasi pada tahun 1990an Aceh Selatan adalah penghasil pala terbesar di Sumatera namun akhir 90an terjadi serangan ulat pala yang tak terselesaikan sampai detik ini. Hal ini menurunkan pendapatan masyarakat secara signifikan) yang tidak serius diselesaikan oleh pemerintah daerah. Sampai pula pada persoalan moratorium logging yang ternyata membuat persoalan bagi masyarakat karena menyesampingkan peran masyarakat terhadap pengelolaan hutan dan semakin sulit bagi warga memanfaatkan hasil hutan. Tanpa aturan yang jelas, masyarakat sering berhadapan dengan hukum karena dituduh melakukan <em>illegal logging</em>.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px;" src="http://www.jrs.or.id/wordpress/images/percuma-kalo-cuma/wahyu-wati-diskusi-prb.jpg" alt="" width="145" height="219" />Ternyata persoalan yang muncul ketika kita mendiskusikan pengurangan risiko bisa begitu lebar dan saling berhubungan. Sayangnya sampai saat ini belum ada kebijakan maupun kelembagaan di tingkat Aceh Selatan yang mampu memfasilitasi kajian dan memberikan jaminan perlindungan secara resmi terhadap usaha-usaha pengurangan risiko bencana.</p>
<p>Sebagai penutup mungkin pernyataan Wahyu Waly yang merupakan koordinator Forum Komunikasi Masyarakat Sipil Aceh Selatan, sebuah forum NGO yang mewadahi LSM-LSM di Aceh Selatan dapat  mewakili perasaan peserta diskusi publik ini bahwa “adalah hal yang sangat buruk sekali jika pertemuan diskusi kali ini hanya akan berakhir begitu saja seperti seminar-seminar yang sudah lalu tanpa rekomendasi apapun. Percuma saja kita bicara panjang lebar tentang masalah bencana di Aceh Selatan kalau ternyata cuma sampai di sini. Bukan waktunya lagi menyalahkan topografi sebagai sumber bencana, sudah saatnya pemerintah daerah merangkul pihak-pihak yang punya keprihatinan mengenai bencana untuk duduk dan menyiapkan tindak lanjut. Termasuk pula kalau perlu menyiapkan <em>Qanun </em>yang dapat menjadi landasan bagi kerja-kerja lanjutan nanti”</p>
<p>(Oleh : Yoppie Christian)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/02/19/percuma-kalau-cuma-sampai-di-sini/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan-Perempuan di Daerah (yang dicap) Hitam</title>
		<link>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/02/19/perempuan-perempuan-di-daerah-yang-dicap-hitam/</link>
		<comments>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/02/19/perempuan-perempuan-di-daerah-yang-dicap-hitam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 04:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jrs.or.id/wordpress/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[”Mereka semua laki-laki. Mereka itu tentara. Mereka bawa senjata. Seharusnya mereka melindungi kami dari rasa takut, bukan malah menyiksa kami. Kalau saya pribadi, meskipun saat itu usia saya masih kecil, lebih baik saya mati disiksa daripada telanjang di depan  mereka”

Ingatan yang masih segar
Konflik selalu menyisakan kisah-kisah memilukan. Tidak jarang perlakuan memalukan pun dilakukan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>”Mereka semua laki-laki. Mereka itu tentara. Mereka bawa senjata. Seharusnya mereka melindungi kami dari rasa takut, bukan malah menyiksa kami. Kalau saya pribadi, meskipun saat itu usia saya masih kecil, lebih baik saya mati disiksa daripada telanjang di depan  mereka”</em></p>
<p><span id="more-93"></span></p>
<p><strong>Ingatan yang masih segar</strong><br />
