Menolak Bala di Hari Rabu Habeh: Sebuah Sinergi Dukun dan Teungku Untuk Melindungi Desa
Hari Rabu terakhir (Rabu Habeh) pada bulan Safar, bulan kedua Hijriah, adalah hari yang khusus bagi penduduk desa di Aceh Selatan khususnya dan Nanggroe Aceh umumnya. Pada hari itu, penduduk desa berkumpul di pinggir sungai atau pantai bagipenduduk desa pesisir, mereka menghayutkan sesaji, sebagian orang mengaji dan melafalkan tahlil, selama setengah hari. Surat yang dibaca, biasanya Al Baqarah, QS Al Kahfie dan Surat Yasin. Saat itu seluruh warga desa, mengadakan upacara tolak bala (musibah). Bala dalam alam pikiran mereka, adalah penderitaan yang disebabkan oleh roh-roh halus, seperti penyakit dan kemalangan-kemalangan lainnya. Ketika seorang kakek di Koto Indarung ditanya, apakah menolak bala termasuk mencegah bencana, seperti banjir dari Sungai Kluet misalnya, dia menjelaskan masalah bencana adalah masalah kuasa alam, tidak berhubungan dengan roh-roh, sedangkan upacara tolak bala dimaksudkan untuk mengusir roh-roh yang bias mengganggu di desa.
Di desa Koto Indarung dan Siurai-urai, sejak jam 8 pagi, seluruh warga ramai-ramai pergi ke pinggir sungai Kluet, mendirikan tenda, dan rumah-rumah pun sepi terkunci. Untunglah banyak keluarga di Koto Indarung dan Siurai-urai memiliki tenda, pemberian saat mereka mengungsi masa konflik dulu. Mereka mendirikan tenda di pinggir aliran sungai di Dusun Tengah, yang kini telah semakin bergeser ke arah barat dan menjauh dari garis batas desa, sehingga penduduk harus melewati jalan licin bebatuan bekas aliran, dan juga endapan-endapan sungai yang telah telah ditumbuhi semak.