Tak Ada Tempat Lagi Untuk Kembali
“Bu, pokoknya kami akan tetap tinggal disini. Kalau pindah, mau pindah kemana lagi. Kami sudah tidak punya tempat selain disini”. Ucapan Bu Barisah ini masih tetap segar diingatanku meski sudah lebih tujuh bulan yang lalu aku dengar. Kegelisahan janda usia 60 tahun yang belum pernah melahirkan ini terbayang dari sorot matanya yang memerah.
Jauh dari tempat tinggal Ibu Barisah yang berada kawasan lokasi relokasi di Batangtoru, kegelisahan senada tergetar dari Bu Surayem, peranakan Tegal, Jawa Tengah yang tinggal bersama ibu, suami dan anaknya di Sei Minyak. “Lha nek digusur, terus arep manggon neng endi“, kalimat dengan bahasa Jawa ini keluar ketika meanggapi issue reloksi karena tempat tinggalnya adalah kawasan konservasi yang tidak boleh untuk tempat tinggal.