Konflik selalu menyisakan kisah-kisah memilukan. Tidak jarang perlakuan memalukan pun dilakukan untuk merendahkan martabat sesama manusia, terlebih pada makhluk bernama perempuan. Masih jelas dalam ingatan Nur, pemudi Desa Silolo, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan akan peristiwa antara tahun 2003-2004 lalu. Saat itu ia masih siswi kelas 2 SMP. Bersama para <em>inong</em> (perempuan) di desanya, ia diminta berkumpul di satu tempat.</p>
<p>&#8220;Setelah dikumpulkan, kami dipaksa melepas pakaian kami. Saat ibu saya menolak, kepalanya dipukul keras-keras. Saya pun ikut dipukul karena menolong ibu saya,&#8221; katanya seraya ’mempraktekkan’ cara orang-orang yang memukul ibunya itu. Berkali-kali disekanya air yang mengalir di kiri kanan hidungnya, juga pipi kanan kirinya dengan ujung kerudung yang dipakainya.</p>
<p>Sesaat Nur diam. Matanya menerawang menembus dinding kayu rumahnya. Entah apa yang dipikirkan dalam diamnya. Lalu ia bercerita lagi. Saat itu, kata Nur, beberapa ibu sampai kencing berdiri karena ketakutan. Ada yang pasrah melepas bajunya sendiri karena takut dipukul.</p>
<p>&#8220;Tapi semua itu justru membuat orang-orang yang menyiksa kami tertawa terbahak-bahak. Mereka semua laki-laki. Mereka itu tentara. Mereka bawa senjata. Seharusnya mereka melindungi kami dari rasa takut, bukan malah menyiksa kami. Kalau saya pribadi, meskipun saat itu usia saya masih kecil, lebih baik saya mati disiksa daripada telanjang di depan  mereka,&#8221; ujar gadis lulusan SMP ini parau.</p>
<p>Bersama warga desa Silolo, ia akhirnya memilih mengungsi ke Terbangan dan lalu pindah ke tempat pengungsian di Lhok Bengkoang, Tapaktuan. &#8220;Ketimbang diperlakukan semena-mena saat tinggal di desa, lebih baik mencari tempat yang kami rasa lebih aman.&#8221;</p>
<p><strong>Direndam</strong><br />
Praktek kekerasan lain acapkali dilakukan jika pertanyaan tidak menghasilkan jawaban memuaskan bagi pihak penanya. Tika, perempuan Batak yang bersuamikan pria Aceh Selatan bersama tiga perempuan desanya, Desa Lhok Sialang Rayeuk, pernah merasakan tamparan di wajahnya. Gara-garanya, jawaban yang mereka berikan tidak memuaskan aparat keamanan yang menanyainya.</p>
<p>”Saya dan tetangga saya hendak ke kebun saat ketemu orang-orang itu. Mereka bertanya apakah kami bertemu dua orang laki-laki berseragam hijau bawa senjata. Orang gunung maksudnya. Waktu kami mengatakan tidak, saya langsung ditampar bersama dua tetangga saya. Seorang lagi dipukul juga saat mengatakan tidak ketemu orang berseragam,” kisah ibu tiga orang anak ini.</p>
<p>Kisah seperti ini juga dikemukakan oleh Linda dari Desa Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan. Aparat kerap memukul, menendang, atau Linda menyebutnya, “Sesuka hati aparat” pada warga jika mereka tidak mendapat jawaban yang memuaskan.</p>
<p>Sementara pada para lelaki, hampir setiap hari dipanggil untuk datang ke pos jaga. Sampai di sana, para lelaki tersebut direndam berjam-jam tanpa ada penyebabnya. Pengalaman semacam ini dikisahkan di beberapa desa. Terkadang, seperti kisah Tika, Linda, atau Nur, merendam masyarakat di sungai, parit atau kubangan kerbau menjadi salah satu hiburan bagi aparat TNI. Sebab, setelah para lelaki tersebut berendam, aparat-aparat di pos jaga tertawa-tawa seperti melihat lelucon. Siksaan berendam, kata Linda, sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat.</p>
<p>Hukuman rendam-merendam juga bukan hanya ditujukan pada kaum Adam, tetapi juga para kaum Hawa. <em>Inong-inong</em> (perempuan-perempuan) desa tetangga Lhok Sialang Rayeuk, Desa Ie Merah misalnya. ”Kalau orang itu bertanya dan kami jawab tidak tahu, kami pasti akan dihukum. Macam-macam hukumannya, dari dipukul, ditampar, atau juga direndam. Dua kali saya direndam di parit karena menjawab tidak tahu. Ya mau jawab apa kalau saya memang tidak tahu ditanyakan orang itu,” kisah Laila yang kini aktif dalam kegiatan pemudi di desanya, Ie Merah.</p>
<p>Seperti Tika, Nur, dan Laila, perempuan-perempuan dari desa-desa dianggap sebagai daerah merah atau acap disebut desa basis GAM, kerap menerima perlakukan kekerasan dari pihak aparat keamanan. Perlakuan ’lebih’ keras kerap ditujukan pada warga yang salah satu atau beberapa orang anggota keluarganya menjadi bagian dari ’orang gunung’.</p>
<p>”Bapak pernah dipukuli di depan mata saya. Mereka bilang pada saya, ’Inilah hukuman bagi orangtua yang kasih ijin anaknya jadi anggota’. Setelah puas memukuli suami saya, mereka obrak-abrik rumah saya. Tahu saya punya beras, mereka suruh saya masak. Saya juga dipaksa sembelih ayam. Setelah siap (selesai-red) makan, baru mereka pergi,” ungkap Midar, perempuan berusia sekitar 60 tahun, dari Desa Malaka, Kluet Tengah.</p>
<p>Pengakuan yang sama juga diungkapkan oleh perempuan-perempuan dari Desa Silolo, Ie Merah, Panton Luas, Jambur Papan, Pulo Kambing, Malaka, Krueng Kluet, serta Kampung Paya di Kabupaten Aceh Selatan.</p>
<p><strong>Orang menyebut gila</strong><br />
Peristiwa penyiksaan pada Iwadi masih teringat jelas dalam ingatan Tika. Saat itu, laki-laki berusia lebih dari 40 tahun itu, ujar Tika, ditendang, dipukuli, lalu ditembak kakinya. ”Saya tidak mau membayangkan lagi peristiwa saat itu. Miris, sedih untuk mengingatnya.” Laki-laki itu, kata Tika, kini tidak bisa berjalan akibat penganiayaan tersebut. Menurut Tika, tidak juga ada upaya pengobatan dari aparat TNI sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kekerasan yang dilakukan semasa konflik.</p>
<p>Beberapa lelaki, termasuk mantan <em>geucik</em> Desa Lhok Sialang Rayeuk, hingga kini sering merasakan sakit di ulu hati. ”Dulu beberapa kali saya kena tinju di sini. Pernah juga dipopor senjata,” kata laki-laki yang bulan Februari lalu telah pensiun dari jabatan kepala desa ini. Lelaki lain, Majid sering merasakan sakit kepala, telinga berdengung hingga merasakan sakit yang amat di telinga. Sedikit berbeda dengan pak <em>Geuchik</em>, Majid ditinju di bagian kepala.</p>
<p>Selain cacat dan gangguan kesehatan tubuh, beberapa warga Desa Lhok Sialang Rayeuk juga mengalami gangguan kejiwaan paska konflik. Gangguan kejiwaan tersebut dialami pemuda hingga manula. Mertua Tika yang kini telah lanjut hingga sekarang sering mengatakan padanya bahwa dia sangat ketakutan dan jantungnya berdebar-debar. ”Ibu mertua saya pernah dibawa berobat, tetapi tidak sembuh. Ia juga kerap berbicara melantur dan bicara sendiri.”</p>
<p>Masih di desa yang sama, seorang pemuda bernama Khalidi hingga kini hilang ingatan. ”Kata mereka gila, berbicara sendiri,” cerita Tika. Khalidi hingga kini tidak berkeluarga atau menikah. Menurut Tika dan beberapa perempuan, aparat TNI pernah menembak kaki Khalidi. Saat itu, Khalidi sedang mengaji di meunasah. Dia oleh aparat TNI dikira anggota GAM. Para perempuan desa tersebut menjelaskan, sebelum stress, Khalidi seorang yang alim, pendiam dan suka mengaji. Setelah konflik, oleh orangtuanya Khalidi diobati ke beberapa dukun tetapi tidak sembuh. Namun, sekarang tidak lagi dibawa berobat karena tidak memiliki uang untuk membiayainya.</p>
<p>Gangguan kejiwaan yang sering disebut orang desa sebagai &#8220;gila&#8221; juga dialami seorang perempuan di Desa Silolo. ”Orang itu gila Kak, kenapa diajak ngobrol?” tanya Mini, seorang gadis dari Silolo saat tahu saya tengah berbincang dengan seorang perempuan. Pantas, ia lupa pada namanya sendiri, batin saya.</p>
<p>Menurut Mini, Ros, perempuan yang tidak ingat dengan namanya sendiri itu menjadi gila, sering bicara dan tertawa sendiri setelah konflik terjadi. ”Hartanya hilang dicuri orang. Keluarganya ada yang terbunuh.”</p>
<p>Trauma konflik lain mengakibatkan beberapa perempuan menjadi sangat latah. Perempuan-perempuan ini jika mendengar sesuatu yang mengagetkannya, dia akan berkata-kata tidak karuan. ”Dulu dia mendengar suara tembakan yang amat dekat dengannya. Saat mendengar suara tembakan tersebut, perempuan tersebut tercebur di kolam ikan. Sampai sekarang orang itu jadi latah sekali,” ungkap Mini.</p>
<p><strong>Laki-laki lari</strong><br />
Dalam situasi konflik, perempuan kerap menjadi ujung tombak dalam kegiatan perekonomian atau sekedar mengisi periuk untuk anggota keluarga. Demikian pula yang dilakukan Ainun, Tika, Nur, Laila dan banyak perempuan desa lainnya di wilayah Aceh Selatan. Situasi mencekam mengajari para ibu dan para gadis lebih kuat bertahan.</p>
<p>Iyak perempuan Desa Malaka menyebut, setiap pasukan tentara RI dikabarkan akan masuk ke desanya, <em>geuchik</em> atau perangkat desa lainnya secepatnya mengumumkan semua laki-laki meninggalkan rumah. Perlengkapan mengungsi berupa beras, panci alat masak, kopi, plastik, serta kain telah dipersiapkan sejak konflik terjadi.</p>
<p>”Di setiap rumah, perlengkapan itu diletakkan di dekat pintu. Jadi sewaktu-waktu tinggal angkut saja. Kami perempuan dan anak-anak ditinggal di rumah. Suami saya bersama laki-laki lain yang bisa berlari secepatnya lari ke gunung,” kata ibu lima orang anak ini.</p>
<p>Perempuan, anak-anak, dan para lanjut usia biasanya akan tinggal di rumah, atau berkumpul bersama tetangga, atau juga mengungsi di masjid. ”Kami merasa lebih aman mengungsi di masjid. Kalau pun mau dipukul, ditembak atau bahkan mati sekalipun, kami ada di rumah Allah,” ujar Iyak.</p>
<p>Menurut Iyak, pada umumnya kaum lelaki lari saat pasukan tentara masuk desa karena menghindari aksi tindak kekerasan oleh tentara. Mereka, kata Iyak, sering menyangka dan menuduh warga sipil laki-laki yang tengah berada di rumah adalah anggota GAM yang sedang menengok keluarga. ”Sudah banyak pengalaman begitu. Tiba-tiba suami atau anaknya dibawa, lantas dipukul dan bahkan ditembak mati.”</p>
<p>Diakui Murni bahwa remaja, pemuda, atau bahkan bapak-bapak akhirnya lari ikut ‘orang gunung’ karena tidak tahan disiksa. Perempuan dari Desa Panton Luas itu mengungkapkan, banyak anak remaja laki-laki memilih meninggalkan bangku sekolah dan kemudian menjadi anggota GAM. “Sekolah libur. Tinggal di rumah sendiri tidak aman. Anak-anak sekecil itu ikut-ikutan dipukul kalau ada operasi. Makanya lari ke gunung jadi orang gunung.”</p>
<p>Ketua pemuda Desa Jambur Papan, Udin mengakui hal yang diungkapkan Murni. Ia masih SMP kelas tiga saat ikut para lelaki di desanya mengungsi ke gunung. Saat di gunung, mereka bertemu dengan beberapa kawan tetangga desanya yang telah menjadi kombatan.</p>
<p>“Saya ikut mereka karena kesadaran sendiri dan sama sekali tidak dipaksa. Toh sekolah saya diliburkan entah sampai kapan. Sementara untuk tinggal di desa saya tidak mau lagi. Saya pernah ditinju berkali-kali oleh orang-orang itu-TNI. Lebih baik saya lari mengungsi ke gunung dan jadi orang gunung,” kata bujangan ini.</p>
<p>Lalu ia pun resmi menjadi kombatan dan dilatih berbagai ketrampilan perang. Dua tahun ia menjadi gunung, sebelum akhirnya turun dan langsung mencari anggota keluarganya di pengungsian. ”Tidak enak juga jadi orang gunung. Selalu was-was memikirkan keluarga yang masih tinggal di desa. Tidak bisa membela jika keluarga dipukuli atau disiksa. Perasaan selalu tidak enak,” tambah lelaki yang sangat gemar bermain sepak bola ini.</p>
<p>Anggota kombatan yang sekarang aktif sebagai anggota Komisi Peralihan Aceh, Abi dari Desa Krueng Kluet juga mengalami hal yang sama. Ia memilih ikut angkat senjata karena tidak tahan mendapat siksa manakala masih tinggal di desa bersama keluarganya. Saat menjadi kombatan, bersama kawan-kawannya ia sering memberi informasi ke warga desa bahwa ada pasukan TNI - Polri masuk dari wilayah Kota Fajar, Kluet Utara. Tak jarang ia juga menyuruh warga mengungsi ke arah Menggamat, Kluet Tengah.</p>
<p>”Kami tidak tega mendengar masyakat disiksa begitu. Gara-gara kami, masyarakat tewas. Makanya kami tarik usulan agar masyarakat mengungsi,” kata lelaki yang tidak tamat SMP ini. Kata dia, dalam setiap kontak senjata masyarakat kerap menjadi sasaran dan korban.</p>
<p>”Mengapa para pria mengungsi? Dulu pengalaman saya, saya sedang di rumah saat ada kontak senjata di desa Kampung Tinggi. Kemudian pasukan tentara mencari orang gunung yang terpecah-pecah hingga desa kami. Karena saya di rumah, saya diambil, dipukuli, dinjak-injak.” Kampung Tinggi seperti kata Abi merupakan desa tetangga desanya.</p>
<p>Abi juga mengisahkan, ”Ada juga tetangga kami yang tewas disiksa hingga mati. Dia agak berewok. Tentara mengira dia panglima GAM. Habis. Disiksa sampai tewas di tempat. Setiap ada masyarakat yang mati, apalagi wajahnya berewok, nanti yang masuk koran disebutkan Panglima GAM tewas. Padahal mereka hanya masyarakat biasa,” ungkap bapak satu anak ini.</p>
<p>Sebagai mantan kombatan ia mengaku salah, terutama pada masyarakat. Namun, hingga kini ia mengaku tidak rela masyarakat menjadi korban. “Jelas yang kami kerjakan itu salah. Tetapi untuk apa sama masyarakat dia balas. Keadilan tidak ada makanya kami memberontak.”</p>
<p>Baik Udin maupun Abi mengaku lebih bahagia dan tenang dengan kondisi sekarang. ”Konflik telah berakhir. Kami berharap perdamaian terus berjalan dan saling dijaga. Jangan sampai ada kontak senjata lagi sebab yang sangat disengsarakan adalah masyarakat biasa,” kata Udin.</p>
<p>Abi pun berharap sama, generasi penerus bangsa hidup dalam suasana damai. ”Biarlah anak-anak belajar dengan tenang. Tidak seperti kami yang terpaksa putus sekolah karena ikut perang. Di pundak mereka masa depan Aceh saya yakin akan cerah jika tidak ada lagi kekerasan,” ujar Abi mantap seraya mengeleng-gelengkan kepala pada anak lelakinya yang baru berusia 13 bulan.</p>
<p>(Oleh: Ninuk Setya Utami - Information and Advocacy Officer Youth Project)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jrs.or.id/wordpress/2010/02/19/perempuan-perempuan-di-daerah-yang-dicap-hitam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
